Malam itu berjalan seperti biasanya, hanya
saja rintik-rintik air hujan yang cukup deras yang membuat sedikit berbeda.
Seolah-olah langit pun merasakan kegalauan hati Neva, dengan pandangan kosong
keluar jendela Neva pun termenung akan kejadian tadi pagi yang membuatnya
sangat gelisah.
“Nev, sebenernya gue suka sama lo
udah lama. Selama ini gue cuma bisa pendem perasaan itu, tapi sekarang udah ngga
bisa lagi. Gue mau lo tau semuanya, gue serius Nev. Gue mau lo jadi orang yang
paling spesial di hidup gue. Lo ngga usah
jawab sekarang, gue tunggu jawaban lo tiga hari lagi.”
Pernyataan seorang cowok yang
bernama Mario itulah yang membuat Neva bingung setengah mati. Tadi pagi cowok
yang udah 2 tahun Neva kagumin itu menemuinya sepulang sekolah di depan gerbang
dan tidak ada petir, badai bahkan hujan angin Mario nembak Neva. Pastinya Neva tidak
percaya apa yang Mario katakan padanya, tapi pagi itu benar-benar kejadian
nyata yang selama ini Neva tunggu-tunggu dan mungkin hanya sebatas mimpi yang tidak
mungkin terjadi.
Tapi semuanya berubah menjadi
dilema bagi Neva. Setelah Mario pergi dari hadapannya, tiba-tiba seorang cewek centil
bin popular satu sekolahannya ngelabrak Neva,
“Heh lo! gue tau barusan Mario
nembak lo, denger ya sampai lo nerima dia, lo bakalan bermasalah sama gue. Dia
orang yang paling gue cinta, apa aja gue lakuin demi dia. Jadi gue harap lo
ngerti apa yang gue omongin.“
Cewek itu pun pergi dengan menebarkan senyum
sinis, Neva tau cewek yang melabraknya tadi itu namanya Sinta. Sinta itu anak IPS 2
yang sekelas sama Mario, dia terkenal dengan kecantikan wajahnya sekaligus
profesinya sebagai model delay alias model yang tak kunjung tenar.
Neva
sangat bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Malam itu dia benar-benar
berfikir keras, dia sangat menginginkan Mario dari dulu sejak zaman SMP kelas 3
sampai sekarang. Tapi.. tapi Neva sangat pantang untuk memiliki musuh, dia tau
resiko yang akan dihadapinya kalau dia nerima Mario. Bisa-bisa satu sekolahan bisa
musuhin Neva tanpa peringatan.
Akhirnya Neva mengambil ponselnya
dan menghubungi sahabat yang sangat mengerti dan tau semuanya,
“Hallo? Indri? ” ucapnya pelan.
“Iya benar saya Indri ada yang
bisa saya bantu mbok?” jawab Indri dengan nada centil.
“Kurang asem lo! Indri gue serius
pliss bantu gue.”
“Hahaha, maap deh. Pasti masalah
yang tadi pagi kan?” Neva hanya mengangguk seolah-olah Indri bisa melihat
anggukannya.
“hmm menurut gue, lo ikutin aja
kata hati lo. Tapi Nev.. bahaya juga kalo lo bermasalah sama nenek lampir Sinta
itu. Lo jangan nerima dulu Mario untuk sementara waktu, lo liat sampe mana
perjuangan Sinta untuk ngedapetin Mario. Pasti nenek lampir itu bakal cape
sendiri kalo emang Mario tuh serius suka sama lo” ucap Indri panjang lebar
sambil mengunyah roti coklatnya.
“Omongan lo ada benernya juga,
kayanya gue setuju. Thanks honey.. lo emang sahabat gue yang nomer 1 tapi gimana kalo Mario jadi ilfeel sama gue
dan dia ngga akan suka sama gue lagi, gue bingung gue pengen banget punya pacar
kaya dia dari dulu, lo tau sendiri selama ini gue emang suka, gue bener-benn…”
Tiba-tiba Indri memotong
pembicaraan,
“Heh lo tuh nyerocos nya kaga
ketulungan ya, dengerin gue dulu kalo emang si Mario tulus sama lo, pasti dia ngga
akan putus asa ditolak sama lo, dia pasti merjuangin cintanya. Tapi kalo
kenyataannya beda, lo harus ambil resiko Nev. Tapi lo juga gamau kan satu
sekolahan ngucilin lo, itu bakal ngeganggu lo banget. Lo tau sendiri Sinta itu cewek
nekad yang sanggup ngelakuin apa aja psikopat abis daah, jangan deh Nev.. gue
gamau sahabat gue galau tiap hari disekolah, ntar yang ada gue bakal
ikut-ikutan jadi anak autis.”
“Yee
lo sih emang udah autis dari jaman Belanda kale, iya bener juga Ndri. Gue
ikutin saran lo, tapi gimana gue nolaknya ? gue harus ngomong apa?”
“Enak
ajaa lo, bilang aja sama Mario..
Mario
ganteng gue ngga bisa jadi pacar lo sayaang.. gue dilabrak sama nenek lampir
Sinta yang tergila-gila sama lo, kalo gue nerima lo bisa-bisa gue disihir jadi
tokek budug sama ntu orang. Maafin gue ya, semoga lo ngerti gue juga sebenernya
sayang sama lo udah lama tapi mau gimana lagi. Kalo lo mau, kita musnahin aja
ntu nenek lampir bareng-bareng, kita culik dia terus kita buang ke Papua biar
dia jadi model paling cantik disana dan akhirnya bisa tenar se-Papua.”
Seketika
Neva tertawa cekikikan dan berkata,
“Parah lo Ndri hahaha udah
ngantuk ya? ngaco kaya begitu, masa iya gue bilang gitu bisa-bisa Mario mengo
setengah mati. Alesannya gue mau fokus belajar dulu aja gimana tuh?”
“Emang gue ngantuk, lo kenapa ngga
nutup telefon biar gue bisa tidur hahaha. Hmm menurut gue agak terlalu so rajin
sih ya sama basi banget, bilang aja lo belum siap pacaran sama dia. Hoamm.”
Indri
pun menguap berulang kali menahan rasa kantuknya.
“Eh iya maap lagi doong Ndri..
iya udah sana gih tidur. Aduuh makasih banget banget deh berkat lo gue bisa
tidur dengan tenang. Dadaah sampe ketemu besok ya cyiiin.”
Tidak ada balasan yang ada hanya
bunyi tutututut..
“Dasar ini anak langsung maen
tutup aja padahal kan gue belum selesai ngomong.”
Neva pun berbaring dikasurnya dan
memasang musik mellow kesukaannya, sembari dia memejamkan matanya, dia terus
berfikir betapa dia sangat beruntung bahwa Mario bisa suka dengannya, namun
dilema itu membuatnya merelakan apapun yang terjadi bahkan mengorbankan perasaannya
sendiri. Setidaknya Mario bisa terus ia kagumi walau bukan miliknya. Semua
pasti berjalan dengan baik. Seketika Neva pun terlelap ditengah pekatnya malam
yang senantiasa ditemani oleh gerimis sang mega yang kesepian karena bulan tak
Nampak malam itu.
Keesokan harinya dimeja makan,
“Nev..
pulang sekolah langsung kerumah yaa. Anterin bunda nyalon sebentar” ujar bunda
Neva sembari menyiapkan sarapan pagi.
“Aduuuh
bunda baru aja kemaren-kemaren nyalon masa mau nyalon lagi sih.”
“Ini
kuku kaki mamah copot satu Neva sayang, ngga bisa dibiarin dong gimana kalo
jadi infeksi atau busuk di dalem kan..” belum
sempat bundanya menyelesaikan omongannya Neva langsung berkata,
“Iyayayaya siap bunda.”
Bunda Neva memang sudah menginjak
umur 38 tahun, tapi seiring bertambahnya umur layaknya mayoritas ibu-ibu
lainnya yang semakin keibu-ibuan, justru sebaliknya. Bunda Neva ini memang
unik, dia tidak ingin kalah dengan anaknya yang semakin menginjak dewasa,
sebisa mungkin dia ingin terlihat muda tidak jauh dari anaknya. Dia selalu
ingin tampil modis dan selalu ingin menjadi bunda yang terbuka untuk anaknya.
Neva sangat senang mempuyai bunda yang bisa dijadikan tempat curhat baginya,
namun sayangnya terkadang sifat bundanya yang selalu ingin update dengan
fashion zaman sekarang membuat ia repot. Neva memang anak tunggal
dikeluarganya, tak heran sejak kecil ia sangat dimanja oleh bunda dan ayahnya.
Ayahnya bekerja sebagai direktur bank ternama di Bandung sehingga untuk masalah
ekonomi, keluarga ini sangat hidup berkecukupan, namun tetap saja bunda Neva tidak
ingin memperlakukan anaknya sangat manja, Neva di didik agar menjadi remaja
yang rendah hati dan tidak menampakkan segalanya, tetap menjadi pribadi yang
sederhana dan mau berteman dengan siapa saja itulah ajaran bunda yang selalu
Neva pegang.
Sehari-harinya mereka hidup di
sebuah rumah cukup megah di kawasan Dago, mereka ditemani oleh seorang pembantu
yang bernama bi Nyai yang senantiasa mengurusi semuanya mengenai kebersihan dan
pekerjaan rumah. Bahkan Bi Nyai ikut andil dalam membentuk kepribadian Neva
sampai sekarang. Neva gadis 17 tahun yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA
Pasundan yang mengambil jurusan IPS karena menurutnya, IPS itu indah dibanding
IPA yang bisa mempertemukannya dengan pelajaran Fisika. Bersama Indri
sahabatnya, hari-hari terasa begitu sempurna. Indri sahabat dekatnya sejak
kelas 1 SMP, mereka berbeda jurusan Indri anak IPA karena dia memang genius,
mereka selalu bersama saat istirahat ataupun pulang sekolah.
Wajah Indri yang sangat Indonesia
sekali dengan kulit sawo matang, hidung mancung, rambut ikal tergerai
membuatnya tampak manis sekali. Sedangkan Neva, iya sangat cantik kentara
sekali kecantikan bundanya yang diwariskan kepadanya terlihat sempurna dengan
alis yang tebal seperti ayahnya, matanya selalu berbinar bewarna coklat terang sehingga
orang-orang selalu ingin menatapnya, giginya putih bersih dengan gingsul yang
membuatnya semakin manis, kulitnya yang putih serta hidung dan bibirnya yang mirip
sekali dengan neneknya itu membuat dia sangat mempesona ditambah rambutnya yang
lurus dan panjang. Namun Neva tidak sama sekali memperlihatkan itu, ia tetap
beranggapan bahwa dirinya biasa saja sama seperti yang lainnya. Prinsipnya
kecantikan itu tidak hanya dari luar, wanita akan terlihat cantik tanpa harus
mengumbarnya. Semakin kita pintar untuk menyembunyikan kecantikan kita, semakin
orang lain penasaran dan akan mengetahui dengan sendirinya bahwa kita
benar-benar cantik. Itulah Neva, gadis sederhana yang tidak pernah mau untuk
meninggikan apa yang ia miliki kepada orang lain, hal ini yang membuat Indri
sangat kagum kepadanya dan mungkin hal itu pula yang menyebabkan Mario cowok
ganteng dan terkenal aktif pula di bidang organisasi sekolah seperti OSIS, menyadari
pesona Neva yang luar biasa itu sehingga nekad untuk nembak Neva. Selain itu,
mereka juga mempunyai banyak kesamaan, Neva dan Indri sama-sama anak tunggal
dikeluarganya, roti coklat jenis apapun adalah makanan favorit mereka, keluarga
mereka pun sudah saling mengenal. Tak heran jika keduanya kerap dianggap
bersaudara karena mereka selalu terlihat bersama dan sudah tradisi di akhir
pekan mereka bisa bebas saling menginap di rumah keduanya, liburan bersama,
bahkan kedekatan mereka lebih dari saudara, seolah mereka seperti menyatu satu
sama lain.
“teng..teng..teng”
Bel sekolah
yang menyerupai bunyi odong-odong itu berdering pertanda pelajaran ibu Mita
guru sejarah yang nyaris tidak pernah tersenyum itu berakhir, tak lama Indri pun
menampakan kepalanya di pintu kelas untuk menunggu ibu Mita itu keluar.
“Heh,
perasaan guru sejarah lo gitu banget deh..” ujar Indri menghampiri Neva yang dari tadi nguap
gajelas.
“Iya emang gitu, tau ga lo? pelajaran
sejarah itu kan ngebetein abis nah harusnya gurunya menarik dong biar
murid-murid ngga ngantuk dengernya, ya sengganya ngga harus cantik gimana gitu
ya tapi minimal menarik perhatianlah, ehh ini boro-boro menarik ngejelasin aja
suaranya pelan banget kaga ada ekspresinya lagi. Suram bangetlah itu guru.”
“Hahaha kasian banget lo, sabar
aja deh justru dengan kaya gitu lo harusnya ngga tergantung sama guru. Lo
belajar mandiri biar bisa nanti pas UN” Indri mulai membuka kotak makananya.
“Yee
itu sih elo yang emang pinter, gue males banget kaya gitu Ndri. Mending tidur
aja deh lagian ngapain kita belajar sejarah yang udah basi sih?” Neva
menggerutu kesal sembari memutar-mutar pensilnya.
“Dasar
pemalesan lo, sejarah itu penting banget
Nev, kita bisa belajar dari masa lalu kan ngga ada masa lalu ngga aka nada juga
masa depan, semua berawal dari masa alu Nev” Indri mulai melahap roti coklat
kesukaanya.
Neva
terdiam, bukan memikirkan kata-kata Indri tadi apalagi mikirin ibu Mita. Neva
teringat kembali akan misi besarnya untuk berbicara pada Mario, dia tidak yakin
apa ia sanggup untuk menolak cinta dari Mario. Indri yang dari tadi ngeliat
sahabatnya termenung sambil mangap-mangap dengan jailnya memasukan sedikit roti
kemulut Neva dengan paksa.
“Puihh
apaan sih lo Ndri! jail banget” ujar Neva terkaget-kaget.
“Hahaha
abisnya lo ngelamun ngga ada seninya amat sampe mangap gitu, mikirin apasih?”
“Gue
ngga yakin gue berani ngomong sama Mario, gimana dong? lo mau ya temenin gue
ngomong sama dia nanti pulang sekolah? sebenernya sih dia ngasih waktu 3 hari
buat gue mikir-mikir tapi ini harus diselesein cepet-cepet, gue ngga tahan di
liatin Sinta itu Ndri.“
“Hmm,
yakin lo? oke deh gue temenin tapi gue cuma ngedampingin lo aja ya jangan harap
gue bantu lo ngomong” ujarnya sembari bersiap-siap keluar kelas karena bel
masuk sudah terdengar sejak tadi.
Tanpa
menjawab Neva pun kembali berfikir dan berharap agar nanti pulang sekolah ia
benar-benar bisa untuk mengatakan semuanya di depan Mario cowok ganteng yang
bisa bikin cewek satu sekolahan histeris kalo menatap cowok itu.
Saat bel pulang tiba, Neva dan
Indri sudah standby di depan gerbang sekolah untuk mencegat Mario. Setelah lama
menunggu akhirnya cowok tinggi yang cool abis itu muncul dari kejauhan, dan
ketika mendekati gerbang Neva memanggilnya,
“Mario, gue mau ngomong sesuatu
ke lo.”
Mario pun sedikit heran dan
mengangkat alis tebalnya,
“Sama gue?”
“Iya siapa lagi, lo Mario kan? apa
udah ganti nama tapi gue kaga tau?”
Mario tertawa dan menghampiri
Neva yang semakin gemetaran,
“Iya
cantik, silahkan mau ngomong apa?”
“Guue..
ma-ma-u” Neva mendadak gagap, Indri terus menyenggol Neva pertanda Neva harus
benar-benar berani.
“Iya
lo ngomong apasih? gajelas gitu?” tanya Mario heran.
“Gugugue..” Neva tetap gagap.
Indri yang kesal langsung angkat bicara,
“Ah kelamaan lu, gini Mario Neva
mau jawab semuanya, dia ngga bisa nerima cinta lo. Dia dia belum siap untuk
jadi pacar lo, mendingan lo cari aja yang lain.”
Mario mangap ngedengerin Indri
ngomong,
“Apa itu bener Nev?” tanya Mario,
dan Neva hanya menunduk dan menganggukan kepalanya.
“Tapi kenapa? gue yakin ko lo
yang terbaik lagian gue tau lo juga sebenernya ada rasa sama gue.”
“Maaf Mario, bukan maksud gue
buat nolak lo mentah-mentah kaya gini tapi tolong ngertiin alesan gue, gue
belum siap.”
“Belum
siap berarti suatu saat nanti lo bisa siap kan?” Neva diam mendengar itu.
“Nev
gua bakal nunggu lo, tenang aja” Mario mengedipkan satu matanya.
Neva
pun pergi karena tidak tau harus berkata apa lagi,
“Mario,
Indri gue duluan, udah ditunggu bunda” Indri terheran-heran melihat Neva.
“Sabar
ya Mario, mungkin belum saatnya” Indri menenangkan Mario yang tampak syhok saat
itu.
“Iya
gue tau, kalo dia jodoh gue pasti ngga akan kemana kali, makasih ya Ndri.. gue
cabut duluan yoo! bye..” Mario pun pulang.
“Bye..
hmm andai lo tau Mario, kalo Neva itu emang suka sama lo, dan sekarang dia
terpaksa ngebohongin perasaan dia sendiri demi menghindar dari resiko masalah
yang akan dia hadepin kalo ampe kalian jadian, hmm kisah cinta yang tragis” ucap
Indri dalam hati sembari berjalan pulang.
Di
salon langganan bunda Neva, Neva asik termenung sembari menunggu bundanya
memanjakan diri. Satu
jam berlalu, Neva sudah sangat suntuk di dalam salon itu, alhasil Neva pun
memutuskan untuk mencari makanan,
“Gila.. lama-lama bisa jadi fosil
spesies baru kalo terus gue nunggu bunda disitu” celoteh Neva.
Akhirnya burger plus ice cream
vanilla menjadi pilihan Neva, sembari melahab itu semua ia duduk di sebuah
bangku yang disediakan untuk umum. Tak lama tiba-tiba datanglah seorang cowok berperawakan
tinggi duduk di sebelah Neva. Neva tidak menggubrisnya dan asik saja memakan
burger nya. Cowok itu duduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kentara sekali bahwa cowok
itu sedang gelisah dan galau. Neva tetap bertahan dengan burgernya. Dan
akhirnya terdengar suatu isakan kecil
yang tak lain berasal dari cowok itu, kali ini Neva tertarik untuk menoleh kearah
cowok disampingnya.
“Ya ampun, kenapa ni cowok? hmm
gue harus gimana nih” ucap Neva dalam hati.
Dari sana isakan cowok itu tidak berhenti, Neva bingung apa yang harus dia
perbuat. Jahat sekali jika ia pura-pura tak mendengar lalu pergi, tapi kalau
tiba-tiba Neva bertanya dan so perhatian juga terkesan sangat tidak logis. Neva
benar-benar bingung, akhirnya ia mencolek bahu cowok itu.
Tak ada reaksi apapun yang ada
hanyalah isakan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Neva memberanikan
diri untuk bicara,
“Maaf ya, kalo mau nangis jangan
disini malu tau, lo kan cowok. Cowok itu pantang untuk nangis, atau jangan-jangan
lo lagi latihan untuk ikut casting sinetron? hehehe” ujar Neva dengan polosnya
dan tawanya yang garing karena memang tidak ada yang lucu dari apa yang ia
katakana tadi. Tak ada balasan namun cowok itu berhenti terisak dan mengusap
air matanya, lalu melirik Neva sebentar dan akhirnya beranjak pergi dari kursi
itu.
Neva garuk-garuk kepala walaupun
kepalanya baik-baik saja, apa ia salah barusan? yang jelas cowok itu sangat
unik. Meskipun hanya sedetik mereka bertatap muka namun Neva ingat betul
bagaimana wajah cowok itu. Sangat tampan dan klasik, dengan hidungnya yang
mancung , kulit sawo matang dan memerah karena menangis, matanya yang coklat
bening merupakan suatu kesatuan yang membentuk sosok cowok itu. Tidak bisa di
bilang wajah blasteran, itu wajah Indonesia asli.
“Keren juga mukanya tapi sayangnya
misterius amat tu cowok.”
Malam hari, saat Neva sedang
melamun diriingi oleh alunan music slow Adele, tiba-tiba bayangan wajah cowok
yang tadi siang Neva temukan di mall itu muncul seketika, sangat jelas sekali
bagaimana detik-detik disaat cowok itu melirik Neva, tatapannya sangat magis.
Bukan tatapan keraguan bahkan tatapan sinis, itu tatapan halus seolah menarik
Neva untuk lebih mencari tahu tentangnya.
“Apasih yang lo pikirin Neva?
hello cowok itu cuma orang lain yang kebetulan gue temuin, dia bukan
siapa-siapa pliss. Ada Mario yang selalu nunggu lo inget! aaah.” Neva berbicara
di cermin seolah ia berkata kepada dirinya sendiri. Rancu sekali tragedi siang
tadi, tapi mengapa harus selalu terbayang-bayang sangat jelas, dan akhirnya
Neva terlelap dalam bayangan wajah cowok misterius itu.
Bel istirahat tiba, Indri
langsung menghampiri meja Neva karena memang meja itu di desain khusus bagi
setiap muridnya untuk satu orang jadi tidak ada kata temen semeja.
“Nev tau ga lo? ada murid baru di
kelas gue, cowok super ganteng! akhirnya Nev gue nemuin tipikal yang gue suka,
itu cowok sempurna banget. Mukanya Indonesia banget dan dia ngga sombong,
senyumnya ituloh seakan menghipnotis gue abis-abisan” Indri menarik nafas
karena selama dia bicara dia tidak sempet tarik nafas.
“Waah?
baru kali ini gue liat lo suka sama cowok Ndri!! akhirnya lo normal terimakasih Tuhan.”
“Kurang
asem lo, emang belum ada yang pas aja kali. Tapi sekarang udah ada Nev, lo harus bantuin gue
pliss.”
“Iya pasti, gue jadi penasaran
banget sama cowok itu, namanya siapa?”
“Nanti pulangnya lo ke kelas gue
aja ntar gue liatin, dia duduk di depan ko. Namanya Renaldi Traditya, kalem
banget sama ramah banget dia pindahan dari Jakarta loh” jawab Indri antusias.
“Oke
ntar gue liat deh jadi ngga sabar, tapi si Renaldi itu jomblo emangnya?”
“Jomblo
Nev!!, soalnya pas dia ngenalin diri si Ijul cowok slengean itu nanya dia udah
ada yang punya apa belum dan tau ga si Renaldi jawab apa?”
“Ijul
temen lo parah banget harusnya cewe kali yang nanya kaya gitu! emang jawab
apa?”
“Dia
jawab, belum” jawab Indri puas.
“Yampuuun
gitu doang? amit dah lo dikira gue jawabannya apa gitu yang lebih manusiawi dan
panjang.”
“Tapi
satu kata itu bagaikan segudang kebahagiaan buat gue Nev” Indri tersenyum
simpul.
“Ceilaah
yang lagi kasmaran, gue doain dan pasti bantu lo deh yaa!”
“Iya
makasih Nev, gue ke kelas dulu ya gue tunggu pas pulang” dan Indri pun meninggalkan
kelas.
Neva
yang tadinya mau ke kantin mengurungkan niatnya karena dia benar-benar tidak menyangka
bahwa akhirnya Indri kasmaran, sejak SMP setau Neva Indri acuh tak acuh dengan
makhluk yang namanya cowok. Padahal kalo mau diitung berapa cowok yang naksir
Indri dari yang usaha mandiri untuk ngedeketin Indri sampe yang minta bantuan
Neva, dari yang tinggi sampe yang pendek, dari yang mukanya highclass blasteran,
oriental dan maskulin sampe yang di bawah rata-rata nyaris mirip sama manusia
bangsa purba nampaknya tak terhitung lagi jumlahnya. Neva cuek dan dingin menanggapi
cowok yang naksir kepadanya. Dan hari ini seakan kapal laut yang berubah
haluan, seakan benteng kokoh dalam hati Neva yang tiba-tiba runtuh, Neva naksir
cowok.
Bel
pulang berdering nyaring yang lebih mirip bunyi tukang icecream keliling, Neva
langsung membereskan buku-bukunya dan langsung berlari keluar padahal Bu Ina
guru akutansi baru hendak berdiri dan geleng-geleng kepala melihat aksi Neva
yang mendahuluinya keluar. Kelas Indri memang cukup jauh dari Neva namun itu
tak berarti apa-apa bagi keduanya untuk tetap saling bersama. Sedikit lagi
kelas Indri, Neva semakin terburu-buru apalagi dilihatnya penghuni XI IPA 2
sudah mulai berhamburan keluar kelas. Sampai
di depan pintu kelas, Neva menyeruak masuk dan “Braaaak”, sesuatu menabraknya
dari depan atau lebih tepatnya Neva menabrak sesuatu karena ia memang tak
memperhitungkan penglihatan dan jaraknya saat masuk.
Neva terjatuh dan tas gendongnya
pun sama nasibnya,
“Aww” Neva mengerang kesakitan
sembari memegang sikutnya yang sedikit lecet, sedangkan sosok didepannya sosok
itu tetap berdiri tegak didepannya. Seketika Neva melihat wajah sosok itu dan
ternyata,
“Itukan cowok yang nangis ngga
jelas di mall itu!” ujarnya dalam hati.
Tak lama Indri menghampiri,
“Loe ngga apa-apa? make jatuh
segala sih lo!” Indri membantu Neva berdiri, Neva masih ternganga kaget dengan
apa yang dilihatnya sekarang.
“Lain kali, santai aja lagi kalo
masuk ke kelas orang” ujar cowok itu dan langsung beranjak pulang ke luar
kelas.
“Nev,
itu dia yang gue ceritain tadi, dia Renaldi!” ujar Indri antusias.
“Seriusan
lo? mana yang katanya ramah itu? orang tadi dia galak dan judes banget sama gue.”
“Ia
tapi dia emang ramah Nev, tidak tau deh kenapa sama lo dia bisa kaya gitu!
belum kenal mungkin lagian emang lo yang duluan nabrak dia tau.”
“Ngga
mungkin, dia udah ta..” seketika
neva menghentikan omongannya itu.
“Udah tau lo? ko bisaaa?” tanya
Indri mendesak.
“Eh bukan, maksud gue udah tau
gue satu sekolahan sama dia maksudnya” Neva ngeles.
Mereka pun berjalan ke luar
gerbang,
“Gantengkan Nev? cool, dingin,
tapi menurut gue dia tuh misteri banget.”
“Hmm lumayan, tapi juteknya kaga
ketulungan, salah gue apa coba make judes banget kaya gitu.”
“Ya jelas salah lo itu nabrak
dia, harusnya lo yang minta maap ke dia.”
“Minta maap? ogah banget, ko lo
jadi bela dia sih?” ujar Neva kesal.
“Bukan
belain dia kaliii, emang lo yang salah.”
Sesampainya
di gerbang, ternyata Renaldi sedang duduk di motornya yang keren banget itu.
“Eh
Nev, liat deh! Itukan Renal gih minta maap gue anterin!”
“Ha?
males ah, ntar juga dia lupa.”
“ngga
bisa gitu dong, ayoo biar kalian akrab dan bisa nyomblangin gue!”
Akhirnya
dengan keterpaksaan yang teramat sangat demi sahabatnya yang baru perdana
kasmaran ini, Neva menghampiri Renaldi.
“Ehm,
heh maapin gue ya, tadi gue buru-buru baget” ujar Neva setengah hati.
Tapi
Renaldi hanya diam menatap Neva dingin lalu memalingkan wajah ke arah Indri dan
berkata,
“Eh Indri, minta no Hp lo dong, gue
kan murid baru dan gue ngga tau jadwal besok jadi gue minta tolong lo ya!”
Renaldi lalu mengeluarkan HP nya yang tidak kalah keren sama motornya yang
langsung bisa disimpulin bahwa ia cowok tajir.
Neva mati kutu, dia tak menyangka
bahwa Renaldi akan bersikap seperti itu, sama sekali tidak menggubris
permintaan maafnya dan langsung minta no HP Indri seolah-olah dirinya hanya
batu bahkan butiran debu disitu.
“Kurang asem banget ni cowok
berasa jadi kambing conge gue!!” ujarnya dalam hati dan muka Neva pun seketika
merah padam dan mundur satu langkah.
“Makasih ya Ndri ntar malem gue
telfon lo” dan Renaldi pun bergegas pergi dengan motornya.
“Nev, lo liat tadi? dia minta nomor
HP gue! ya ampuun ngga nyangka banget deh.”
“Iya gue liat, dan lo juga liat
kan? gue malu abis, tu cowok maunya apasih! pokoknya gue kapok dan gamau lagi
berurusan dengan dia! jadi lo harus usaha sendiri aja ya dan gue yakin lo bisa
ko tadi aja kayanya dia simpatik banget sama lo” ujar Neva kesal.
“Yahhh, gue juga heran banget
sama sikapnya tadi ke lo, tapi lo harus tetep dukung gue supaya gue bisa jadian
sama cowok itu ya!”
“Yampuun kenapa lo mesti suka
sama tu cowo aneh sih, coba kalo lo bukan sahabat gue pasti gue udah kasih tau
gue pernah nemu si Renaldi yang ganteng, tajir, kalem, ramah menurut lo itu
lagi nangis-nangis ngga jelas di mall” ujarnya tentunya dalam hati.
Malamnya suasana di kamar Neva
begitu hening, Neva yang sedang asyik membaca novel yang baru saja dibelikan
bundanya itu, karena Neva dan bundanya sangat gemar membaca novel, tak heran
kamar yang bernuansa biru muda itu dipenuhi oleh rak-rak yang berisi penuh
dengan novel. Tiba-tiba HP Neva berdering hebat memecah kesunyian,
“Hallo?”
“Lo Neva?”
“Iya siapa ni?”
“Renaldi.” Seketika Neva
ternganga tidak menyangka bahwa cowok yang tadi siang membuat dirinya gendok
setengah mati ini bisa-bisanya menelfon dia.
“Hmm, ada apa lo?” ujar Neva
ketus.
“Ngga,
gue cuma mau tanya tentang Indri. Setau
gue lo temennya yang paling deket kan?”
“Iya emang, gue sahabatnya dari
zaman dulu kala. Nanya apa?”
“Haha, hmm kayanya gue tertarik
sama dia.”
“Ha? asli lo? ko bisa? apa ngga
kecepetan?” Neva sangat kaget mendengar hal itu, dan tanpa ia sadari ada rasa
sakit yang merasuki hatinya saat itu.
“Ya bisa aja, dia cantik, pinter,
ramah. Lo bisa bantu gue?”
“Hmm bisa aja sih, tapi gimana ya
gue belom yakin apa lo pantes buat sahabat terbaik gue itu, lo kan jutek,
sombong, aneh.”
“Hahaha sembarangan lo, oke gue
bakal buktiin sama Indri dan lo, kalo gue itu cowok baik, oke gue minta lo
jangan bilang-bilang sama Indri dulu. Gue mau kita PDKT lama
banget biar gue sama dia bakal yakin satu sama lain. Lo bisa bilang gue aneh
kenapa?”
“Ya
soalnya jarang-jarang kan ada cowok nangis di mall.” Hening.
“Hahaha ternyata bener dugaan
gue, lo masih inget gue. Gue malu sama lo, lo cewek kedua setelah nyokap gue
yang bisa liat gue nangis makanya gue galak sama lo soalnya gue takut lo ngadu
ke Indri.”
“Yaiyalah gue inget, secara gue
masih muda bukan nenek-nenek yang gampang lupa, emang lo nangis kenapa sih?”
“Hmm
suatu saat gue pasti certain, gimana nih lo mau bantuin gue ngga?”
“Mau bantu ngga ya? hmm mikir keras nih gue”
“Ceilaah
jahat banget non, pokoknya lo bantu gue apapun caranya oke” Telepon pun
terputus, Neva mengurungkan niatnya untuk meneruskan membaca novelnya itu lagi,
ia membaringkan tubuhnya dan merenung. Dalam hatinya terbersit sedikit
kesedihan bahwa ternyata cowok yang selalu ia bayangkan dan fikirkan semenjak tragedi
di mall itu, ternyata dengan cepatnya jatuh hati pada Indri.
“Aduuuh,
mikir apa sih gue? lo gila ya Nev? harusnya lo seneng akhirnya sahabat lo bisa
nemuin orang yang tepat” ujarnya. Kini perasaannya benar-benar tak menentu,
dengan waktu yang singkat ia bisa begitu saja melupakan rasanya terhadap Mario
dan dengan kilat juga ia bisa menyukai seorang Renaldi. Dan lagi-lagi dilema
menghinggapinya, ia benar-benar tidak bisa memperjuangkan rasanya ke cowok itu,
ia sangat menyayangi sahabatnya. Ya
benar, lagi-lagi Neva harus mengorbankan perasaannya itu demi sebuah
kebahagiaan orang lain.
“Gue harus buang jauh-jauh
pikiran itu dari hidup gue..” dan seiring bintang yang tertelan oleh kabut
malam, Neva pun tertidur dengan pulasnya.
Esok pagi, Indri sudah standby di
rumah Neva yap seperti biasa mereka akan berangkat bareng ke sekolah, karena
rumah Indri pun tak jauh dari kediaman Neva hanya beda perumahan saja sehingga untuk
menuju rumah Neva ia hanya perlu naik ojeg atau becak.
“Ndri gapapa kita naek motor?
motor baru nih gue males minta mobil” tanya Neva sembari melahap sarapan
rotinya.
“Ya sebenernya ngga level sih,
tapi okedeh daripada kita kena macet” ujar Indri terkekeh.
“Belagu lo ya, hahaha oke nih
ambil helmnya kalo gue sih ogah pake helm ribet ah.”
“Loh? yaudah gue juga ngga mau
pake helm, kalo lo celaka gue juga pengen banget celaka.”
“Yeee ngikutin gue aja lo, co
cwiiith ih.” Neva mengedipkan mata sembari bergegas menuju halaman rumah untuk
memanaskan motor biru matic nya yang baru saja dibelikan oleh ayahnya. Setelah
pamit terhadap ayah dan bunda, mereka melaju menembus dinginnya pagi yang
mendung itu. Sesampainya
di pertigaan jalan menuju jalan raya, tiba-tiba sebuah motor hitam yang tak
sing lagi dimata mereka melaju cepat menyalip dan berhenti mendadak di hadapan
mereka. Otomatis Neva tersentak lalu mengerem mendadak motornya yang
menyebabkan dirinya membentur stir motor ditambah benturan dari kepala Indri
mereka pun saling berbenturan.
“Awww”
serentak mereka merintih kesakitan bersamaan. Lalu seseorang yang mengendarai motor hitam itu yang
sekaligus menjadi dalang utama tragedi ini pun membuka helmnya dengan tenang,
maka terlihatlah sosok cowok ganteng dan gagah dengan jaket coklatnya yang tak
lain adalah Renaldi. Renaldi dengan tenangnya menghampiri Indri yang sedang
mengusap-ngusap kepalanya yang terbentur,
“Lo
ngga apa-apa? sini gue usapin!” Renaldi lalu mengusap-ngusap kepala Indri,
Indri yang hanya ternganga melihat sikap cowok yang satu ini kemudian turun
dari motor.
“Ngga
apa-apa? sakit bangeeet gilaaa, apa-apaan sih lo make berenti mendadak di depan
gue? lo kira ini jalan emak lo yang bisa seenaknya berenti tanpa liat
pengendara lain?” sentak Neva dengan cukup emosi.
“Nyantei
nona, galak banget kaya anjing galak depan rumah gue aja, gue cuma mau
ngejemput Indri kok.” Renaldi mengedipkan satu matanya terhadap Indri yang
membuat cewek itu malu setengah mati.
“Hello? Indri kan udah semotor
sama gue kali, ya ngapain juga lo mau jemput dia?”
“Yeee, ya suka-suka gue dong lo
nyolot banget sih jadi cewek!” di sisi lain Indri mencoba menguasai dirinya dan
menarik nafas,
“Oke, Indri lo sama cowok sinting
ini aja ya, kan kalian sekelas jadi kalo kalian TELAT ya ngga apa-apa kalian
bisa cari alesan yang pas.” Ujar Neva menekankan kata telat karena memang mereka
pasti telat kali ini.
“Nah
loh, kalo lo telat gimana? gue ngga enak sama lo Nev” ujar Indri merasa
bersalah.
“Nyantei
aje, tinggal gue certain yang sebenernya hahaha” tawa Neva sinis.
“Ya
jangan dong, wah anak mamih lo ya tukang ngadu!” ujar Renaldi.
“Masi
mending gue dari pada lo anak dugong! lagian bercanda kali, tenang aja gue
masih manusiawi kaga kaya lo!” hardik Neva. Lalu Renaldi menarik tangan Indri untuk menuju
motornya sembari berkata,
“Ayo Ndri mendingan lo sama gue,
lebih aman dan ngga amatiran nyetirnya kaya temen lo itu” Renaldi tersenyum
simpul pada Neva. Seketika Neva terpana akan senyum itu, namun ia sadar ia tak
boleh seperti ini. Lalu motor Renaldi dan Indri melaju diatas rata-rata, lalu Indri
dengan riangnya melambaikan tangan,
“Dah Nevaa, ati-ati ntar
istirahat gue ke kelas lo yaa!” ujar Indri. Setelah mereka menghilang dari pandangan,
Neva merapihkan bajunya sembari menggerutu kesal,
“Kurang asem tu cowok, kenapa sih
gue harus berurusan sama dia. Mana ini sakit banget lagi kepala gue, tapi dia
malah ngatain gue pengendara amatiran, arrrghh sial!” keluh Neva sembari
menghidupkan mesin motornya dan bergegas menuju sekolah sebelum telat.
Bel sekolah pun berdering tepat
disaat Neva menaruh tas dibangkunya dan duduk dikursinya, meskipun dirinya tidak
telat tapi tetap saja perasaannya sangat tidak karuan karena kejadian tadi
pagi, ditambah sakit di kepalanya yang cukup memusingkan membuat Neva tak
berniat untuk memperhatikan Bu Ida guru geografinya. Padahal geografi adalah
mata pelajaran favorit Neva, sangat aneh memang karena teman sekelas Neva tak
satupun ada yang mempunyai niat untuk sekedar memperhatikan Bu Ida, pasalnya
guru itu sangat flat dan berbakat untuk menjadi pendongeng yang handal, maka
disaat Bu Ida memulai untuk menjelaskan, murid sekelas bukannya mempersiapkan
catatan bahkan sekedar mendengarkan, mereka mengambil ancang-ancang untuk mengambil
posisi tidur yang paling PW. Miris sekali, namun Bu Ida tetap berjuang tak
pantang menyerah walaupun diantara sekian banyak muridnya itu hanya Neva yang
terlihat serius mendengarkan dan mencatat penjelasannya itu.
Kali ini konsentrasinya hanya
terfokus pada kejadian tadi pagi, semilir dari suara Bu Ida hampir ia abaikan.
Neva membayangkan kejadian itu, disaat Renaldi sangat berniat untuk berangkat
bareng dengan Indri dengan segala cara, meskipun pada akhirnya Nevalah yang
harus menahan rasa sakit lahir maupun batin. Tak bisa ia pungkiri bahwa Neva
iri terhadap Indri yang sangat diperlakukan special oleh cowok itu, cowok murid
baru teman sekelas Indri yang baru saja ia kenal di mall itu. Mungkin itulah
cinta atas pandangan pertama, disaat Renaldi yakin akan Indri dia tidak ingin
basa-basi lagi, cowok itu bersikukuh mendekatinya tanpa ia lihat lagi
cewek-cewek cantik yang bejibun di sekolahnya. Dibayangkannya kembali pula
bagaimana cowok itu memberikan senyuman indahnya padanya, sedetik namun
berkesan menghipnotis dirinya ke alam bawah sadar bahwa ia benar-benar
terpukau. Tapi kembali ia disadarkan oleh kenyataan bahwa Renaldi sama sekali tidak
menyukai dirinya, melainkan sahabatnya sendiri yang sangat ia sayangi yang akan
ia berikan segalanya demi sahabatnya yang sudah menjadi bagian dari hidupnya,
yang selalu ada disaat keadaan apapun, dan Neva bertekad bahkan berjanji bahwa
ia akan tetap memperjuangkan sahabatnya itu, jangankan perasaannya bahkan jiwa
raganyapun ia siap. Itulah persahabatan sedarah yang mereka jalin, karena
meskipun mereka tak ada sama sekali hubungan darah. Tetapi seolah mereka
dipertemukan untuk menjadi sahabat sejati, karena perasaan saling menyayangi
itu lebih dari batas persahabatan, mereka rela melakukan apapun demi mereka
tetap bersama, demi apapun hanya waktu dan maut yang bisa memisahkan mereka.
Seperti dahulu, waktu mereka
menghadiri acara perpisahan SMP yang bertemakan mask party di malam hari, saat
itu mereka menuju sebuah tempat di bawah pohon yang rindang. Dengan ditemani
cahaya satu lilin yang sengaja mereka bawa, mereka mengikrarkan satu janji
bahwa mereka akan selalu bersama apapun rintangan akan mereka perjuangkan
bersama, dan hanya waktu dan mautlah yang berhak memisahkan mereka. Lalu mereka
membelitkan kelingking di atas api lilin itu, lama sekali dalam keharuan dan
air mata dalam keheningan malam, mereka terus mempertahankan kelingking itu
sampai rasa panaspun tak mereka pedulikan, alhasil kelingking mereka sama-sama
meninggalkan luka bakar yang sama, sebagai bukti bahwa mereka telah sama-sama
berikrar demi apapun untuk memperjuangkan persahabatan mereka. Dan bagai
saudara kembar, tak ada hari atau hal apapun yang terlewatkan satu sama lain,
meskipun disaat momen mereka harus terpisahkan maka esoknya atau detik itu juga
mereka akan menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi disaat mereaka tak
sedang bersama, sungguh kisah persahabatan yang klasik dan agung.
Neva tetap bertekad sekuat tenaga
ia akan mengabaikan perasaan ini walau sulit rasanya, dan semua butuh proses ia
yakin pasti ia bisa menjalani semuanya. Tiba-tiba sekelompok anak OSIS datang
dengan mengetuk pintu membuyarkan semua lamunan Neva.
“Assalamualaikum Bu..” ujar Mario
yang menjadi pemimpin anak OSIS tersebut.
“Ia silahkan saja” ujar Bu Ida
seolah ia tau apa maksud kedatangan mereka. Seketika sekelompok OSIS tersebut
masuk memenuhi rauangan depan kelas, dan Mario membuka pengumuman yang membuat
Neva tersentak kaget,
“Teman-teman berhubung akan di
selenggarakannya pentas seni disekolah kita kuarng lebih satu bulan lagi, kami
mohon partisipasinya dari setiap kelas dengan mengirimkan perwakilan untuk
mengikuti berbagai lomba yang disediakan, untuk informasi lebih lanjut silahkan
hubungi kami di ruang OSIS. Sebelumnya apa ada yang ingin ditanyakan?” tanya
Mario dengan sangat wibawa.
Neva yang daritadi menyimak apa
yang dibicarakan Mario sontak mengacungkan tangan,
“Kalo bo.. boo lehh “ seketika Neva
menjadi gagap karena saking gugupnya.
“Iya boleh apa? “ tanya Mario dengan
tenang dan senyum khasnya yang membuat Neva semakin gugup.
“Hmm.. kalo boleh tau bidang
lomba apa saja yang akan dilombakan” akhirnya suara itu keluar juga dengan lancar meskipun nada gugup masih
sedikit terdengar.
“Oh, ada 4 bidang, bidang vocal,
seni lukis, tari dan seni drama, jadi masing-masing dari tiap kelas harus
mengirimkan perwakilan pada masing-masing bidangnya” jawab Mario lantang.
“Oh, terimakasih” senyum Neva pun
mengembang sering kepergian rombongan OSIS yang keluar kelas dan akhirnya
suasana kelas pun menjadi ribut karena sibuk membicarakan lomba tersebut. Neva
sendiri kemudian berfikir mengenai lomba itu, ia sangat berminat dalam bidang
vocal meskipun ia tau suaranya itu tak begitu enak di dengar dan orang-orang
sekitarnya pun tak ada yang menyangka bahwa Neva gemar sekali bernyanyi,
tentunya hanya Indri yang tau maka ia akan meminta pendapat Indri akan hal ini.
Akhirnya bel istirahat pun
berbunyi kali ini bunyi itu laksana bunyi surga bagi setiap murid yang sudah
muak dengan belajar, atau yang sangat kelaparan dan siap menyerbu kantin
terdekat, atau yang ingin mencoba menjadi pelajar tulen dengan pergi menuju
perpustakaan. Dari sekian banyak pilihan itu, Neva mengeluarkan kotak
makanannya dan melahab roti coklat yang telah disiapkan oleh bundanya, karena
memang bunda Neva sangat menjaga makanan ia tidak ingin anaknya terkena
penyakit aneh karena makanan yang sangat tidak sehat yang biasanya diproduksi
oleh kantin-kantin sekolah. Lalu terlihatlah sosok cewek lugu dan cantik sedang
terburu-buru masuk dan menduduki bangku kosong yang ada di dekat Neva, tentunya
Indri. Semangat Indri sangat menggebu-gebu dan siap menyerbu Neva dengan
brondongan cerita-ceritanya,
“Nevaaa lo tau ngga?” ujar Indri
membuka narasi ceritanya itu dan Neva hanya menggeleng-geleng kepala karena
sibuk dengan rotinya itu.
“Tadi pas gue semotor sama dia,
dia cerita banyak sama gue, ternyata orangnya asik Nev. Dia juga cerita kalo
dia suka banget yang namanya mancing! gue banget kan? aduh gatau deh kenapa
hobinya itu bisa sama. Dan lo tau? dia pindah posisi bangkunya jadi di sebelah
gue! dia minta gue ngajarin pelajaran kimia, fisika, sama matematika. Hebatnya
lagi otaknya cepet nangkep banget Nev. Sekarang lo pegang ini!” seketika Indri
menarik lengan Neva dan diletakkannya di bagian dada atas tepat dimana posisi
jantungnya berada. Sangat jelas sekali denyut jantung yang sangat keras juga
nyata sedang ia rasakan.
“Lo bisa rasain ini kan? gue ngga
tau lagi harus ngomong apa, jantung gue seolah-olah bereaksi keras disaat gue
sama Renaldi. Neva apa ini yang namanya cinta?” Indri menatap kosong kearah
papan tulis seolah ia yakin atas pertanyaannya itu. Neva yang sejak tadi
menghentikan aktivitasya, lalu tersenyum dan berkata,
“Ndri
denger gue, emang yang lo rasain itu.. adalah
cinta. Perasaan ngga karuan yang bahkan bisa buat lo jadi gila, rasain lagi
semua itu dengan tulus dan bener, lo bakal ngerasain nantinya gimana kalo lo
bisa menyayangi dia dengan yakin pasti lo bakal selalu ngerasa nyaman ada di
deket dia.”
“Iya Ndri lo bener, tapi tunggu
perasaan itu udah gue dapetin saat gue punya mamah papah dan sahabatan sama lo!
cuma bedanya jantung gue tidak berdetak kenceng kaya gini” ujar Indri dengan
polos.
“Oon banget sih lo, ya jelas beda
ini tuh perasaan terhadap lawan jenis Ndri jangan samain sama gue amit-amit lo
bisa cinta sama gue, meskipun sering patah hati gue juga masih normal kayanya.”
Tawa meledak pecah diantara keduanya.
“Gila lo ya, gue juga masih
sangat normal dan kalaupun gue lesbi kayanya gue pikir ulang lagi kalo
pasangannya elo!” langsung saja cubitan cukup keras melayang di tangan Indri.
Disaat Neva ingin membicarakan soal pentas seni sekolah, ia urungkan niatnnya
karena Indri pun langsung kembali ke kelasnya,
“Nev gue balik ya, oiya pulangnya
kita ngga bisa bareng gue dianter Renaldi hehehe” dan Indri pun segera bergegas
menuju luar kelas sebelum Neva membalasnya,
“Tapi kan lo bilang lo mau
nemenin gue nyari kaset” sia-sia saja karena Indri sudah menghilang dari
pandangan. Neva termenung bukan ia sedih atas prilaku Indri tadi, dia bisa
sangat memaklumi prilaku sahabatnya itu, ia sama sekali tak keberatan
sedikitpun, tapi ada secuil rasa takut yang menghinggapi pikiran Neva bahwa
hari-hari berikutnya intensitas kebersamaan mereka akan berkurang, pastinya
Renaldi akan berusaha keras dalam rangka PDKT dadakannya itu kepada Indri yang
akan membuat sahabatnya itu jauh dan semakin jauh. Tapi Neva segera mebuang
pikiran itu jauh-jauh ia yakin Indri tidak akan seperti itu, ia yakin sahabatnya
akan selalu ada untuknya.
Saat istirahat berakhir, Dion
yang merupakan ketua murid di kelas menghampiri Neva,
“Neva lo kita pilih jadi perwakilan
lomba di bidang vocal yah? soalnya kita percaya ke elo ko, yaa meskipun kita
kaga pernah denger lo nyanyi tapi teriakan lo yang bisa mencapai oktav tinggi
itu bisa meyakinkan kalo lo bisa nyanyi, gue harap lo bisa maksimal yah.
Makasih” dan Dion pun kembali ke bangkunya,
Neva ternganga, dia cukup kaget
atas suruhan atau mandat dari sang ketua. Ia pun bingung yang Dion katakan tadi
itu pujian atau sindiran. Neva tak habis fikir dengan Dion, tapi Neva siap.
Bukankah ini kesempatan untuk menyalurkan hobinya? dan detik itu Neva bertekad
untuk serius mempelajari seni vocal dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan si Dion
itu yang terkenal ambisius. Ingin sekali rasanya ia menceritakan ini pada
Indri, bisa saja sih lewat SMS atau telpon tapi lagi-lagi ia urungkan karena
ini bukan saat yang tepat karena tanpa ceritanya ini pun, Indri kini sangat
bahagia.
Sepulang sekolah ia berjalan
menuju gerbang sendirian, saat diparkiran sekolah ia melihat dua sejoli yang
sedang dalam masa kasmaran pun terlibat sebuah percakapan yang hangat, sehingga
sangat rancu jika ia tiba-tiba menyapa Indri yang sedang asyik bersama Renaldi,
mereka kini sedang asyik bercanda terlukis jelas tawa kebahagiaan, tawa yang
didasari akan cinta. Sehingga tanpa sadar Neva pun terhanyut dalam senyuman
simpulnya, ia senang sahabatnya bisa seperti itu, dan beruntungnya Indri ia
bisa mencintai dengan balasan dicintai tanpa halangan, dan jika Neva sudi untuk
berkaca ia dan Mario sama-sama saling suka namun sayangnya Sintalah tembok
pembatas menjulang diantara mereka karena semua orang tau Sinta sangat
kecanduan untuk mendekati Mario tanpa lelah, meskipun Mario tak membalas dengan
respon yang berarti tapi hal itu seakan membuat Sinta semakin kuat dan pada
akhirnya Mario pun pasrah dan menyerah untuk menanggapi cewek cantik itu dan
membiarkan Sinta untuk mendekatinya dengan judul hanya sebatas teman sekelas.
Tapi lambat laun Neva menyadari
kenyataan bahwa perasaannya kepada Mario
baru berakhir di ambang rasa suka belum mencapai mencintai bahkan menyayangi sehingga
ia tidak memperjuangkan hal itu dan rela
menolak Mario demi ketenangannya di sekolah karena tatapan muka dengan Sinta
saja ia sudah anti apalagi ia harus beradu mulut atau fisik, Neva bukan takut
hanya saja ia benci untuk mempunyai musuh. Neva mengendarai motornya dan
langsung menuju tempat penjualan kaset terdekat, kebetulan sekali ia ingin
mencari music baru dan sekalian saja ia mengincar kaset-kaset karouke berbagai
lagu yang ia suka untuk berlatih dirumahnya. Neva senang sekali dengan genre
music pop mellow dan jazz, alhasil ia mendapati bayak pilihan kaset yang ia
inginkan meskipun terasa asing ia melangkah sendirian tanpa ada Indri. Neva
berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengincar satu per satu lagu
yang ia inginkan. Saat ia mampir ke toko kaset bernama “AllOfMusic” ia
terkaget-kaget karena didapatinya Mario sedang mencari kaset sama sepertinya,
“Hey Ndri.. ngapain nih ngikutin
gue?” tanya Mario kepedean.
“Ha?
GR banget lo, gue lagi nyari kasetlah.”
“ohh
sama nih ko bisa sama ya? orang bilang kalo ketemuan secara kebetulan itu sejurus sama jodoh loh” ujar Mario
diiringi dengan kedipan mata yang membuat Neva malu.
“Apaan sih, itu mah hipotesis purba masih aja di pake”
Neva menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek dan akhirnya keduanya pun
terlibat pembicaraan yang seru dan menarik mengenai music, wawasan Mario
mengenai music jauh lebih luas, ia tahu segalanya karena keluarganya berada di
lingkungan musisi maka tak heran Mario seperti itu. Saat mereka telah mendapati
kaset yang mereka inginkan, akhirnya mereka pamit pulang,
“Sayangnya lo bawa motor Ndri,
kalo tidak gue jemput lo ampe rumah bahkan depan kamar lo pun gue bisa” Mario
tertawa simpul atas perkataanya.
“Hahaha gila kali ya lo, yaudah
deh udah sore gue cabut duluan ya bye” Neva pun meluncur kearah yang berlawanan
dengan arah pulang Mario.
Esok pagi, Neva berangkat pagi
kesekolahnya karena kali ini ia tidak akan berangkat dengan Indri, pastinya
Renaldi penyebabnya karena sebenarnya Indri menolak ajakan cowok itu pagi ini
tapi yang namanya Renaldi ya tidak akan mudah menyerah ia pasti menggunakan
akal bulusnya sekuat tenaga demi melancarkan serangan PDKT nya itu. Neva menganggap
itu masih dalam batas wajar, toh dia sendiri pun pernah memperlakukan Indri
seperti itu saat jaman SMP dulu ketika ia ada di posisi Indri sekarang,
beruntungnya Indri karena Renaldi itu sangat unik andai saja ia ada di posisi
sahabatnya itu sekarang tapi otomatis ia menghilangkan pemikirannya itu karena
ia tau itu pemikiran terlarang.
Sesampainya disekolah, rupanya
Neva benar-benar terlalu pagi datang kesekolah. Gerbang sekolah pun belum semua
terbuka hanya sebagian, suasana pagi disekolah sangat asing, tidak dilihatnya
segerombolan anak kelas satu yang biasanya memenuhi lapangan sepak bola atau
lapang basket, pintu-pintu kelas pun belum sepenuhnya terbuka. Apalagi koridor-koridor,
seakan semua kosong dan hanya ada Neva disana ia seperti memiliki sekolah
sendiri itulah sensasi kepagian datang ke sekolah. Dengan santai Neva berjalan
melewati koridor utama sembari memainkan HP nya untuk sekedar online jejaring
sosial, tapi tiba-tiba seperti adegan perampokan, seseorang memegang pundaknya
dengan kasar dan membalikan tubuhnya kebelakang secara cepat, belum sempat ia
sadar akan kejadian itu lalu seseorang itu menghempaskan tubuh Neva sampai ia
terombang-ambing ke belakang dan nyaris jatuh dengan refleks Neva langsung
mempertahankan keseimbangannya dengan memegang tiang koridor alhasil HP yang ia
pegang tadi jatuh terbanting ke tanah sehingga HP nya berantakan tak utuh lagi,
melihat itu Neva sangat emosi dan menatap dalang dari semua ini yaitu Sinta, si
model delay cantik itu. Sinta berdiri tegang dengan mata yang menatap Neva
secara bringas yang membuat semua tahu bahwa ia sedang marah bahkan murka.
Belum sempat Neva berkata apapun rupanya amarah Sinta belum selesai sampai
disana, Sinta menampar pipi kanan Neva dengan kerasnya sehinga menimbulkan
suara yang keras dan jelas,
“Itu untuk lo cewek yang gatau
diri!!” Neva yang nyaris tersungkur itu hanya diam memegan pipi kananya yang
sakit luar biasa, dan seketika tamparan kedua yang tak kalah kerasnya pun
melayang di pipi kirinya yang membuat ia tersungkur ke lantai.
“Dan itu untuk lo cewek gatel
yang berani ngedeketin Mario!!” senyum puas pun mengembang di wajah Sinta seketika
Neva tau mengapa Sinta memperlakukannya seperti ini, rupanya ia tau tragedi di
toko kaset kemarin walaupun Neva yakin tak ada Sinta saat itu, dan tiba-tiba
tubuh Sinta ditarik secara kasar oleh seseorang yang berada di belakangnya,
Indri menatap Sinta sangat marah dan “Plaak” bunyi tamparan yang dilayangkan ke
pipi Sinta yang sangat keras,
“Itu buat lo yang lebih dari
gatau diri!!” bentak Indri yang langsung menampar ulang,
“Dan itu buat lo yang berani
nampar sahabat gue !!”
Sinta merintih kesakitan,
“Apa-apaan sih lo! lo sama
sahabat lo emang sama-sama gatau diri!” Sinta pun pergi.
Indri langsung merangkul Neva
untuk berdiri, dilihatnya kedua pipi sahabatnya itu sangat merah padam akibat
ulah Sinta.
“Nevaa, lo ngga apa-apa?? kurang
ajar banget sih Sinta!!”
“Gue ngga apa-apa, cuma puyeng
aja nih gila tamparannya keras banget!” ujar Neva yang masih terus memegang
pipinya,
“Pulang aja yu gue anterin”
“Ngga usah deh, lo mau nganter
gue? lo kan gabisa baek motor Ndri” ujar Neva sedikit bercanda,
“Pipi lo merah banget, iya sih
tapi kan ada Renaldi” Neva pun melihat kearah samping dan memang benar Renaldi
yang dari tadi berdiri santai disana sedang menatapnya dengan tatapan iba.
“Ogah ah gue kuat ko kecuali kalo
si Sinta dateng lagi dan nampar gue lagi baru gue bisa pingsan!eh makasih
banget Ndri, harusnya lo diemin aja si Sinta, gue takut lo jadi kebawa-bawa
sama masalah ini.”
“Ia pantesan perasaan gue ngga enak
makanya gue nyuruh Renaldi ngebut dan maaf gue dateng telat tapi gue puas udah
ngebales tamparan dia ke lo! gue ngga rela lo di gituin sama dia!”
“Dan harusnya elo yang bales
bukan Indri” Renaldi ikut angkat bicara,
“Gue ngga berani, gue lebih milih
diem aja daripada dia lebih dari nampar gue tapi secepatnya pasti dia bakal
nyerang gue terus padahal kemarin tuh kebetulan aja gue ketemu Mario, gatau
kenapa Sinta tau kejadian itu bener-bener psikopat banget dia” jelas Neva,
sembari bangkit berdiri dan membenaran seragamnya yang kusut.
“Jangan takut, ada gue ko!” jawab
Indri singkat tapi makna dari katanya itu sangat dalam dan mengharukan sehingga
memuat Neva tersenyum dan memeluknya sembari berkata,
“Makasih Ndri, gue kira tadi gue
bener-bener cuma sendirian, ternyata gue ngga pernah sendirian karena lo selalu
ada buat gue makasih” bulir air mata pun tak dapat ditahan Neva untuk jatuh
menyentuh pundak Indri, mereka pun hanyut dalam pelukan dan tangisan Neva.
“Aduh berasa nonton sinetron aja
nih gue, ayo dong udah pada rame nih sekolah lo pada ngga mau kan disangka
orang gila nangis pelukan pagi-pagi di tengah koridor gini, ntar orang nyangka
gue pangeran yang diperebutkan dua cewek lagi” ujar Renaldi dengan gelagatnya
yang masih terlihat cool dan tampan.
“Alaah lo sirik kan bilang aja
pengen di peluk Indri wuuu” balas Neva yang kemudian melepaskan dan mengusap
air matanya sedangkan Renaldi hanya diam tersenyum simpul seolah membenarkan
pernyataan Neva. Lalu Neva memungut HP nya yang sudah tak terbentuk dan
bernyawa lagi akibat dari bantingan tadi,
“HP gue rusak fatal gini! arggh
si Sinta emang kebangetan” kesal Neva,
“Aduh gue ngga tau kalo HP lo
juga dibanting, tau gitu gue banting balik HP nya tadi atau mau sekarang aja
gue ke kelasnya si Sinta dan gue banting HP nya sampe rusak parah?” ujar Indri
serius.
“Ngga usah Ndri!! kurang kerjaan
aja sih lo, udah ngga apa-apa tinggal beli lagi ntar HP mah gampang lah kalo elo yang di banting balik sama Sinta kan repot
juga urusannya” tawa kecil Neva pun
keluar.
“Ya ngga lah, gue tidak akan
kalah kalo udah soal belain elo, oiya Renal.. lo duluan gih ke kelas gue mau
nganter Neva dulu” Renaldi pun menurut tapi sebelum bergegas ia menghampiri Neva
dan dengan tenang ia mengelus pipinya dan berkata,
“Sabar yah bentar lagi juga
merahnya ilang, maaf tadi gue ngga bisa apa-apa dia cewek sih kalo cowok udah
gue hajar dari tadi” Renaldi pun langsung berlalu ke kelasnya. Indri yang ada
di samping Neva hanya tersenyum sama sekali tak merasa cemburu pada Neva justru
ia semakin kagum pada cowok itu yang sangat lembut terhadap cewek.
“Si Sinta pengecut banget
maenannya di tempat sepi, kalo gue sih mau di lapangan juga hayu aja pokoknya
gue ngga akan biarin dia kaya tadi lagi sama lo!” ujar Indri saat mereka menuju
kelas Neva, namun Neva terhanyut dalam lamunannya, ia kaget atas apa yang
Renaldi lakukan padanya meskipun itu hanya menghibur, tanpa tujuan yang lain
tapi membuat jantungnya bergetar hebat saat Renaldi berkata seperti itu.
“Nev, lo denger gue kan?” Indri
mencolek tangan Neva yang membuatnya sadar akan lamunannya,
“Eh iya makasih banget Ndri, gue ngga
nyangka lo bakal kaya gini”
“Iya sama-sama gue yakin kalo lo
ada di posisi gue pasti lo bakal ngelakuin hal yang sama bahkan lebih dari gue”
lalu Neva pun kembali akan lamunanya membuat Indri curiga dengan keadaan Neva
tapi ia tak mau ambil pusing, Indri tahu bahwa sahabatnya itu pasti masih
merasakan sakit di pipinya yang masih memerah itu.
Sesampainya di kelas Neva yang
sudah berpenghuni itu, salah seorang cowok bandel bernama Stevan menggoda Neva
karena melihat keadaan wajahnya yang benar-benar merah,
“Wuiiih pipi lo Nev merah banget,
pake make up lo ya? nambah cantik ko” goda Stevan.
“Apaan sih lo, ini tuh asli bukan
make up!” balas Neva.
“Hahaha habis di gampar satpam
lo? nyolong helm di parkiran lo ya pasti! Hahaha” tawa Stevan semakin keras.
“Heloo, lo pikir joke lo itu
lucu? apa gue harus salto ngedenger candaan lo yang garing itu?” jawab Indri
membela Neva.
“Busyeet dah ni anak belagu
bener, eh seriuan si Neva kenapa bisa kaya gitu sih?” tanya Steven.
“Wuu kepo banget lu! ini bukan
urusan lo” jawab Neva.
“Ini cewek bener-bener kaya
anjing galak, pada lagi PMS lo pada ya?” ujar Steven usil yang kemudian kabur
ke luar kelas karena Indri sudah siap melempar penghapus papan tulis kepadanya.
Akhirnya Indri bergegas membeli
es batu di kantin buat ngompres pipi Neva, perlahan tapi pasti ditempelkannya
plastik berisi es batu itu ke pipi Neva,
“Aww sakit Ndri lo mau nyiksa
atau ngobatin gue ya?” Neva meringgis.
“Idih tahan dulu ini biar pipi lo
ngga bengkak dan sembuh!”
“Iya deh, lo baik bener. Kalo ngga
ada lo gue udah nangis dari tadi, lo alesan gue bisa tegar kaya gini, makasih
Ndri” Neva pun tersenyum.
“Telinga gue udah bosen daritadi
lo bilang makasih terus, nyantai aja kali ini tuh buat gue emang suatu
keharusan, dimana lo lagi susah ya gue harus bantu lo, makin lama makin kaya
sinetron aja kejadian pagi ini” Indri tertawa cekikikan.
“Iya bener, tapi yang penting
kita mah bukan sandiwara kan?”
“Iya beneran, ini bukan scenario
ini tentang kisah kita yang emang nyata.”
Bel berdering nyaring, akhirnya
dengan keadaan pipi yang sudah mulai membaik Indri pun bergegas ke kelasnya.
Pelajaran pertama adalah kesenian yang di gurui oleh Pak Nugraha, kali ini
mereka mempelajari definisi seni.
“Baik siapa yang ingin
mengeluarkan pendapat kalian mengenai apa itu seni menurut kalian? silahkan
acungkan tangan!” ujar Pak Nugraha.
Dengan semangat juang yang tinggi
meskipun Neva masih sedikit merasakan sakit di pipinya, Neva acungkan
tangannya.
“Ya! silahkan Neva.”
Dengan satu tarikan nafas panjang
Neva mulai menjawab,
“Menurut saya pak seni itu
seperti sahabat, kita tidak bisa melihat bentuk perasaanya tapi kita bisa
merasakan ketulusan dan kehangatannya, seni juga demikian.. kita tidak bisa
melihat wujudnya tapi kita bisa rasakan keindahannya pak. Seperti sahabat yang tidak
bisa lepas dari kehidupan kita, begitupun seni yang seakan menjadi kebutuhan
primer dan mendarah daging untuk setiap insan. Sahabat alasan saya untuk hidup
dan semangat sama seperti seni sebagai inspirasi utama setiap manusia untuk
mengapresiasikan segalanya dan menurut novel yang pernah saya baca pak, D’Arcy
Hayman menyebutkan bahwa seni itu ekspresi, menarik dan menyenangkan, sebuah
perekaman, sesuatu yang integral, interpretasi kehidupan, sebuah intensifikasi,
komunikasi, reformasi, keteraturan, dan sebuah penemuan. Dan saya sangat setuju
dengan argument tersebut pak. Tanpa seni hidup itu tabu, karena senilah yang
memberi warna dan bumbu kehidupan dan hanya sejatinya waktu yang bisa
memisahkan ketergantungan seni dengan kehidupan pak” seketika suasana kelas
begitu hening dan langsung terdengar tepuk tangan meriah dari seisi ruangan
kelas.
“Bagus sekali Neva, tingkatkan
itu” ujar Pak Nugraha sembari mengangkat satu jempolnya untuk Neva. begitulah
Neva, aktiv di kelas jika memang ia bisa dan mampu karena ia bertekad bahwa meskipun dirinya
adalah jurusan IPS semua itu tidak mengubah apapun, ia harus membuktikan kepada
semuanya bahwa anak IPS itu sama saja, bahkan bisa menyetarakan anak IPA yang
dijuluki jurusan paling bergengsi. IPA maupun IPS adalah sama karena di
dalamnya kita sama-sama mempelajari ilmu pengetahuan, jadi salah besar jika
jurusan IPS itu disepelekan karena semua sama saja tinggal bagaimana diri kita
menempatkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid pintar atau murid bodoh
dan sayangnya pilihan kedua itu sering diminati para murid bandel yang
kebetulan secara paksa dimasukkan ke jurusan IPS. Neva dan Indri adalah bukti
nyata dari semuanya, meskipun mereka berbeda jurusan namun mereka unggul dalam
bidangnya masing-masing terkadang mereka saling berbagi dan melengkapi apa saja
yang mereka pelajari. Terbukti keduanya adalah juara umum bertahan di
masing-masing jurusan, sepasang sahabat yang memang terpandang istimewa di mata
semuanya karena hampir tidak ada batas sedikitpun di antara mereka. Saling
terbuka, selalu bersama, dan saling mengerti maka itulah yang membuat
persahabatan mereka abadi tak tergoyahkan.
Pulang sekolah, Indri langsung
menghampiri Neva di kelasnya,
“Ayo pulang, lo bawa motor kan?
gue nebeng yah sampe rumah lo aja” ujar Indri.
“Loh? tidak bareng Renaldi nih?”
“Ngga,
gue pengennya sama lo sekarang.”
“Asikk
oke deh, tapi mampir ke tempat counter HP dulu ya?” ajak Neva.
“Boleh
boleh, lo kan supir gue yang bisa bawa gue sesuka hati lo” Indri tertawa kecil.
“Lo
kata gue tukang ojeg!”
“Iya
memang, ojeg yang selalu mengantarkan hatiku ke hatinya Renaldi” Indri tertawa
keras.
“Gombal
banget sih lo, gila ya sekarang lo udah bisa gombal nih!”
“Hehehe hayu ah langsung caw!”
Mereka pun bergegas meunuju
tempat pusat jual beli HP karena Neva ingin langsung mengganti HP nya yang
mirip rongsokan itu dengan yang baru. Dan sesampainya di sebuah mall besar yang
terdapat tempat khusus untuk membeli HP,
“Lo
mau langsung beli HP Nev?” tanya Indri.
“Iya,
gue bawa kartu kredit ko. Duit tabungan gue Ndri.”
“Lo
ngga bilang sama nyokap dulu?”
“Ngga
usah, lagian emang gue lagi nabung untuk HP dan kebetulan hari ini memang saat yang tepat. Lo mau gue beliin juga
Ndri?” tanya Neva serius.
“Oh
dasar orang kaya lo, ha? ngga perlu! HP gue masih bagus ko, ya asal jangan
sampe gue ketemu si mak lampir aja sih, gue rasa HP gue aman hahaha” mereka pun
tertawa. Lalu
setelah cukup lama mereka mengelilingi dari satu counter ke counter. Akhirnya
mereka berhenti di satu counter,
“Nev lo beli BB aja, lagi trend
dan biar sama kaya Renaldi jadi gue bisa mantau dari HP lo gituu” ujar Indri
meyakinkan.
“Iya
sih, tapi gue takut ketergantungan Ndri.”
“Ngga
bakalan, gue percaya lo bukan tipe cewek yang kaya gitu.”
Dan
setelah lama berfikir, akhirnya Neva setuju dengan Indri, ia pun memilih satu
tipe BB yang paling mahal. Bukan bermaksud untuk boros, tapi Neva ingin puas sehingga
ia akan mengendalikan keinginannya untuk ganti HP lagi dan lagi. Lagi pula 3
bulan terakhir Neva sangat menjalankan hidup hemat, jadi wajar saja bulan ini
ia sedikit boros untuk keperluannya sendiri. Begitupun dimata Indri, Neva
selalu merendah meskipun jelas ia sangat layak disebut kalangan berada, dan
Neva tidak pernah sungkan untuk berbagi satu sama lain. Dan setelah semuanya terlaksana, mereka
pun kembali pulang. Sengaja Neva mengantar Indri tepat sampai depan rumahnya,
dan saat itu Ibu Indri kebetulan sedang menyiram tanaman,
“Eh Neva, ayo masuk dulu tante
punya kue nih” ajak Ibu Indri.
“Maaf
tante, udah sore ditunggu Bunda. Besok-besok
lagi Neva pasti kesini ko.”
“Oh yasudah, makasih loh ya Nev
udah nganter anak tante.”
“Iya sama-sama itu mah udah biasa, bye tante bye Indri”
Neva pun melambaikan tangan dan segera melaju kerumahnya.
Malamnya, Neva sedang asik
mengotak-ngatik HP barunya. Sudah ia duga bahwa kedua orang tuanya tak
mempermasalahkan itu, dan untungnya mereka tidak mempertanyakan akan HPnya yang
rusak, sangat gila kalau orang tuanya tau akan penyebab dari HP lamanya yang
rusak itu. Semua nomor HP teman-temannya itu ia alihkan ke BBnya, da tak lama
lampu LED menyala merah tanda SMS masuk,
Nev
lo invite BBM si Renaldi nih gue kasih PIN nya 24BD311, lo awasin semuanya yah
dan blg ke gue klo ada apa-apa, makasih haniiiiiih.
Seketika Neva terdiam, bukan
karena dia tidak tau cara nge-invite di HP nya itu melainkan lebih kepada ke
perasaan deg-degan untuk siap melihat apa saja yang ada di dunia Renaldi, dan
siap untuk memantau atas permintaan Indri walau sebenarnya Neva juga sangat
penasaran akan kehidupan cowok memukau itu. Akhirnya 15 menit terdiam, Neva pun
menekan satu per satu nomor yang merupakan pin BBM Renaldi, setelah sukses tak
berapa lama bahkan tidak sampai semenit tiba-tiba kontak BBM Neva terisi satu
profile yang bernama RenalTraditya dan benar saja itu adalah Renaldi terlihat
sangat jelas dari fotonya yang sangat tampan, sangat lama Neva memandang foto
dari DP yang terpangpang mengisi kontak pertama BBM Neva dan tanpa disadari
Neva tersenyum simpul benar-benar terpesona dengan keindahan dari setiap detile
lekukan wajah cowok tampan itu berkali-kali ia memperbesar sebesar-besarnya
sampai titik maksimal pembesaran maka tampaklah gambar dari salah satu mata
Renaldi yang memang sangat indah, berbinar dan menggambarkan kelembutan dan
kenyamanan tentunya siapapun wanita yang melihat ini pasti tidak dapat
memungkiri bahwa Renaldi itu memang cowok tampan.
Tiba-tiba HP Neva bergetar hebat,
Renaldi mengirim chat pertama kalinya untuk Neva,
RenaldiTraditya
Lo Nevaaa?
Neva Lantraria
Iya, kenapee ?
RenaldiTraditya
Ngga, gue takut salah aja. Cielaaaah BB baru nih ceritanye? (`▽´)-σ
Neva Lantraria
Neva tuh cuma satu kali di dunia dan akherat \(ˇ▼ˇ)/ iya
td gue belinya sama Indri lho..
RenaldiTraditya
Yang
bener aja setau gue mbo-mbo jamu di komplek gue namanya Neva tuh (‾⌣‾)♉, Indri bidadari gue yang
dari kayangan paling indah itu?
Neva Lantraria
Kurang asem lo ya! hahaha iya siape lagi.. dan bidadari itu
kebagusan buat loe yaa semacem kaya
Cinderella sama Hulk (`▽´)-σ.
RenaldiTraditya
Tidak apa-apa Hulk itu jelek luarnya
dalemnya yang penting tangguh dan pemberani (•`ö´•)9, btw pipi lo udah ngga apa-apa?
Neva Lantraria
Iya deh gimana tuan Hulk aja, terus
kenapa lo tidak nembak Indri? apa tidak kelamaan PDKT lo sama dia? santei aja
udh sembuh ko.
RenaldiTraditya
Hmm
gue bukan cowok yang kaya begitu, gue tidak mau terlalu cepet ngambil tindakan
gue takut Nev..
Neva Lantraria
Takut?
gue yakin bgt dia bakal nerima cinta lo!!
RenaldiTraditya
Bukan itu, gue takut tidak bisa ngebahagiain dia, jadi gue
bakal terus ngedeketin dia sampe gue yakin gue emang sayang sm dia dan tidak akan
nyakitin dia. Dan gue mau dia juga yakin kalo gue emang yg terbaik buat dia,
yaa slow down aja deh sampai waktu yang menjawab..
Neva Lantraria
Oke gue doain yang terbaik aja ya,
night gue ngantuk hehe..
RenaldiTraditya
Sip, gue minta lo selalu jagain Indri yah. Please..
Dan
akhirnya Neva tidak tahan lagi untuk menangis,
“Lo sempurna banget Renal, kenapa gue
bener-bener cinta sama loe? karena itu salah karena Indri sangat mencintai lo,
tapi rasa cinta gue ngga kalah sama Indri.. gue ngga bisa terus menerus boongin
perasaan gue. Gue lelah acting ke semua orang terutama Indri, gue ngga sanggup
boongin Indri kaya gini tapi gue lebih ngga sanggup kalo harus nyakitin Indri.
Gue ingin dia bahagia tapi dengan bahagianya lo sama Indri itu teramat sangat
ngebuat gue ancur, gue ngga bisa bayangin kalo kalian jadian. Mau dibawa kemana
perasaan gue yang udah terlanjur kuat dan dalem ini?” dan Neva terus menguraikan
air matanya, air mata akan kesedihan yang ia hadapi, akan perasaan yang
terlanjur ia rasakan terhadap Renaldi, akan rasa sakit setiap Renal memuja
Indri, akan rasa bersalahnya terhadap sahabat terbaik yang ia punya sejak lama
itu.
Dan akhirnya Neva terlelap dalam
isakannya, dalam gelap dan gerimis malam yang menyempurnakan suasana gundah dan
kalut untuk Neva. Esok hari, Neva pergi sekolah seperti sedia kala dan seperti
biasa tanpa Indri, ia mengendarai motornya sendirian melalui jalan-jalan yang seperti
biasa ia lewati dengan Indri dibelakangnya yang sangat berisik mengajak ia
bercanda atau membahas segala hal yang membuat jarak ke sekolah itu sangat tak
terasa lagi, namun akhir-akhir ini suasana seperti itu sangat langka yang
terdengar hanya suara mesin motor dan kendaraan lain yang sangat bising di kota
Bandung, namun terdengar sangat sunyi bagi Neva, perjalanan pun seakan lama dan
jauh sekali. Neva terlihat konsentrasi sekali di balik helm biru mudanya itu
walau sebenarnya fikiran dan perhatiannya jauh melayang di udara mengacu pada
dilema yang ia hadapi sekarang.
Saat Neva melangkah menuju kelasnya,
sudah terlihat dari kejauhan Indri dan Renaldi sedang asik bercanda di sekitar
bangkunya itu, menambah rasa sakit yang mulai menguat dalam batinnya.
“Pagi semuanya” sapa Neva mencoba
tersenyum lebar namun Indri bisa menangkap sesuatu yang tidak beres pada Neva.
“Pagi, lo kenapa? mata lo ko
bengkak?” tanya Indri khawatir.
“Ngga
ko gue ngga apa-apa, ha? mata gue baik-baik aja Indri lo aneh banget deh” jawab
Neva.
“Lo
sakit? gue tau lo banget, sinih cerita yu!” Neva terdiam menunduk dan Indri
memberi sinyal pada Renaldi untuk pergi ke kelas duluan dan renaldi pun
mengerti sembari melangkah keluar, tangan Renaldi mengusap kepala Neva yang
membuat jantung Neva bergetar,
“Hidup
itu enjoy aja kali” ujar Renaldi dan ia pun menghilang dari balik pintu.
“Lo
certain sekarang semua yang gue ngga tau, dari pulang sekolah kemaren sampe
sekarang, cepet!” paksa Indri.
“Ngg..
nga ada yang aneh atau special Ndri, semuanya berjalan kaya biasa cuma..”
omongan Neva terhenti karena ia tidak tau harus berkata apa lagi.
“Tapi
apa?” Indri mendekat dengan sorot mata yang sangat khawatir, semakin membuat
Neva tidak ingin sama sekali untuk berkata jujur.
“Tapi..
gue bingung aja sih sama lomba vocal bulan depan, oiya gue belum cerita ya? gue
kepilih jadi perwakilan lomba nyanyi gitu pas ntar pensi, dan gue ngga PD
banget lo tau sendiri gue kalo nyanyi tuh cuma iseng doang gue takut
malu-maluin Ndri” akhirnya Neva bisa mencari hal lain yang tepat untuk
dikatakan meskipun sayangnya Indri tau bukan itu yang membuat Neva seperti ini
namun ia bertekad untuk mencari tahu sendiri ketimbang memaksa Neva.
“Wah?
keren tuh, dan lo harus tau gue juga ikutan lomba tapi bidang tari sih karena kurang
personil ya gue PD aja meskipun gue kan kaku banget dan lo harus kaya gue, PD
aja kali gue yakin lo bisa yaa meskipun jarang banget lo nyanyi tapi gue pernah
denger dan suara lo tu merdu ko meskipun pelan tinggal lo percaya diri aja
semua pasti bisa ko! pengalaman tau aja lo bisa jadi diva kan hehehe” ujar
Indri panjang lebar.
“Wah?
asyiik nih kita bisa tampil bareng sama bisa latihan bareng yaa meskipun
waktunya sebulan lagi tapi pasti ngga akan kerasa, diva? pala lu peangg” ujar
Neva dengan senangnya. Indri pun kembali ke kelasnya karena bel masuk sudah
berdering sejak tadi, melangkah dengan sejuta tanda tanya atas apa yang terjadi
pada sahabatnya itu sehingga tadi pagi kentara sekali sebuah kesedihan yang
tertangkap oleh diri Indri.
Lama
mereka terdiam karena mereka terhanyut dalam pemikirannya masing-masing,
akhirnya bel pun berbunyi dan Indri bergegas ke kelasnya, pelajaran petama di
kelas IPS 2 pun berjalan dengan sukses karena guru Matematika tidak bisa hadir
saat itu dikarenakan sakit, tentunya penderitaan guru tersebut dijadikan alasan
utama para murid untuk bersorak ria seperti narapidana yang berhasil kabur
setelah melewati hutan belantara dan samudra lepas, alhasil semua murid
langsung melakukan aktivitas bebasnya di dalam kelas.
Seperti
Andi si penggila bola ia langsung melaju ke lapangan futsal dengan membawa
pasukan cowok di kelas lainnya, Stevan yang emang super jail dan tengil itu
pastinya sedang meluncurkan aksinya kepada para cewek-cewek mencari perhatian
dan menebarkan pesona yang tak kunjung membawa hasil yang berarti karena
cewek-cewek di kelas sudah terbiasa dengan aksi Stevan itu dan sayangnya Stevan
sudah tercap sebagai cowok tengil yang ngga laku-laku di mata para cewek,
dikarenakan tampangnya yang bisa dibilang berada di bawah titik sumbu Y yang
berarti bernilai minus, tapi emang dasar si Stevan yang selalu PD dan merasa
tampangnya baik-baik saja dia tidak pernah jera untuk menggoda dan menembak
seketika para cewek yang ia taksir. Sialnya baik Neva pernah menjadi sasaran
maut si stevan seperti waktu semester 1 lalu saat pagi hari dan sekolah pun
masih sepi,
Neva
dan Indri sengaja untuk datang pagi karena Neva ingin menanyakan PR
matematikanya kepada Indri, dan saat mereka masuk kelas Neva, tiba-tiba di bangku
tempat Neva duduk itu terdapat bunga melati yang sengaja di tebarkan diatas
meja, di kolong meja, bahkan di bangkunya yang memberikan warna serba putih.
“Apaan
nih? ada melati segala?” tanya Indri.
“Kaga
tau Ndri, perasaan kemaren pas pulang sekolah bangku gue baik-baik aja” ujar
Neva penasaran.
“Aduh
serem juga nih, mana wangi banget lagi mana masih sepi lagi, gue takut Nev!”
ujar Indri sedikit ketakutan.
“Yaelaah
Ndri, hantu mana nongol pagi buta kaya begini.. aduh
bantuin gue bersihin ini semua dong.”
Dan
tiba-tiba dari balik pintu kelas muncul seonggok atau sesosok pria berperawakan
hitam berambut kriting dengan potongan yang ngga jelas ditambah baju seragam
yang acak-acakan dan bibir tebalnya sebagai pemanis walaupun pemanis itu tidak
sama sekali memberikan rasa manis pada wajahnya. Dan dialah sang pemilik nama Stevan Aunararia, nama
yang bagus namun sayangnya tidak singkron dengan wajahnya. Dia masuk dengan
membawa gitar nyentriknya, lalu dia mulai menyanyikan lagu yang sepertinya
ciptaan dia sendiri,
“Oh
gadis yang ada dihadapanku… dengarkanlah isi hati pangeran ini, yang ingin
menjadikanmu ratu di hatiku houhouhoo, oh gadis yang bernama Neva ini,
terimalah semua ini akan ku lakukan apapun yang membuatmu tersenyum houhooo
jadilah pacarku jadilah ratu permaisyuriku yang akan selalu menemanikuuu
houhoo” Stevan pun berhenti, Neva yang dari tadi bengong terpaku seperti batu
dan Indri yang sampai mangap akan hal yang ia lihat pagi itu. Pasalnya betapa
sangat PDnya Stevan menyatakan cintanya secara dadakan itu dengan bernyanyi
walaupun suaranya bagus tetapi ekspresinya yang memilukan seakan memudarkan
suara dan permainan gitarnya yang lumayan.
“Jadi
ini semua kerjaan lo?” Neva membuka pembicaraan setelah susah payah ia bangkit
dari syhoknya.
“Ia
Nev, semua ini bukti cinta gue sama lo” ujar Stevan yang membuat Indri dan Neva
saling berpandangan lalu cekikikan.
“Hahaha
melati? lo kata Neva ratu pantai selatan boo hahaha” ejek Indri.
“Melati
itu lambang cinta yang paling abadi nona” jawab Stevan.
“Itu
mawar Stevaaaaaaan, aduh ya lo itu aneh bin nekad deeh ih” ujar Neva.
“Yahhh
Nev, gapapa kali melati juga lebih wangi kan” jawab Stevan bersikeras.
“Hahaha
sekalian aja tuh, tambahin kemenyan sama balsem kan wangi” timpal Indri.
“Kurang
asem lo Ndri, lukata gue kunti kena encok” kesal Neva.
“Busyet
dah ni anak malah pada berantem, Nev jawab dong lo nerima cinta gue ngga?” ujar
Stevan serius.
“Ngga”
Neva menjawab dengan yakin.
“Haa? aduhh Nev pikir-pikir lagi
coba, hmm gue tau lo minder pacaran sama gue ya? lo ngerasa gue ketinggian kan
buat lo? ngga ko ngga, gue yakin lo cocok banget sama gue yang super duper
ganteng ini. Atau lo belum siap jadi tenar gara-gara lo pacaran sama gue? ngga
ko ngga akan, lo bakal gue lindungin dari fans cewek-cewek gue yang pastinya
bakal cemburu sama lo, atau lo..” belum sempat Stevan menyelesaikan omongannya
Neva angkat bicara sedangkan Indri sedang sibuk tertawa terbahak-bahak di sudut
ruangan.
“Stevan, lo tuh ya PD nya tingkat
dewa banget sih, gue ngga bisa nerima lo bukan karena semua yang lo sebutin
tadi tapi gue ngga suka sama lo, jelas? gue n-g-g-a suka sama lo, oke gue
hargain usaha lo ini dengan gue terima melati dari lo dan bakal gue simpen di
kamar gue. Tapi maaf gue ngga bisa nerima lo.”
“Lo yakin atau …”
“Stop Stev stop gue yakin dan
sadar ko!” kesal Neva.
“Yaudah deh, maaf yah dan gue
harap lo ngga akan nyesel sampe galau pake shower segala di rumah lo ntar atau
nganggep diri lo sebagai butiran debu.” Stevan pun keluar kelas dan Neva hanya
bisa tepuk jidat atas apa yang ia hadapi tadi.
Itulah pengalaman
Neva yang pernah ditembak Stevan, selain itu murid-murid dikelas pun kini
terlihat semakin asyik dengan kegiatan masing-masing. Para cewek biasanya
bergerombol untuk sekedar bergosip atau memamerkan barang baru, ada pula yang
sibuk membaca novel, mendengarkan music, bahkan Via sang sekretaris yang
menuliskan tugas matematika di papan tulis, tak dianggap sama sekali oleh seisi
kelas, kejamnya lagi hasil tulisan indah berisikan angka-angka yang memutar
otak itupun dengan kilat terhapuskan dan tergantikan oleh gambar-gambar gokil
animasi atau tulisan keren para cowok yang iseng. Sedangkan Neva, lebih memilih
untuk diam dan mengotak ngatik HP barunya itu.
Tak lama lampu
LED pun berkedip merah tanda ada chat masuk, setelah dibuka ternyata,
RenaldiTraditya
Nev, gue sama Indri mau mancing nih pulang sekolah, ikut yu?
Indri juga ngajak lo kok, yaa itung-itung hari Sabtu sih besok libur \(ˇ▼ˇ)/
Neva Lantraria
Hmm gue takut ganggu kalian (⌣́_⌣̀)
RenaldiTraditya
Nyantei aja kali Nev, mau ngga nih? ˆ⌣ˆ
Neva Lantraria
Okeee dh, tungguin gue diparkiran yah!! \(´▽`)/
RenaldiTraditya
Sip nonaa (•̴͡˛ •̴͡')
Neva pun memutuskan untuk ikut toh
hari ini akhir pekan, tak ada salahnya refreshing pergi memancing ke arah Lembang.
Meskipun Neva tak terlalu suka dengan memancing tapi ia cukup lihai karena
Indri dulu sering mengajarkannya, dan semoga saja hari ini menyenangkan dan menghasilkan
banyak ikan untuk di masak dan dijadikan makan malam oleh bunda.
Bel pulang berdering hebat, semua
murid bergegas keluar kelas termaksud Neva. Lapangan sekolah pun penuh dengan
kegiatan berbagai ekskul, meskipun Neva tidak tercatat di organisasi manapun
karena dulu disaat ia kelas X dirinya sempat mengikuti ekskul basket dan
berhenti saat menginjak kelas XI dengan alasan fokus belajar walaupun pada
kenyataannya Neva sudah bosan dengan ekskulnya dan lebih memilih kegiatan
tambahan yang lebih berbeda di luar sekolah. Berbeda dengan Indri yang sampai
saat ini masih saja tercatat sebagai anggota karya ilmiah Fisika disekolahnya,
semula Indri mati-matian untuk mengajak Neva ikut serta bersamanya, namun Neva
menolak mentah-mentah karena fisika adalah pelajaran mematikan baginya dan
racun untuk otaknya, itulah Neva yang sangat membenci fisika.
Di parkiran sekolah sudah nampak
Indri dan Renaldi sedang menunggunya,
“Hoyy, mau langsung pergi aja nih?”
sapa Neva.
“Eh Nev, lo yakin bisa nyetir motor
sendiri sampe Lembang?” tanya Indri ragu.
“Bisa ko, lagian kita kan udah biasa
pake mobil kesana ngga akan beda jauh sama motor kok!”
“Oke deh, mana jaket lo? dingin
banget gila daerah sana” tanya Indri.
“Aduuh, gue ngga pake jaket Ndri”
jawab Neva.
“Hmm nih pake punya gue” ujar
Renaldi sembari menyodorkan jaket tebal hitamnya.
“Haa? yakin lo?” tanya Neva .
“Iya cewek gampang masuk angin
tuh, Indri kan udah pake jaket” ujar Renaldi.
“Iya Nev, lagian pasti Renal kuat
kok dia kan samson Jakarta hihihi” timpal Indri yang membuat Renaldi geram dan
mencubit hidung Indri yang mancung itu. Neva pun hanya menundukan kepala seakan
hatinya di goreskan dengan sengaja oleh benda tajam yang menimbulkan rasa
sakit, dan tanpa Neva sadari rasa cemburu itu semakin nyata.
Perjalanan pun berjalan dengan
tabu, dengan Neva mengikuti laju motor Renaldi dari belakang sehingga ia dapat
melihat jelas orang yang ia sayangi sedang asyik bercanda sangat akrab bahkan sangat
dekat dengan sahabatnya sendiri yang tak kalah ia sayangi. Dan seiring laju
motor yang tak terlalu kencang, dengan angin yang berhembus dari arah yang
berlawanan, langit senja yang kian meremang indah, dan kehangatan dari jaket
yang dikenakannya, maka di balik helm yang terdapat wajah sendu gemilang pun
meneteskan setitik air mata yang tak bisa ia tahan. Neva berfikir seharusnya ia
tidak ikut acara mereka berdua ini, acara yang sengaja dirancang oleh Renaldi
untuk semakin dekat dengan Indri. Karena dengan ia melihat mereka berdua
seperti itu saja sudah membuatnya sakit dan bingung, entah sampai kapan Neva
harus seperti ini, menahan semua dilema yang menerjangnya. Mungkin waktulah
yang bisa melenyapkan semua ini.
Sesampainya di tempat
pemancingan, setelah mereka memarkirkan motornya mereka pun meyewa alat
pemancingan dan menentukan tempatnya,
“Dimana nih? di sebelah kanan
ajayuk di bawah pohon?” ajak Neva.
“Hmm gue maunya di sebrangnya deh
pasti hoki banyak ikan!” jawab Renaldi.
“Yaudah tapi gue tetep mau di
tempat pilihan gue, jadi mau pilih yang mana Ndri” tanya Neva. Indri pun terdiam
kebingungan entah mana yang akan mereka pilih.
“Yaudah lo sama Renal aja gih,
gue mau menyendiri disana” ujar Neva.
“Ya ngga bisa gitu dong masa lo
sendirian?”
“Ngga apa-apa nyantei aja!”
“Oh gue tau, ntar gue bagi 2
waktu setengah jam di tempat Renal setengah lg ke tempat lo, lagian ribet
banget sih kalian make tempat aja beda-beda” jelas Indri.
“Oke deh gue mah terserah aja yang penting gue disana” jawab Neva.
“Oke kita tanding siapa yang
paling banyak ngedapetin ikan dia menang dan bisa nyuruh apapun ke yang kalah
semacam ngasih tantangan gitu deh, deal??” ujar Renaldi. Mereka pun sepakat dan
bergegas ketempatnya masing-masing,
“Tunggu gue ya Neva” ujar Indri,
Neva pun hanya mengangguk.
Tempat mereka cukup terpisah jauh
memang, namun masih bisa terlihat oleh pandangan karena letak mereka sedikit
bersebrangan. Dengan santainya Neva segera memasang umpan dan melemparkan kail
sejauh mungkin, dibawah pohon yang rindang Neva duduk bersandar menunggu
umpannya disantap oleh ikan. Ia melihat pemandangan betapa akrabnya Renaldi dan
Indri yang sedang berbincang sangat dekat dan nampaknya setiap orang yang
melihat mereka berdua, pasti beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih.
Tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba kail Neva bergerak ke dalam tanda ikan pertama
pun berhasil Neva tangkap, jenis ikan emas yang lumayan besar lalu ia memasukan
ikan tersebut kedalam ember kecil, setelah kain dilempar kembali Neva kembali
bersandar. Dilihatnya ikan emas itu yang bergerak bebas di dalam ember berisi
air.
“Heh ikan, coba kalo gue jadi lo
ya, hidup tanpa beban berenang-renang semau lo tanpa perlu dapetin
masalah-masalah kehidupan apalagi dilema cinta, lo bebas milih siapapun yang lo
suka dan lo bisa bahagia terkecuali jika nasib lo apes kaya sekarang yang
artinya sebentar lagi lo akan bernasib di penggorengan bunda gue, tapi kalo gue
jadi lo gue ngga akan sebodoh lo, gue ngga akan mau nangkep umpan manusia
meskipun itu enak tapi itu berakibat fatal untuk gue. Tapi sayangnya disini gue
hanya remaja yang malang, gue cinta dia tapi sayangnya cinta itu tak pernah
terbalaskan. Dan gue ngga bisa merjuangin semuanya karena itu semua menyangkut
kebahagiaan orang yang sangat berarti dalam hidup gue. Tapi gue ngga tau apa
gue bisa bertahan, lo doain gue ya supaya perasaan ini akan hilang dengan
sendirinya semoga gue tetep bisa ngendaliin semuanya tanpa nyakitin satu
orangpun. Sebisa mungkin bakal gue korbanin perasaan ini karena gue ngga mau
ngecewain sahabat gue, walau kebahagiaan gue sekalipun harus hilang.”
Suasana hening sejenak, yang
terdengar hanyalah kecipak air dalam ember yang ditimbulkan oleh ikan mas
satu-satunya yang Neva dapatkan. Tiba-tiba,
“Doooor!” Indri mengagetkan Neva,
Neva syhok setengah mati dia takut Indri sudah lama berada di belakangnya dan
mendengar ucapannya tadi, dilihatnya disebrang sana memang benar Renaldi sedang
duduk sendirian tapi sejak kapan? saking tenggelam dalam lamunannya Neva sampai
tak sadar bahwa Indri sudah menghampirinya sejak tadi.
Neva memilih untuk diam dia
sangat takut sahabatnya akan tahu segalanya, tapi nampaknya Indri baik-baik
saja seolah memang tak terjadi apa-apa, Neva pun menghela nafas panjang
merasakan lega yang amat sangat.
“Payah lo Nev, masa dari tadi
baru dapet 1?” ejek Indri sembari meliha isi ember Neva.
“Yeee baru juga berapa menit,
emang lo udah dapet berapa hah?
“Gue udah 3 ya walaupun pada
kecil, tapi si Renaldi udah dapet 4 dong! hebat banget ya tu anak.”
“Yaaa paling pake jampe-jampe tuh
anak, wah gue kalah dong? dan gue bakal nerima tantangan dari dia gitu? aaaa
tidaaak” Neva menepuk jidatnya.
“Hahaha derita lo ah, makanya
jangan so soan nerima tantangan kaya tadi gitu deh.”
“Ya tenang aja deh, inikan masih
lama waktunya, gue pasti bisa! ayoo para ikan makan umpan gue dong ayooo!”
semangat Neva semakin menggebu. Indri hanya geleng-geleng kepala sembari
cekikikan melihat aksi Neva itu.
Satu jam setengah pun berlalu dan
isi ember Neva tidak berubah, tetap berisi satu ikan mas berukuran lumayan
besar,
“Aduuuh gue kalah berat nih, masa
daritadi gue cuma dapet satu sih!” keluh Neva.
“Hahaha udalah Nev, terima aja
oke.” Tiba-tiba Renaldi menghampiri mereka dengan menenteng sekantung ikan yang
banyak,
“Ndri, nih ikan lo gue tambahin 3
biji yaa soalnya gue banyak banget nih ikannya.” Ujar Renaldi.
“Idiiiih sombong banget lo!” Neva
kesal.
“Hahaha emang gue dapet banyak ko
ada berapa yaa hmm sepuluh lebih, oiya lo dapet berapa?” Neva langsung
menyembunyikan kantung yang berisi satu ikan itu ke balik punggungnya.
“Hahaha cuma satu lo? payah
banget sih cupu hahaha” tawa Renaldi meledak. Neva hanya tertunduk malu campur
kesal.
“Udalah Renal, bagi-bagi tuh ke
Neva daripada lo berat bawanya kan ?” ujar Indri.
“Iya deh nih gue kasih lo 4 ya,
buat keluarga lo deh”
“Makasih..” Neva pun langsung
tersenyum paksa.
“Eits, tapi perjanjian tetaplah
perjanjian lo yang paling kalah kan disini? jadi sebagai pemenang gue layak
buat ngasih tantangan ke lo okee?” ujar Renaldi dengan sombongnya.
“Huuhh iya deh iya oke sekarang
tantangannya apaan?”
‘Hmm, lo liat disebelah sana
apaan?” Renaldi menunjuk kearah utara.
“Pohon mangga?”
“Yaap, gue mau lo ngambilin gue
satu mangga yang paling mateng!”
“Hah? aduh gimana gue
ngambilnya?” tanya Neva.
“Pake kayu panjang aja Nev itu
kayanya ada deh disana” saran Indri.
“Bener juga lo Ndri, elo ya Renal
bisanya ngerepotin gue aja !”
Neva pun mengambil kayu panjang
dan menggoyangkan dahan-dahan dengan tujuan menjatuhkan satu mangga saja, tapi
ternyata itu sangat sulit sekali karena kayu tersebut terlalu kecil untuk
menjatuhkan sebuah mangga, akhirnya Neva menyerah dengan kayu itu dan
memutuskan untuk memanjat pohonnya langsung.
“Wooy Nev jangan gila lo,
turuuuun!!” teriak Indri.
“Tenang aja gue udah biasa manjat
ko” Neva perlahan tapi pasti memanjat pohon tersebut, hingga pada ketinggian
yang cukup tinggi dia menemukan mangga yang ia cari.
“Aduuuh, Renal gue khawatir nih”
ujar Indri yang memperhatikan Neva dari bawah.
“Tenang aja kayanya dia siluman
monyet tuh, manjatnya jago banget hehe” canda Renaldi.
“Hhahh ketemu juga mangga yang
deket!” Neva meraih dahan yang akan menjadi tumpuannya untuk memetik mangga
itu. Setelah berhasil memetik mangga yang cukup besar dan matang Neva seketika
menjerit dan menjatuhkan mangga tersebut,
“Uleeeeeeeet!!! aaaaa” dahan yang
menjadi tumpuannya patah karena Neva membuat gerakan tubuh yang terlalu banyak
akibat reaksi spontannya itu. Dan seketika Neva pun terjatuh dari pohon, lalu
pingsan karena kepalanya membentur sebuah batu yang cukup besar.
“NEVAAAAA !” teriak Indri lalu
menghampiri tubuh Neva.
Renaldi yang saat itu menjadi pucat,
langsung membopong Neva yang berlumuran darah akibat kepalanya yang terbentur
keras ke rumah sakit terdekat, seketika suasana menjadi sangat panik.
“Nev! bangun lo ngga apa-apa kan?
Nev sadar Nev ayoo kita pulang jangan bercanda kaya gini dong! Nev. Nevaaa.”
Perjalanan ke rumah sakit sangat
singkat namun mencekam. Indri yang tak hentinya menangis sangat takut akan
sahabatnya itu pun tak kalah pucatnya dengan Renaldi.
Di ruangan serba putih itu, tim
dokter dengan cepatnya mengatasi Neva, membersihkan seluruh darah yang mengalir
sejak tadi. Neva tetap tak sadarkan diri, ia terpejam dengan denyut jantung
yang labil. Dan di luar ruangan, isakan tangis pun terdengar semakin parau.
Renaldi yang bersandar di tembok dengan baju penuh dengan noda darah, tertunduk
lemas dengan jantung yang berdetak kencang.
“Ndri maafin gue, ini semua salah
gue.” ujar Renaldi parau. Indri tidak menghiraukannya, yang ada di kepalanya
saat ini hanyalah Neva, ia takut bahkan terlalu takut untuk membayangkan segala
kemungkinan. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika suatu hal terjadi
pada Neva.
Dokter tak kunjung keluar dari
ruang UGD dan sudah 1 jam Neva berada di ruangan itu, dari jauh terlihat
kedatangan ayah dan bunda Neva yang sedikit berlari panik. Renaldi menceritakan
semua yang terjadi,
“Ayo kita tunggu saja dokter dan
berdoa untuk Neva, om yakin Neva anak yang kuat dia tidak akan apa-apa” ujar
ayah Neva sembari mengelus bahu sang istri yang sedang menangis mengkhawatirkan
Neva.
“Om tante ini semua salah saya,
saya janji saya akan bertanggung jawab” ujar Renaldi.
“Ngga ko sayang, ini bukan salah
siapa-siapa ini udah takdirnya Neva.” Ujar bunda Neva menenangkan.
Dokter pun keluar dengan
bercucuran keringat disekitar lekuk wajahnya,
“Tidak apa-apa, bukan masalah
yang terlalu serius hanya geger otak ringan dan kemungkinan dalam jangka waktu
1 minggu akan pulih asalkan ia melakukan pengobatan yang teratur.”
“Dok, apa boleh saya masuk?”
tanya Renaldi.
“Silahkan tapi sebaiknya jangan
semuanya, satu per satu saja dulu sebelum Neva sadar”
“Om tante, boleh saya masuk
duluan? Saya ingin memastikan keadaan Neva” paksa Renaldi.
“Boleh silahkan saja” jawab ayah
Neva yang diiringi dengan senyuman.
Renaldi pun masuk dan dilihatnya Neva
yang terbaring lemah diraihnya tangan Neva yang tak berdaya itu,
“Nev.. saat lo sadar, lo pasti
marah sama gue kan? cepet sadar dong gue gasabar pengen denger omelan lo ke gue
yang pasti kaya nenek lampir hehehe. Nev maafin gue, gue ngga maksud nyelakain
lo gue kira lo bakal baik-baik aja manjat tu pohon taunya lo kepeleset, ngga
professional banget sih lo. Coba gue bisa nangkep tubuh lo pasti ngga akan
sampe kaya gini tapi respon gue terlambat saat itu. Maafin gue ya please, gue
bakal nemenin lo sampe lo pulih tenang aja. Sebagai bukti perminta maafan gue
sama lo, pokoknya yang penting lo sadar dulu jangan kaya gini terus, serem juga
ngeliatnya Nev. Tapi lo keliatan cantik ya kalo lagi kaya gini hehehe, ketawa
dong Nev diem mulu nih gaasik. Lo pasti butuh istirahat yang banyak, gue
tinggal dulu ya gue harus pulang ganti baju. Liat nih baju gue kotor sama darah
lo, cuciin kek malah tidur lo tu yaa hehehe nanti gue kesini lagi. Bye Neva”
Renaldi pun mengelus kepala Neva yang dibaluti perban.
Dan Indri pun masuk ke ruangan
menggantikan Renaldi,
“Lo kasian banget Nev, gue jadi
merasa bersalaaaah banget. Sedih gue liat lo kaya gini, coba kalo gue aja yang
manjat pohon lagian lo sih so bisa tapi emang udah sifat lo pemberani ya Nev,
gue salut banget sama lo. Cepet sadar dong kita sekolah lagi, bentar lagi kan
pentas seni lo harus cepet masuk kita latian bener-bener ya, gue sayang banget
sama lo gue udah nganggep lo kaya diri gue sendiri. Jadi meskipun gue sehat
tapi tetep aja gue ikut lemah kalo lo kaya gini terus. Cepet sembuh ya, gue
tinggal sebentar diluar ada bunda sama ayah tuh makanya sadar dong ya. Pokoknya
ketika gue kembali kesini gue harus menemukan Neva yang sadar dan ceria lagi
oke.”
Jam besuk sudah habis, Neva pun
masih terbaring lemah dalam tidurnya. Esok hari kesadaran sedikit demi sedikit
mulai menghampiri Neva, perlahan tapi pasti mata Neva terbuka. Sangat silau
dengan ruangan yang serba putih disekitarnya, dan rasa pusing yang lumayan
menyakitkan di bagian belakang kepala Neva.
“Bundaaaa, Neva dimana? aduh
kepala Neva pusing banget” rintih Neva.
“Ini rumah sakit, kamu kecelakaan
waktu manjat pohon” jawab Bunda dengan tenang.
“Oh iya Neva inget”
“Terus dimana Renaldi?”
“Loh kok Renaldi duluan yang
ditanya? ada apanih ?” curiga bunda menggoda Neva.
“Eh iya sama Indri dimana
mereka?” Neva salah tingkah, ia sendiri tak tahu mengapa seorang Renaldi cowok
yang baru ia kenal beberapa bulanlah yang pertama ia tanyakan dari pada Indri
sahabat sejatinya.
“Mereka sekolah dong sayang, tapi
secepatnya mereka bakal kesini kok” ujar bunda sembari menyuapkan sesendok
bubur pada Neva.
“Ih gamau ah bun.. nanti aja”
tolak Neva.
“Yaudah deh tapi janji nanti
makan ya” ujar bunda.
Neva kembali berbaring
bersandarkan bantal. Bosan dan pusinglah yang ia rasakan, lalu Neva meraih
handphonenya dan mencoba online. Banyak sekali mention twitter, bbm, sms dari
teman-temannya mendoakan agar dirinya cepat sembuh. Pasti ulah Indri dan
Renaldi sehingga semua tau Neva sakit. Tapi senang rasanya diperhatikan oleh
semua temannya ternyata Neva cukup untuk berarti buat teman sekolahnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar