Sabtu, 04 Mei 2013

Novel yang ngga pernah jadi :(



Malam itu berjalan seperti biasanya, hanya saja rintik-rintik air hujan yang cukup deras yang membuat sedikit berbeda. Seolah-olah langit pun merasakan kegalauan hati Neva, dengan pandangan kosong keluar jendela Neva pun termenung akan kejadian tadi pagi yang membuatnya sangat gelisah.
“Nev, sebenernya gue suka sama lo udah lama. Selama ini gue cuma bisa pendem perasaan itu, tapi sekarang udah ngga bisa lagi. Gue mau lo tau semuanya, gue serius Nev. Gue mau lo jadi orang yang paling spesial di hidup gue. Lo ngga  usah jawab sekarang, gue tunggu jawaban lo tiga hari lagi.”
Pernyataan seorang cowok yang bernama Mario itulah yang membuat Neva bingung setengah mati. Tadi pagi cowok yang udah 2 tahun Neva kagumin itu menemuinya sepulang sekolah di depan gerbang dan tidak ada petir, badai bahkan hujan angin Mario nembak Neva. Pastinya Neva tidak percaya apa yang Mario katakan padanya, tapi pagi itu benar-benar kejadian nyata yang selama ini Neva tunggu-tunggu dan mungkin hanya sebatas mimpi yang tidak mungkin terjadi.
Tapi semuanya berubah menjadi dilema bagi Neva. Setelah Mario pergi dari hadapannya, tiba-tiba seorang cewek centil bin popular satu sekolahannya ngelabrak Neva,
“Heh lo! gue tau barusan Mario nembak lo, denger ya sampai lo nerima dia, lo bakalan bermasalah sama gue. Dia orang yang paling gue cinta, apa aja gue lakuin demi dia. Jadi gue harap lo ngerti apa yang gue omongin.“
 Cewek itu pun pergi dengan menebarkan senyum sinis, Neva tau cewek yang melabraknya  tadi itu namanya Sinta. Sinta itu anak IPS 2 yang sekelas sama Mario, dia terkenal dengan kecantikan wajahnya sekaligus profesinya sebagai model delay alias model yang tak kunjung  tenar.
Neva sangat bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang. Malam itu dia benar-benar berfikir keras, dia sangat menginginkan Mario dari dulu sejak zaman SMP kelas 3 sampai sekarang. Tapi.. tapi Neva sangat pantang untuk memiliki musuh, dia tau resiko yang akan dihadapinya kalau dia nerima Mario. Bisa-bisa satu sekolahan bisa musuhin Neva tanpa peringatan.
Akhirnya Neva mengambil ponselnya dan menghubungi sahabat yang sangat mengerti dan tau semuanya,
“Hallo? Indri? ” ucapnya pelan.
“Iya benar saya Indri ada yang bisa saya bantu mbok?” jawab Indri dengan nada centil.
“Kurang asem lo! Indri gue serius pliss bantu gue.”
“Hahaha, maap deh. Pasti masalah yang tadi pagi kan?” Neva hanya mengangguk seolah-olah Indri bisa melihat anggukannya.
“hmm menurut gue, lo ikutin aja kata hati lo. Tapi Nev.. bahaya juga kalo lo bermasalah sama nenek lampir Sinta itu. Lo jangan nerima dulu Mario untuk sementara waktu, lo liat sampe mana perjuangan Sinta untuk ngedapetin Mario. Pasti nenek lampir itu bakal cape sendiri kalo emang Mario tuh serius suka sama lo” ucap Indri panjang lebar sambil mengunyah roti coklatnya.
“Omongan lo ada benernya juga, kayanya gue setuju. Thanks honey.. lo emang sahabat gue yang nomer  1 tapi gimana kalo Mario jadi ilfeel sama gue dan dia ngga akan suka sama gue lagi, gue bingung gue pengen banget punya pacar kaya dia dari dulu, lo tau sendiri selama ini gue emang suka, gue bener-benn…”
Tiba-tiba Indri memotong pembicaraan,
“Heh lo tuh nyerocos nya kaga ketulungan ya, dengerin gue dulu kalo emang si Mario tulus sama lo, pasti dia ngga akan putus asa ditolak sama lo, dia pasti merjuangin cintanya. Tapi kalo kenyataannya beda, lo harus ambil resiko Nev. Tapi lo juga gamau kan satu sekolahan ngucilin lo, itu bakal ngeganggu lo banget. Lo tau sendiri Sinta itu cewek nekad yang sanggup ngelakuin apa aja psikopat abis daah, jangan deh Nev.. gue gamau sahabat gue galau tiap hari disekolah, ntar yang ada gue bakal ikut-ikutan jadi anak autis.”
“Yee lo sih emang udah autis dari jaman Belanda kale, iya bener juga Ndri. Gue ikutin saran lo, tapi gimana gue nolaknya ? gue harus ngomong apa?”
“Enak ajaa lo, bilang aja sama Mario..
Mario ganteng gue ngga bisa jadi pacar lo sayaang.. gue dilabrak sama nenek lampir Sinta yang tergila-gila sama lo, kalo gue nerima lo bisa-bisa gue disihir jadi tokek budug sama ntu orang. Maafin gue ya, semoga lo ngerti gue juga sebenernya sayang sama lo udah lama tapi mau gimana lagi. Kalo lo mau, kita musnahin aja ntu nenek lampir bareng-bareng, kita culik dia terus kita buang ke Papua biar dia jadi model paling cantik disana dan akhirnya bisa tenar se-Papua.”
 Seketika Neva tertawa cekikikan dan berkata,
“Parah lo Ndri hahaha udah ngantuk ya? ngaco kaya begitu, masa iya gue bilang gitu bisa-bisa Mario mengo setengah mati. Alesannya gue mau fokus belajar dulu aja gimana tuh?”
“Emang gue ngantuk, lo kenapa ngga nutup telefon biar gue bisa tidur hahaha. Hmm menurut gue agak terlalu so rajin sih ya sama basi banget, bilang aja lo belum siap pacaran sama dia. Hoamm.”
Indri pun menguap berulang kali menahan rasa kantuknya.
“Eh iya maap lagi doong Ndri.. iya udah sana gih tidur. Aduuh makasih banget banget deh berkat lo gue bisa tidur dengan tenang. Dadaah sampe ketemu besok ya cyiiin.”
Tidak ada balasan yang ada hanya bunyi tutututut..
“Dasar ini anak langsung maen tutup aja padahal kan gue belum selesai ngomong.”
Neva pun berbaring dikasurnya dan memasang musik mellow kesukaannya, sembari dia memejamkan matanya, dia terus berfikir betapa dia sangat beruntung bahwa Mario bisa suka dengannya, namun dilema itu membuatnya merelakan apapun yang terjadi bahkan mengorbankan perasaannya sendiri. Setidaknya Mario bisa terus ia kagumi walau bukan miliknya. Semua pasti berjalan dengan baik. Seketika Neva pun terlelap ditengah pekatnya malam yang senantiasa ditemani oleh gerimis sang mega yang kesepian karena bulan tak Nampak malam itu.
Keesokan harinya dimeja makan,
“Nev.. pulang sekolah langsung kerumah yaa. Anterin bunda nyalon sebentar” ujar bunda Neva sembari menyiapkan sarapan pagi.
“Aduuuh bunda baru aja kemaren-kemaren nyalon masa mau nyalon lagi sih.”
“Ini kuku kaki mamah copot satu Neva sayang, ngga bisa dibiarin dong gimana kalo jadi infeksi atau busuk di dalem kan..” belum sempat bundanya menyelesaikan omongannya Neva langsung berkata,
“Iyayayaya siap bunda.”
Bunda Neva memang sudah menginjak umur 38 tahun, tapi seiring bertambahnya umur layaknya mayoritas ibu-ibu lainnya yang semakin keibu-ibuan, justru sebaliknya. Bunda Neva ini memang unik, dia tidak ingin kalah dengan anaknya yang semakin menginjak dewasa, sebisa mungkin dia ingin terlihat muda tidak jauh dari anaknya. Dia selalu ingin tampil modis dan selalu ingin menjadi bunda yang terbuka untuk anaknya. Neva sangat senang mempuyai bunda yang bisa dijadikan tempat curhat baginya, namun sayangnya terkadang sifat bundanya yang selalu ingin update dengan fashion zaman sekarang membuat ia repot. Neva memang anak tunggal dikeluarganya, tak heran sejak kecil ia sangat dimanja oleh bunda dan ayahnya. Ayahnya bekerja sebagai direktur bank ternama di Bandung sehingga untuk masalah ekonomi, keluarga ini sangat hidup berkecukupan, namun tetap saja bunda Neva tidak ingin memperlakukan anaknya sangat manja, Neva di didik agar menjadi remaja yang rendah hati dan tidak menampakkan segalanya, tetap menjadi pribadi yang sederhana dan mau berteman dengan siapa saja itulah ajaran bunda yang selalu Neva pegang.
Sehari-harinya mereka hidup di sebuah rumah cukup megah di kawasan Dago, mereka ditemani oleh seorang pembantu yang bernama bi Nyai yang senantiasa mengurusi semuanya mengenai kebersihan dan pekerjaan rumah. Bahkan Bi Nyai ikut andil dalam membentuk kepribadian Neva sampai sekarang. Neva gadis 17 tahun yang kini duduk di bangku kelas 2 SMA Pasundan yang mengambil jurusan IPS karena menurutnya, IPS itu indah dibanding IPA yang bisa mempertemukannya dengan pelajaran Fisika. Bersama Indri sahabatnya, hari-hari terasa begitu sempurna. Indri sahabat dekatnya sejak kelas 1 SMP, mereka berbeda jurusan Indri anak IPA karena dia memang genius, mereka selalu bersama saat istirahat ataupun pulang sekolah.
Wajah Indri yang sangat Indonesia sekali dengan kulit sawo matang, hidung mancung, rambut ikal tergerai membuatnya tampak manis sekali. Sedangkan Neva, iya sangat cantik kentara sekali kecantikan bundanya yang diwariskan kepadanya terlihat sempurna dengan alis yang tebal seperti ayahnya, matanya selalu berbinar bewarna coklat terang sehingga orang-orang selalu ingin menatapnya, giginya putih bersih dengan gingsul yang membuatnya semakin manis, kulitnya yang putih serta hidung dan bibirnya yang mirip sekali dengan neneknya itu membuat dia sangat mempesona ditambah rambutnya yang lurus dan panjang. Namun Neva tidak sama sekali memperlihatkan itu, ia tetap beranggapan bahwa dirinya biasa saja sama seperti yang lainnya. Prinsipnya kecantikan itu tidak hanya dari luar, wanita akan terlihat cantik tanpa harus mengumbarnya. Semakin kita pintar untuk menyembunyikan kecantikan kita, semakin orang lain penasaran dan akan mengetahui dengan sendirinya bahwa kita benar-benar cantik. Itulah Neva, gadis sederhana yang tidak pernah mau untuk meninggikan apa yang ia miliki kepada orang lain, hal ini yang membuat Indri sangat kagum kepadanya dan mungkin hal itu pula yang menyebabkan Mario cowok ganteng dan terkenal aktif pula di bidang organisasi sekolah seperti OSIS, menyadari pesona Neva yang luar biasa itu sehingga nekad untuk nembak Neva. Selain itu, mereka juga mempunyai banyak kesamaan, Neva dan Indri sama-sama anak tunggal dikeluarganya, roti coklat jenis apapun adalah makanan favorit mereka, keluarga mereka pun sudah saling mengenal. Tak heran jika keduanya kerap dianggap bersaudara karena mereka selalu terlihat bersama dan sudah tradisi di akhir pekan mereka bisa bebas saling menginap di rumah keduanya, liburan bersama, bahkan kedekatan mereka lebih dari saudara, seolah mereka seperti menyatu satu sama lain.
“teng..teng..teng”
Bel sekolah yang menyerupai bunyi odong-odong itu berdering pertanda pelajaran ibu Mita guru sejarah yang nyaris tidak pernah tersenyum itu berakhir, tak lama Indri pun menampakan kepalanya di pintu kelas untuk menunggu ibu Mita itu keluar.
“Heh, perasaan guru sejarah lo gitu banget deh..” ujar Indri menghampiri Neva yang dari tadi nguap gajelas.
“Iya emang gitu, tau ga lo? pelajaran sejarah itu kan ngebetein abis nah harusnya gurunya menarik dong biar murid-murid ngga ngantuk dengernya, ya sengganya ngga harus cantik gimana gitu ya tapi minimal menarik perhatianlah, ehh ini boro-boro menarik ngejelasin aja suaranya pelan banget kaga ada ekspresinya lagi. Suram bangetlah itu guru.”
“Hahaha kasian banget lo, sabar aja deh justru dengan kaya gitu lo harusnya ngga tergantung sama guru. Lo belajar mandiri biar bisa nanti pas UN” Indri mulai membuka kotak makananya.
“Yee itu sih elo yang emang pinter, gue males banget kaya gitu Ndri. Mending tidur aja deh lagian ngapain kita belajar sejarah yang udah basi sih?” Neva menggerutu kesal sembari memutar-mutar pensilnya.
“Dasar pemalesan  lo, sejarah itu penting banget Nev, kita bisa belajar dari masa lalu kan ngga ada masa lalu ngga aka nada juga masa depan, semua berawal dari masa alu Nev” Indri mulai melahap roti coklat kesukaanya.
Neva terdiam, bukan memikirkan kata-kata Indri tadi apalagi mikirin ibu Mita. Neva teringat kembali akan misi besarnya untuk berbicara pada Mario, dia tidak yakin apa ia sanggup untuk menolak cinta dari Mario. Indri yang dari tadi ngeliat sahabatnya termenung sambil mangap-mangap dengan jailnya memasukan sedikit roti kemulut Neva dengan paksa.
“Puihh apaan sih lo Ndri! jail banget” ujar Neva terkaget-kaget.
“Hahaha abisnya lo ngelamun ngga ada seninya amat sampe mangap gitu, mikirin apasih?”
“Gue ngga yakin gue berani ngomong sama Mario, gimana dong? lo mau ya temenin gue ngomong sama dia nanti pulang sekolah? sebenernya sih dia ngasih waktu 3 hari buat gue mikir-mikir tapi ini harus diselesein cepet-cepet, gue ngga tahan di liatin Sinta itu Ndri.“
“Hmm, yakin lo? oke deh gue temenin tapi gue cuma ngedampingin lo aja ya jangan harap gue bantu lo ngomong” ujarnya sembari bersiap-siap keluar kelas karena bel masuk sudah terdengar sejak tadi.
Tanpa menjawab Neva pun kembali berfikir dan berharap agar nanti pulang sekolah ia benar-benar bisa untuk mengatakan semuanya di depan Mario cowok ganteng yang bisa bikin cewek satu sekolahan histeris kalo menatap cowok itu.
Saat bel pulang tiba, Neva dan Indri sudah standby di depan gerbang sekolah untuk mencegat Mario. Setelah lama menunggu akhirnya cowok tinggi yang cool abis itu muncul dari kejauhan, dan ketika mendekati gerbang Neva memanggilnya,
“Mario, gue mau ngomong sesuatu ke lo.”
Mario pun sedikit heran dan mengangkat alis tebalnya,
“Sama gue?”
“Iya siapa lagi, lo Mario kan? apa udah ganti nama tapi gue kaga tau?”
Mario tertawa dan menghampiri Neva yang semakin gemetaran,
“Iya cantik, silahkan mau ngomong apa?”
“Guue.. ma-ma-u” Neva mendadak gagap, Indri terus menyenggol Neva pertanda Neva harus benar-benar berani.
“Iya lo ngomong apasih? gajelas gitu?” tanya Mario heran.
“Gugugue..” Neva tetap gagap. Indri yang kesal langsung angkat bicara,
“Ah kelamaan lu, gini Mario Neva mau jawab semuanya, dia ngga bisa nerima cinta lo. Dia dia belum siap untuk jadi pacar lo, mendingan lo cari aja yang lain.”
Mario mangap ngedengerin Indri ngomong,
“Apa itu bener Nev?” tanya Mario, dan Neva hanya menunduk dan menganggukan kepalanya.
“Tapi kenapa? gue yakin ko lo yang terbaik lagian gue tau lo juga sebenernya ada rasa sama gue.”
“Maaf Mario, bukan maksud gue buat nolak lo mentah-mentah kaya gini tapi tolong ngertiin alesan gue, gue belum siap.”
“Belum siap berarti suatu saat nanti lo bisa siap kan?” Neva diam mendengar itu.
“Nev gua bakal nunggu lo, tenang aja” Mario mengedipkan satu matanya.
Neva pun pergi karena tidak tau harus berkata apa lagi,
“Mario, Indri gue duluan, udah ditunggu bunda” Indri terheran-heran melihat Neva.
“Sabar ya Mario, mungkin belum saatnya” Indri menenangkan Mario yang tampak syhok saat itu.
“Iya gue tau, kalo dia jodoh gue pasti ngga akan kemana kali, makasih ya Ndri.. gue cabut duluan yoo! bye..” Mario pun pulang.
“Bye.. hmm andai lo tau Mario, kalo Neva itu emang suka sama lo, dan sekarang dia terpaksa ngebohongin perasaan dia sendiri demi menghindar dari resiko masalah yang akan dia hadepin kalo ampe kalian jadian, hmm kisah cinta yang tragis” ucap Indri dalam hati sembari berjalan pulang.
Di salon langganan bunda Neva, Neva asik termenung sembari menunggu bundanya memanjakan diri. Satu jam berlalu, Neva sudah sangat suntuk di dalam salon itu, alhasil Neva pun memutuskan untuk mencari makanan,
“Gila.. lama-lama bisa jadi fosil spesies baru kalo terus gue nunggu bunda disitu” celoteh Neva.
Akhirnya burger plus ice cream vanilla menjadi pilihan Neva, sembari melahab itu semua ia duduk di sebuah bangku yang disediakan untuk umum. Tak lama tiba-tiba datanglah seorang cowok berperawakan tinggi duduk di sebelah Neva. Neva tidak menggubrisnya dan asik saja memakan burger nya. Cowok itu duduk dan menutup wajahnya dengan  kedua tangannya, kentara sekali bahwa cowok itu sedang gelisah dan galau. Neva tetap bertahan dengan burgernya. Dan akhirnya terdengar suatu  isakan kecil yang tak lain berasal dari cowok itu, kali ini Neva tertarik untuk menoleh kearah cowok disampingnya.
“Ya ampun, kenapa ni cowok? hmm gue harus gimana nih” ucap Neva dalam  hati. Dari sana isakan cowok itu tidak berhenti, Neva bingung apa yang harus dia perbuat. Jahat sekali jika ia pura-pura tak mendengar lalu pergi, tapi kalau tiba-tiba Neva bertanya dan so perhatian juga terkesan sangat tidak logis. Neva benar-benar bingung, akhirnya ia mencolek bahu cowok itu.
Tak ada reaksi apapun yang ada hanyalah isakan yang sedikit lebih keras dari sebelumnya. Neva memberanikan diri untuk bicara,
“Maaf ya, kalo mau nangis jangan disini malu tau, lo kan cowok. Cowok itu pantang untuk nangis, atau jangan-jangan lo lagi latihan untuk ikut casting sinetron? hehehe” ujar Neva dengan polosnya dan tawanya yang garing karena memang tidak ada yang lucu dari apa yang ia katakana tadi. Tak ada balasan namun cowok itu berhenti terisak dan mengusap air matanya, lalu melirik Neva sebentar dan akhirnya beranjak pergi dari kursi itu.
Neva garuk-garuk kepala walaupun kepalanya baik-baik saja, apa ia salah barusan? yang jelas cowok itu sangat unik. Meskipun hanya sedetik mereka bertatap muka namun Neva ingat betul bagaimana wajah cowok itu. Sangat tampan dan klasik, dengan hidungnya yang mancung , kulit sawo matang dan memerah karena menangis, matanya yang coklat bening merupakan suatu kesatuan yang membentuk sosok cowok itu. Tidak bisa di bilang wajah blasteran, itu wajah Indonesia asli.
“Keren juga mukanya tapi sayangnya misterius amat tu cowok.”
Malam hari, saat Neva sedang melamun diriingi oleh alunan music slow Adele, tiba-tiba bayangan wajah cowok yang tadi siang Neva temukan di mall itu muncul seketika, sangat jelas sekali bagaimana detik-detik disaat cowok itu melirik Neva, tatapannya sangat magis. Bukan tatapan keraguan bahkan tatapan sinis, itu tatapan halus seolah menarik Neva untuk lebih mencari tahu tentangnya.
“Apasih yang lo pikirin Neva? hello cowok itu cuma orang lain yang kebetulan gue temuin, dia bukan siapa-siapa pliss. Ada Mario yang selalu nunggu lo inget! aaah.” Neva berbicara di cermin seolah ia berkata kepada dirinya sendiri. Rancu sekali tragedi siang tadi, tapi mengapa harus selalu terbayang-bayang sangat jelas, dan akhirnya Neva terlelap dalam bayangan wajah cowok misterius itu.
Bel istirahat tiba, Indri langsung menghampiri meja Neva karena memang meja itu di desain khusus bagi setiap muridnya untuk satu orang jadi tidak ada kata temen semeja.
“Nev tau ga lo? ada murid baru di kelas gue, cowok super ganteng! akhirnya Nev gue nemuin tipikal yang gue suka, itu cowok sempurna banget. Mukanya Indonesia banget dan dia ngga sombong, senyumnya ituloh seakan menghipnotis gue abis-abisan” Indri menarik nafas karena selama dia bicara dia tidak sempet tarik nafas.
“Waah? baru kali ini gue liat lo suka sama cowok Ndri!! akhirnya lo normal terimakasih Tuhan.”
“Kurang asem lo, emang belum ada yang pas aja kali. Tapi sekarang udah ada Nev, lo harus bantuin gue pliss.”
“Iya pasti, gue jadi penasaran banget sama cowok itu, namanya siapa?”
“Nanti pulangnya lo ke kelas gue aja ntar gue liatin, dia duduk di depan ko. Namanya Renaldi Traditya, kalem banget sama ramah banget dia pindahan dari Jakarta loh” jawab Indri antusias.
“Oke ntar gue liat deh jadi ngga sabar, tapi si Renaldi itu jomblo emangnya?”
“Jomblo Nev!!, soalnya pas dia ngenalin diri si Ijul cowok slengean itu nanya dia udah ada yang punya apa belum dan tau ga si Renaldi jawab apa?”
“Ijul temen lo parah banget harusnya cewe kali yang nanya kaya gitu! emang jawab apa?”
“Dia jawab, belum” jawab Indri puas.
“Yampuuun gitu doang? amit dah lo dikira gue jawabannya apa gitu yang lebih manusiawi dan panjang.”
“Tapi satu kata itu bagaikan segudang kebahagiaan buat gue Nev” Indri tersenyum simpul.
“Ceilaah yang lagi kasmaran, gue doain dan pasti bantu lo deh yaa!”
“Iya makasih Nev, gue ke kelas dulu ya gue tunggu pas pulang” dan Indri pun meninggalkan kelas.
Neva yang tadinya mau ke kantin mengurungkan niatnya karena dia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya Indri kasmaran, sejak SMP setau Neva Indri acuh tak acuh dengan makhluk yang namanya cowok. Padahal kalo mau diitung berapa cowok yang naksir Indri dari yang usaha mandiri untuk ngedeketin Indri sampe yang minta bantuan Neva, dari yang tinggi sampe yang pendek, dari yang mukanya highclass blasteran, oriental dan maskulin sampe yang di bawah rata-rata nyaris mirip sama manusia bangsa purba nampaknya tak terhitung lagi jumlahnya. Neva cuek dan dingin menanggapi cowok yang naksir kepadanya. Dan hari ini seakan kapal laut yang berubah haluan, seakan benteng kokoh dalam hati Neva yang tiba-tiba runtuh, Neva naksir cowok.
Bel pulang berdering nyaring yang lebih mirip bunyi tukang icecream keliling, Neva langsung membereskan buku-bukunya dan langsung berlari keluar padahal Bu Ina guru akutansi baru hendak berdiri dan geleng-geleng kepala melihat aksi Neva yang mendahuluinya keluar. Kelas Indri memang cukup jauh dari Neva namun itu tak berarti apa-apa bagi keduanya untuk tetap saling bersama. Sedikit lagi kelas Indri, Neva semakin terburu-buru apalagi dilihatnya penghuni XI IPA 2 sudah mulai berhamburan keluar kelas. Sampai di depan pintu kelas, Neva menyeruak masuk dan “Braaaak”, sesuatu menabraknya dari depan atau lebih tepatnya Neva menabrak sesuatu karena ia memang tak memperhitungkan penglihatan dan jaraknya saat masuk.
Neva terjatuh dan tas gendongnya pun sama nasibnya,
“Aww” Neva mengerang kesakitan sembari memegang sikutnya yang sedikit lecet, sedangkan sosok didepannya sosok itu tetap berdiri tegak didepannya. Seketika Neva melihat wajah sosok itu dan ternyata,
“Itukan cowok yang nangis ngga jelas di mall itu!” ujarnya dalam hati.
Tak lama Indri menghampiri,
“Loe ngga apa-apa? make jatuh segala sih lo!” Indri membantu Neva berdiri, Neva masih ternganga kaget dengan apa yang dilihatnya sekarang.
“Lain kali, santai aja lagi kalo masuk ke kelas orang” ujar cowok itu dan langsung beranjak pulang ke luar kelas.
“Nev, itu dia yang gue ceritain tadi, dia Renaldi!” ujar Indri antusias.
“Seriusan lo? mana yang katanya ramah itu? orang tadi dia galak dan judes banget sama gue.”
“Ia tapi dia emang ramah Nev, tidak tau deh kenapa sama lo dia bisa kaya gitu! belum kenal mungkin lagian emang lo yang duluan nabrak dia tau.”
“Ngga mungkin, dia udah ta..” seketika neva menghentikan omongannya itu.
“Udah tau lo? ko bisaaa?” tanya Indri mendesak.
“Eh bukan, maksud gue udah tau gue satu sekolahan sama dia maksudnya” Neva ngeles.
Mereka pun berjalan ke luar gerbang,
“Gantengkan Nev? cool, dingin, tapi menurut gue dia tuh misteri banget.”
“Hmm lumayan, tapi juteknya kaga ketulungan, salah gue apa coba make judes banget kaya gitu.”
“Ya jelas salah lo itu nabrak dia, harusnya lo yang minta maap ke dia.”
“Minta maap? ogah banget, ko lo jadi bela dia sih?” ujar Neva kesal.
“Bukan belain dia kaliii, emang lo yang salah.”
Sesampainya di gerbang, ternyata Renaldi sedang duduk di motornya yang keren banget itu.
“Eh Nev, liat deh! Itukan Renal gih minta maap gue anterin!”
“Ha? males ah, ntar juga dia lupa.”
“ngga bisa gitu dong, ayoo biar kalian akrab dan bisa nyomblangin gue!”
Akhirnya dengan keterpaksaan yang teramat sangat demi sahabatnya yang baru perdana kasmaran ini, Neva menghampiri Renaldi.
“Ehm, heh maapin gue ya, tadi gue buru-buru baget” ujar Neva setengah hati.
            Tapi Renaldi hanya diam menatap Neva dingin lalu memalingkan wajah ke arah Indri dan berkata,
            “Eh Indri, minta no Hp lo dong, gue kan murid baru dan gue ngga tau jadwal besok jadi gue minta tolong lo ya!” Renaldi lalu mengeluarkan HP nya yang tidak kalah keren sama motornya yang langsung bisa disimpulin bahwa ia cowok tajir.
Neva mati kutu, dia tak menyangka bahwa Renaldi akan bersikap seperti itu, sama sekali tidak menggubris permintaan maafnya dan langsung minta no HP Indri seolah-olah dirinya hanya batu bahkan butiran debu disitu.
“Kurang asem banget ni cowok berasa jadi kambing conge gue!!” ujarnya dalam hati dan muka Neva pun seketika merah padam dan mundur satu langkah.
“Makasih ya Ndri ntar malem gue telfon lo” dan Renaldi pun bergegas pergi dengan motornya.
“Nev, lo liat tadi? dia minta nomor HP gue! ya ampuun ngga nyangka banget deh.”
“Iya gue liat, dan lo juga liat kan? gue malu abis, tu cowok maunya apasih! pokoknya gue kapok dan gamau lagi berurusan dengan dia! jadi lo harus usaha sendiri aja ya dan gue yakin lo bisa ko tadi aja kayanya dia simpatik banget sama lo” ujar Neva kesal.
“Yahhh, gue juga heran banget sama sikapnya tadi ke lo, tapi lo harus tetep dukung gue supaya gue bisa jadian sama cowok itu ya!”
“Yampuun kenapa lo mesti suka sama tu cowo aneh sih, coba kalo lo bukan sahabat gue pasti gue udah kasih tau gue pernah nemu si Renaldi yang ganteng, tajir, kalem, ramah menurut lo itu lagi nangis-nangis ngga jelas di mall” ujarnya tentunya dalam hati.
Malamnya suasana di kamar Neva begitu hening, Neva yang sedang asyik membaca novel yang baru saja dibelikan bundanya itu, karena Neva dan bundanya sangat gemar membaca novel, tak heran kamar yang bernuansa biru muda itu dipenuhi oleh rak-rak yang berisi penuh dengan novel. Tiba-tiba HP Neva berdering hebat memecah kesunyian,
“Hallo?”
“Lo Neva?”
“Iya siapa ni?”
“Renaldi.” Seketika Neva ternganga tidak menyangka bahwa cowok yang tadi siang membuat dirinya gendok setengah mati ini bisa-bisanya menelfon dia.
“Hmm, ada apa lo?” ujar Neva ketus.
“Ngga, gue cuma mau tanya tentang Indri. Setau gue lo temennya yang paling deket kan?”
“Iya emang, gue sahabatnya dari zaman dulu kala. Nanya apa?”
“Haha, hmm kayanya gue tertarik sama dia.”
“Ha? asli lo? ko bisa? apa ngga kecepetan?” Neva sangat kaget mendengar hal itu, dan tanpa ia sadari ada rasa sakit yang merasuki hatinya saat itu.
“Ya bisa aja, dia cantik, pinter, ramah. Lo bisa bantu gue?”
“Hmm bisa aja sih, tapi gimana ya gue belom yakin apa lo pantes buat sahabat terbaik gue itu, lo kan jutek, sombong, aneh.”
“Hahaha sembarangan lo, oke gue bakal buktiin sama Indri dan lo, kalo gue itu cowok baik, oke gue minta lo jangan bilang-bilang sama Indri dulu. Gue mau kita PDKT lama banget biar gue sama dia bakal yakin satu sama lain. Lo bisa bilang gue aneh kenapa?”
“Ya soalnya jarang-jarang kan ada cowok nangis di mall.” Hening.
“Hahaha ternyata bener dugaan gue, lo masih inget gue. Gue malu sama lo, lo cewek kedua setelah nyokap gue yang bisa liat gue nangis makanya gue galak sama lo soalnya gue takut lo ngadu ke Indri.”
“Yaiyalah gue inget, secara gue masih muda bukan nenek-nenek yang gampang lupa, emang lo nangis kenapa sih?”
“Hmm suatu saat gue pasti certain, gimana nih lo mau bantuin gue ngga?”
 “Mau bantu ngga ya? hmm mikir keras nih gue”
“Ceilaah jahat banget non, pokoknya lo bantu gue apapun caranya oke” Telepon pun terputus, Neva mengurungkan niatnya untuk meneruskan membaca novelnya itu lagi, ia membaringkan tubuhnya dan merenung. Dalam hatinya terbersit sedikit kesedihan bahwa ternyata cowok yang selalu ia bayangkan dan fikirkan semenjak tragedi di mall itu, ternyata dengan cepatnya jatuh hati pada Indri.
“Aduuuh, mikir apa sih gue? lo gila ya Nev? harusnya lo seneng akhirnya sahabat lo bisa nemuin orang yang tepat” ujarnya. Kini perasaannya benar-benar tak menentu, dengan waktu yang singkat ia bisa begitu saja melupakan rasanya terhadap Mario dan dengan kilat juga ia bisa menyukai seorang Renaldi. Dan lagi-lagi dilema menghinggapinya, ia benar-benar tidak bisa memperjuangkan rasanya ke cowok itu, ia sangat menyayangi sahabatnya. Ya benar, lagi-lagi Neva harus mengorbankan perasaannya itu demi sebuah kebahagiaan orang lain.
“Gue harus buang jauh-jauh pikiran itu dari hidup gue..” dan seiring bintang yang tertelan oleh kabut malam, Neva pun tertidur dengan pulasnya.
Esok pagi, Indri sudah standby di rumah Neva yap seperti biasa mereka akan berangkat bareng ke sekolah, karena rumah Indri pun tak jauh dari kediaman Neva hanya beda perumahan saja sehingga untuk menuju rumah Neva ia hanya perlu naik ojeg atau becak.
“Ndri gapapa kita naek motor? motor baru nih gue males minta mobil” tanya Neva sembari melahap sarapan rotinya.
“Ya sebenernya ngga level sih, tapi okedeh daripada kita kena macet” ujar Indri terkekeh.
“Belagu lo ya, hahaha oke nih ambil helmnya kalo gue sih ogah pake helm ribet ah.”
“Loh? yaudah gue juga ngga mau pake helm, kalo lo celaka gue juga pengen banget celaka.”
“Yeee ngikutin gue aja lo, co cwiiith ih.” Neva mengedipkan mata sembari bergegas menuju halaman rumah untuk memanaskan motor biru matic nya yang baru saja dibelikan oleh ayahnya. Setelah pamit terhadap ayah dan bunda, mereka melaju menembus dinginnya pagi yang mendung itu. Sesampainya di pertigaan jalan menuju jalan raya, tiba-tiba sebuah motor hitam yang tak sing lagi dimata mereka melaju cepat menyalip dan berhenti mendadak di hadapan mereka. Otomatis Neva tersentak lalu mengerem mendadak motornya yang menyebabkan dirinya membentur stir motor ditambah benturan dari kepala Indri mereka pun saling berbenturan.
“Awww” serentak mereka merintih kesakitan bersamaan. Lalu seseorang yang mengendarai motor hitam itu yang sekaligus menjadi dalang utama tragedi ini pun membuka helmnya dengan tenang, maka terlihatlah sosok cowok ganteng dan gagah dengan jaket coklatnya yang tak lain adalah Renaldi. Renaldi dengan tenangnya menghampiri Indri yang sedang mengusap-ngusap kepalanya yang terbentur,
“Lo ngga apa-apa? sini gue usapin!” Renaldi lalu mengusap-ngusap kepala Indri, Indri yang hanya ternganga melihat sikap cowok yang satu ini kemudian turun dari motor.
“Ngga apa-apa? sakit bangeeet gilaaa, apa-apaan sih lo make berenti mendadak di depan gue? lo kira ini jalan emak lo yang bisa seenaknya berenti tanpa liat pengendara lain?” sentak Neva dengan cukup emosi.
“Nyantei nona, galak banget kaya anjing galak depan rumah gue aja, gue cuma mau ngejemput Indri kok.” Renaldi mengedipkan satu matanya terhadap Indri yang membuat cewek itu malu setengah mati.
“Hello? Indri kan udah semotor sama gue kali, ya ngapain juga lo mau jemput dia?”
“Yeee, ya suka-suka gue dong lo nyolot banget sih jadi cewek!” di sisi lain Indri mencoba menguasai dirinya dan menarik nafas,
“Oke, Indri lo sama cowok sinting ini aja ya, kan kalian sekelas jadi kalo kalian TELAT ya ngga apa-apa kalian bisa cari alesan yang pas.” Ujar Neva menekankan kata telat karena memang mereka pasti telat kali ini.
“Nah loh, kalo lo telat gimana? gue ngga enak sama lo Nev” ujar Indri merasa bersalah.
“Nyantei aje, tinggal gue certain yang sebenernya hahaha” tawa Neva sinis.
“Ya jangan dong, wah anak mamih lo ya tukang ngadu!” ujar Renaldi.
“Masi mending gue dari pada lo anak dugong! lagian bercanda kali, tenang aja gue masih manusiawi kaga kaya lo!” hardik Neva. Lalu Renaldi menarik tangan Indri untuk menuju motornya sembari berkata,
“Ayo Ndri mendingan lo sama gue, lebih aman dan ngga amatiran nyetirnya kaya temen lo itu” Renaldi tersenyum simpul pada Neva. Seketika Neva terpana akan senyum itu, namun ia sadar ia tak boleh seperti ini. Lalu motor Renaldi dan Indri melaju diatas rata-rata, lalu Indri dengan riangnya melambaikan tangan,
“Dah Nevaa, ati-ati ntar istirahat gue ke kelas lo yaa!” ujar Indri. Setelah mereka menghilang dari pandangan, Neva merapihkan bajunya sembari menggerutu kesal,
“Kurang asem tu cowok, kenapa sih gue harus berurusan sama dia. Mana ini sakit banget lagi kepala gue, tapi dia malah ngatain gue pengendara amatiran, arrrghh sial!” keluh Neva sembari menghidupkan mesin motornya dan bergegas menuju sekolah sebelum telat.
Bel sekolah pun berdering tepat disaat Neva menaruh tas dibangkunya dan duduk dikursinya, meskipun dirinya tidak telat tapi tetap saja perasaannya sangat tidak karuan karena kejadian tadi pagi, ditambah sakit di kepalanya yang cukup memusingkan membuat Neva tak berniat untuk memperhatikan Bu Ida guru geografinya. Padahal geografi adalah mata pelajaran favorit Neva, sangat aneh memang karena teman sekelas Neva tak satupun ada yang mempunyai niat untuk sekedar memperhatikan Bu Ida, pasalnya guru itu sangat flat dan berbakat untuk menjadi pendongeng yang handal, maka disaat Bu Ida memulai untuk menjelaskan, murid sekelas bukannya mempersiapkan catatan bahkan sekedar mendengarkan, mereka mengambil ancang-ancang untuk mengambil posisi tidur yang paling PW. Miris sekali, namun Bu Ida tetap berjuang tak pantang menyerah walaupun diantara sekian banyak muridnya itu hanya Neva yang terlihat serius mendengarkan dan mencatat penjelasannya itu.
Kali ini konsentrasinya hanya terfokus pada kejadian tadi pagi, semilir dari suara Bu Ida hampir ia abaikan. Neva membayangkan kejadian itu, disaat Renaldi sangat berniat untuk berangkat bareng dengan Indri dengan segala cara, meskipun pada akhirnya Nevalah yang harus menahan rasa sakit lahir maupun batin. Tak bisa ia pungkiri bahwa Neva iri terhadap Indri yang sangat diperlakukan special oleh cowok itu, cowok murid baru teman sekelas Indri yang baru saja ia kenal di mall itu. Mungkin itulah cinta atas pandangan pertama, disaat Renaldi yakin akan Indri dia tidak ingin basa-basi lagi, cowok itu bersikukuh mendekatinya tanpa ia lihat lagi cewek-cewek cantik yang bejibun di sekolahnya. Dibayangkannya kembali pula bagaimana cowok itu memberikan senyuman indahnya padanya, sedetik namun berkesan menghipnotis dirinya ke alam bawah sadar bahwa ia benar-benar terpukau. Tapi kembali ia disadarkan oleh kenyataan bahwa Renaldi sama sekali tidak menyukai dirinya, melainkan sahabatnya sendiri yang sangat ia sayangi yang akan ia berikan segalanya demi sahabatnya yang sudah menjadi bagian dari hidupnya, yang selalu ada disaat keadaan apapun, dan Neva bertekad bahkan berjanji bahwa ia akan tetap memperjuangkan sahabatnya itu, jangankan perasaannya bahkan jiwa raganyapun ia siap. Itulah persahabatan sedarah yang mereka jalin, karena meskipun mereka tak ada sama sekali hubungan darah. Tetapi seolah mereka dipertemukan untuk menjadi sahabat sejati, karena perasaan saling menyayangi itu lebih dari batas persahabatan, mereka rela melakukan apapun demi mereka tetap bersama, demi apapun hanya waktu dan maut yang bisa memisahkan mereka.
Seperti dahulu, waktu mereka menghadiri acara perpisahan SMP yang bertemakan mask party di malam hari, saat itu mereka menuju sebuah tempat di bawah pohon yang rindang. Dengan ditemani cahaya satu lilin yang sengaja mereka bawa, mereka mengikrarkan satu janji bahwa mereka akan selalu bersama apapun rintangan akan mereka perjuangkan bersama, dan hanya waktu dan mautlah yang berhak memisahkan mereka. Lalu mereka membelitkan kelingking di atas api lilin itu, lama sekali dalam keharuan dan air mata dalam keheningan malam, mereka terus mempertahankan kelingking itu sampai rasa panaspun tak mereka pedulikan, alhasil kelingking mereka sama-sama meninggalkan luka bakar yang sama, sebagai bukti bahwa mereka telah sama-sama berikrar demi apapun untuk memperjuangkan persahabatan mereka. Dan bagai saudara kembar, tak ada hari atau hal apapun yang terlewatkan satu sama lain, meskipun disaat momen mereka harus terpisahkan maka esoknya atau detik itu juga mereka akan menceritakan segalanya tentang apa yang terjadi disaat mereaka tak sedang bersama, sungguh kisah persahabatan yang klasik dan agung.
Neva tetap bertekad sekuat tenaga ia akan mengabaikan perasaan ini walau sulit rasanya, dan semua butuh proses ia yakin pasti ia bisa menjalani semuanya. Tiba-tiba sekelompok anak OSIS datang dengan mengetuk pintu membuyarkan semua lamunan Neva.
“Assalamualaikum Bu..” ujar Mario yang menjadi pemimpin anak OSIS tersebut.
“Ia silahkan saja” ujar Bu Ida seolah ia tau apa maksud kedatangan mereka. Seketika sekelompok OSIS tersebut masuk memenuhi rauangan depan kelas, dan Mario membuka pengumuman yang membuat Neva tersentak kaget,
“Teman-teman berhubung akan di selenggarakannya pentas seni disekolah kita kuarng lebih satu bulan lagi, kami mohon partisipasinya dari setiap kelas dengan mengirimkan perwakilan untuk mengikuti berbagai lomba yang disediakan, untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami di ruang OSIS. Sebelumnya apa ada yang ingin ditanyakan?” tanya Mario dengan sangat wibawa.
Neva yang daritadi menyimak apa yang dibicarakan Mario sontak mengacungkan tangan,
“Kalo bo.. boo lehh “ seketika Neva menjadi gagap karena saking gugupnya.
“Iya boleh apa? “ tanya Mario dengan tenang dan senyum khasnya yang membuat Neva semakin gugup.
“Hmm.. kalo boleh tau bidang lomba apa saja yang akan dilombakan” akhirnya suara itu keluar  juga dengan lancar meskipun nada gugup masih sedikit terdengar.
“Oh, ada 4 bidang, bidang vocal, seni lukis, tari dan seni drama, jadi masing-masing dari tiap kelas harus mengirimkan perwakilan pada masing-masing bidangnya” jawab Mario lantang.
“Oh, terimakasih” senyum Neva pun mengembang sering kepergian rombongan OSIS yang keluar kelas dan akhirnya suasana kelas pun menjadi ribut karena sibuk membicarakan lomba tersebut. Neva sendiri kemudian berfikir mengenai lomba itu, ia sangat berminat dalam bidang vocal meskipun ia tau suaranya itu tak begitu enak di dengar dan orang-orang sekitarnya pun tak ada yang menyangka bahwa Neva gemar sekali bernyanyi, tentunya hanya Indri yang tau maka ia akan meminta pendapat Indri akan hal ini.
Akhirnya bel istirahat pun berbunyi kali ini bunyi itu laksana bunyi surga bagi setiap murid yang sudah muak dengan belajar, atau yang sangat kelaparan dan siap menyerbu kantin terdekat, atau yang ingin mencoba menjadi pelajar tulen dengan pergi menuju perpustakaan. Dari sekian banyak pilihan itu, Neva mengeluarkan kotak makanannya dan melahab roti coklat yang telah disiapkan oleh bundanya, karena memang bunda Neva sangat menjaga makanan ia tidak ingin anaknya terkena penyakit aneh karena makanan yang sangat tidak sehat yang biasanya diproduksi oleh kantin-kantin sekolah. Lalu terlihatlah sosok cewek lugu dan cantik sedang terburu-buru masuk dan menduduki bangku kosong yang ada di dekat Neva, tentunya Indri. Semangat Indri sangat menggebu-gebu dan siap menyerbu Neva dengan brondongan cerita-ceritanya,
“Nevaaa lo tau ngga?” ujar Indri membuka narasi ceritanya itu dan Neva hanya menggeleng-geleng kepala karena sibuk dengan rotinya itu.
“Tadi pas gue semotor sama dia, dia cerita banyak sama gue, ternyata orangnya asik Nev. Dia juga cerita kalo dia suka banget yang namanya mancing! gue banget kan? aduh gatau deh kenapa hobinya itu bisa sama. Dan lo tau? dia pindah posisi bangkunya jadi di sebelah gue! dia minta gue ngajarin pelajaran kimia, fisika, sama matematika. Hebatnya lagi otaknya cepet nangkep banget Nev. Sekarang lo pegang ini!” seketika Indri menarik lengan Neva dan diletakkannya di bagian dada atas tepat dimana posisi jantungnya berada. Sangat jelas sekali denyut jantung yang sangat keras juga nyata sedang ia rasakan.
“Lo bisa rasain ini kan? gue ngga tau lagi harus ngomong apa, jantung gue seolah-olah bereaksi keras disaat gue sama Renaldi. Neva apa ini yang namanya cinta?” Indri menatap kosong kearah papan tulis seolah ia yakin atas pertanyaannya itu. Neva yang sejak tadi menghentikan aktivitasya, lalu tersenyum dan berkata,
“Ndri denger gue, emang yang lo rasain itu.. adalah cinta. Perasaan ngga karuan yang bahkan bisa buat lo jadi gila, rasain lagi semua itu dengan tulus dan bener, lo bakal ngerasain nantinya gimana kalo lo bisa menyayangi dia dengan yakin pasti lo bakal selalu ngerasa nyaman ada di deket dia.”
“Iya Ndri lo bener, tapi tunggu perasaan itu udah gue dapetin saat gue punya mamah papah dan sahabatan sama lo! cuma bedanya jantung gue tidak berdetak kenceng kaya gini” ujar Indri dengan polos.
“Oon banget sih lo, ya jelas beda ini tuh perasaan terhadap lawan jenis Ndri jangan samain sama gue amit-amit lo bisa cinta sama gue, meskipun sering patah hati gue juga masih normal kayanya.” Tawa meledak pecah diantara keduanya.
“Gila lo ya, gue juga masih sangat normal dan kalaupun gue lesbi kayanya gue pikir ulang lagi kalo pasangannya elo!” langsung saja cubitan cukup keras melayang di tangan Indri. Disaat Neva ingin membicarakan soal pentas seni sekolah, ia urungkan niatnnya karena Indri pun langsung kembali ke kelasnya,
“Nev gue balik ya, oiya pulangnya kita ngga bisa bareng gue dianter Renaldi hehehe” dan Indri pun segera bergegas menuju luar kelas sebelum Neva membalasnya,
“Tapi kan lo bilang lo mau nemenin gue nyari kaset” sia-sia saja karena Indri sudah menghilang dari pandangan. Neva termenung bukan ia sedih atas prilaku Indri tadi, dia bisa sangat memaklumi prilaku sahabatnya itu, ia sama sekali tak keberatan sedikitpun, tapi ada secuil rasa takut yang menghinggapi pikiran Neva bahwa hari-hari berikutnya intensitas kebersamaan mereka akan berkurang, pastinya Renaldi akan berusaha keras dalam rangka PDKT dadakannya itu kepada Indri yang akan membuat sahabatnya itu jauh dan semakin jauh. Tapi Neva segera mebuang pikiran itu jauh-jauh ia yakin Indri tidak akan seperti itu, ia yakin sahabatnya akan selalu ada untuknya.
Saat istirahat berakhir, Dion yang merupakan ketua murid di kelas menghampiri Neva,
“Neva lo kita pilih jadi perwakilan lomba di bidang vocal yah? soalnya kita percaya ke elo ko, yaa meskipun kita kaga pernah denger lo nyanyi tapi teriakan lo yang bisa mencapai oktav tinggi itu bisa meyakinkan kalo lo bisa nyanyi, gue harap lo bisa maksimal yah. Makasih” dan Dion pun kembali ke bangkunya,
Neva ternganga, dia cukup kaget atas suruhan atau mandat dari sang ketua. Ia pun bingung yang Dion katakan tadi itu pujian atau sindiran. Neva tak habis fikir dengan Dion, tapi Neva siap. Bukankah ini kesempatan untuk menyalurkan hobinya? dan detik itu Neva bertekad untuk serius mempelajari seni vocal dan tidak menyia-nyiakan kepercayaan si Dion itu yang terkenal ambisius. Ingin sekali rasanya ia menceritakan ini pada Indri, bisa saja sih lewat SMS atau telpon tapi lagi-lagi ia urungkan karena ini bukan saat yang tepat karena tanpa ceritanya ini pun, Indri kini sangat bahagia.
Sepulang sekolah ia berjalan menuju gerbang sendirian, saat diparkiran sekolah ia melihat dua sejoli yang sedang dalam masa kasmaran pun terlibat sebuah percakapan yang hangat, sehingga sangat rancu jika ia tiba-tiba menyapa Indri yang sedang asyik bersama Renaldi, mereka kini sedang asyik bercanda terlukis jelas tawa kebahagiaan, tawa yang didasari akan cinta. Sehingga tanpa sadar Neva pun terhanyut dalam senyuman simpulnya, ia senang sahabatnya bisa seperti itu, dan beruntungnya Indri ia bisa mencintai dengan balasan dicintai tanpa halangan, dan jika Neva sudi untuk berkaca ia dan Mario sama-sama saling suka namun sayangnya Sintalah tembok pembatas menjulang diantara mereka karena semua orang tau Sinta sangat kecanduan untuk mendekati Mario tanpa lelah, meskipun Mario tak membalas dengan respon yang berarti tapi hal itu seakan membuat Sinta semakin kuat dan pada akhirnya Mario pun pasrah dan menyerah untuk menanggapi cewek cantik itu dan membiarkan Sinta untuk mendekatinya dengan judul hanya sebatas teman sekelas.
Tapi lambat laun Neva menyadari kenyataan bahwa  perasaannya kepada Mario baru berakhir di ambang rasa suka belum mencapai mencintai bahkan menyayangi sehingga ia tidak memperjuangkan hal itu dan  rela menolak Mario demi ketenangannya di sekolah karena tatapan muka dengan Sinta saja ia sudah anti apalagi ia harus beradu mulut atau fisik, Neva bukan takut hanya saja ia benci untuk mempunyai musuh. Neva mengendarai motornya dan langsung menuju tempat penjualan kaset terdekat, kebetulan sekali ia ingin mencari music baru dan sekalian saja ia mengincar kaset-kaset karouke berbagai lagu yang ia suka untuk berlatih dirumahnya. Neva senang sekali dengan genre music pop mellow dan jazz, alhasil ia mendapati bayak pilihan kaset yang ia inginkan meskipun terasa asing ia melangkah sendirian tanpa ada Indri. Neva berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mengincar satu per satu lagu yang ia inginkan. Saat ia mampir ke toko kaset bernama “AllOfMusic” ia terkaget-kaget karena didapatinya Mario sedang mencari kaset sama sepertinya,
“Hey Ndri.. ngapain nih ngikutin gue?” tanya Mario kepedean.
“Ha? GR banget lo, gue lagi nyari kasetlah.”
“ohh sama nih ko bisa sama ya? orang bilang kalo ketemuan secara kebetulan  itu sejurus sama jodoh loh” ujar Mario diiringi dengan kedipan mata yang membuat Neva malu.
“Apaan sih, itu mah hipotesis purba masih aja di pake” Neva menjulurkan lidahnya dengan ekspresi mengejek dan akhirnya keduanya pun terlibat pembicaraan yang seru dan menarik mengenai music, wawasan Mario mengenai music jauh lebih luas, ia tahu segalanya karena keluarganya berada di lingkungan musisi maka tak heran Mario seperti itu. Saat mereka telah mendapati kaset yang mereka inginkan, akhirnya mereka pamit pulang,
“Sayangnya lo bawa motor Ndri, kalo tidak gue jemput lo ampe rumah bahkan depan kamar lo pun gue bisa” Mario tertawa simpul atas perkataanya.
“Hahaha gila kali ya lo, yaudah deh udah sore gue cabut duluan ya bye” Neva pun meluncur kearah yang berlawanan dengan arah pulang Mario.
Esok pagi, Neva berangkat pagi kesekolahnya karena kali ini ia tidak akan berangkat dengan Indri, pastinya Renaldi penyebabnya karena sebenarnya Indri menolak ajakan cowok itu pagi ini tapi yang namanya Renaldi ya tidak akan mudah menyerah ia pasti menggunakan akal bulusnya sekuat tenaga demi melancarkan serangan PDKT nya itu. Neva menganggap itu masih dalam batas wajar, toh dia sendiri pun pernah memperlakukan Indri seperti itu saat jaman SMP dulu ketika ia ada di posisi Indri sekarang, beruntungnya Indri karena Renaldi itu sangat unik andai saja ia ada di posisi sahabatnya itu sekarang tapi otomatis ia menghilangkan pemikirannya itu karena ia tau itu pemikiran terlarang.
Sesampainya disekolah, rupanya Neva benar-benar terlalu pagi datang kesekolah. Gerbang sekolah pun belum semua terbuka hanya sebagian, suasana pagi disekolah sangat asing, tidak dilihatnya segerombolan anak kelas satu yang biasanya memenuhi lapangan sepak bola atau lapang basket, pintu-pintu kelas pun belum sepenuhnya terbuka. Apalagi koridor-koridor, seakan semua kosong dan hanya ada Neva disana ia seperti memiliki sekolah sendiri itulah sensasi kepagian datang ke sekolah. Dengan santai Neva berjalan melewati koridor utama sembari memainkan HP nya untuk sekedar online jejaring sosial, tapi tiba-tiba seperti adegan perampokan, seseorang memegang pundaknya dengan kasar dan membalikan tubuhnya kebelakang secara cepat, belum sempat ia sadar akan kejadian itu lalu seseorang itu menghempaskan tubuh Neva sampai ia terombang-ambing ke belakang dan nyaris jatuh dengan refleks Neva langsung mempertahankan keseimbangannya dengan memegang tiang koridor alhasil HP yang ia pegang tadi jatuh terbanting ke tanah sehingga HP nya berantakan tak utuh lagi, melihat itu Neva sangat emosi dan menatap dalang dari semua ini yaitu Sinta, si model delay cantik itu. Sinta berdiri tegang dengan mata yang menatap Neva secara bringas yang membuat semua tahu bahwa ia sedang marah bahkan murka. Belum sempat Neva berkata apapun rupanya amarah Sinta belum selesai sampai disana, Sinta menampar pipi kanan Neva dengan kerasnya sehinga menimbulkan suara yang keras dan jelas,
“Itu untuk lo cewek yang gatau diri!!” Neva yang nyaris tersungkur itu hanya diam memegan pipi kananya yang sakit luar biasa, dan seketika tamparan kedua yang tak kalah kerasnya pun melayang di pipi kirinya yang membuat ia tersungkur ke lantai.
“Dan itu untuk lo cewek gatel yang berani ngedeketin Mario!!” senyum puas pun mengembang di wajah Sinta seketika Neva tau mengapa Sinta memperlakukannya seperti ini, rupanya ia tau tragedi di toko kaset kemarin walaupun Neva yakin tak ada Sinta saat itu, dan tiba-tiba tubuh Sinta ditarik secara kasar oleh seseorang yang berada di belakangnya, Indri menatap Sinta sangat marah dan “Plaak” bunyi tamparan yang dilayangkan ke pipi Sinta yang sangat keras,
“Itu buat lo yang lebih dari gatau diri!!” bentak Indri yang langsung menampar ulang,
“Dan itu buat lo yang berani nampar sahabat gue !!”
Sinta merintih kesakitan,
“Apa-apaan sih lo! lo sama sahabat lo emang sama-sama gatau diri!” Sinta pun pergi.
Indri langsung merangkul Neva untuk berdiri, dilihatnya kedua pipi sahabatnya itu sangat merah padam akibat ulah Sinta.
“Nevaa, lo ngga apa-apa?? kurang ajar banget sih Sinta!!”
“Gue ngga apa-apa, cuma puyeng aja nih gila tamparannya keras banget!” ujar Neva yang masih terus memegang pipinya,
“Pulang aja yu gue anterin”
“Ngga usah deh, lo mau nganter gue? lo kan gabisa baek motor Ndri” ujar Neva sedikit bercanda,
“Pipi lo merah banget, iya sih tapi kan ada Renaldi” Neva pun melihat kearah samping dan memang benar Renaldi yang dari tadi berdiri santai disana sedang menatapnya dengan tatapan iba.
“Ogah ah gue kuat ko kecuali kalo si Sinta dateng lagi dan nampar gue lagi baru gue bisa pingsan!eh makasih banget Ndri, harusnya lo diemin aja si Sinta, gue takut lo jadi kebawa-bawa sama masalah ini.”
“Ia pantesan perasaan gue ngga enak makanya gue nyuruh Renaldi ngebut dan maaf gue dateng telat tapi gue puas udah ngebales tamparan dia ke lo! gue ngga rela lo di gituin sama dia!”
“Dan harusnya elo yang bales bukan Indri” Renaldi ikut angkat bicara,
“Gue ngga berani, gue lebih milih diem aja daripada dia lebih dari nampar gue tapi secepatnya pasti dia bakal nyerang gue terus padahal kemarin tuh kebetulan aja gue ketemu Mario, gatau kenapa Sinta tau kejadian itu bener-bener psikopat banget dia” jelas Neva, sembari bangkit berdiri dan membenaran seragamnya yang kusut.
“Jangan takut, ada gue ko!” jawab Indri singkat tapi makna dari katanya itu sangat dalam dan mengharukan sehingga memuat Neva tersenyum dan memeluknya sembari berkata,
“Makasih Ndri, gue kira tadi gue bener-bener cuma sendirian, ternyata gue ngga pernah sendirian karena lo selalu ada buat gue makasih” bulir air mata pun tak dapat ditahan Neva untuk jatuh menyentuh pundak Indri, mereka pun hanyut dalam pelukan dan tangisan Neva.
“Aduh berasa nonton sinetron aja nih gue, ayo dong udah pada rame nih sekolah lo pada ngga mau kan disangka orang gila nangis pelukan pagi-pagi di tengah koridor gini, ntar orang nyangka gue pangeran yang diperebutkan dua cewek lagi” ujar Renaldi dengan gelagatnya yang masih terlihat cool dan tampan.
“Alaah lo sirik kan bilang aja pengen di peluk Indri wuuu” balas Neva yang kemudian melepaskan dan mengusap air matanya sedangkan Renaldi hanya diam tersenyum simpul seolah membenarkan pernyataan Neva. Lalu Neva memungut HP nya yang sudah tak terbentuk dan bernyawa lagi akibat dari bantingan tadi,
“HP gue rusak fatal gini! arggh si Sinta emang kebangetan” kesal Neva,
“Aduh gue ngga tau kalo HP lo juga dibanting, tau gitu gue banting balik HP nya tadi atau mau sekarang aja gue ke kelasnya si Sinta dan gue banting HP nya sampe rusak parah?” ujar Indri serius.
“Ngga usah Ndri!! kurang kerjaan aja sih lo, udah ngga apa-apa tinggal beli lagi ntar HP mah gampang lah kalo elo yang di banting balik sama Sinta kan repot juga urusannya”  tawa kecil Neva pun keluar.
“Ya ngga lah, gue tidak akan kalah kalo udah soal belain elo, oiya Renal.. lo duluan gih ke kelas gue mau nganter Neva dulu” Renaldi pun menurut tapi sebelum bergegas ia menghampiri Neva dan dengan tenang ia mengelus pipinya dan berkata,
“Sabar yah bentar lagi juga merahnya ilang, maaf tadi gue ngga bisa apa-apa dia cewek sih kalo cowok udah gue hajar dari tadi” Renaldi pun langsung berlalu ke kelasnya. Indri yang ada di samping Neva hanya tersenyum sama sekali tak merasa cemburu pada Neva justru ia semakin kagum pada cowok itu yang sangat lembut terhadap cewek.
“Si Sinta pengecut banget maenannya di tempat sepi, kalo gue sih mau di lapangan juga hayu aja pokoknya gue ngga akan biarin dia kaya tadi lagi sama lo!” ujar Indri saat mereka menuju kelas Neva, namun Neva terhanyut dalam lamunannya, ia kaget atas apa yang Renaldi lakukan padanya meskipun itu hanya menghibur, tanpa tujuan yang lain tapi membuat jantungnya bergetar hebat saat Renaldi berkata seperti itu.
“Nev, lo denger gue kan?” Indri mencolek tangan Neva yang membuatnya sadar akan lamunannya,
“Eh iya makasih banget Ndri, gue ngga nyangka lo bakal kaya gini”
“Iya sama-sama gue yakin kalo lo ada di posisi gue pasti lo bakal ngelakuin hal yang sama bahkan lebih dari gue” lalu Neva pun kembali akan lamunanya membuat Indri curiga dengan keadaan Neva tapi ia tak mau ambil pusing, Indri tahu bahwa sahabatnya itu pasti masih merasakan sakit di pipinya yang masih memerah itu.
Sesampainya di kelas Neva yang sudah berpenghuni itu, salah seorang cowok bandel bernama Stevan menggoda Neva karena melihat keadaan wajahnya yang benar-benar merah,
“Wuiiih pipi lo Nev merah banget, pake make up lo ya? nambah cantik ko” goda Stevan.
“Apaan sih lo, ini tuh asli bukan make up!” balas Neva.
“Hahaha habis di gampar satpam lo? nyolong helm di parkiran lo ya pasti! Hahaha” tawa Stevan semakin keras.
“Heloo, lo pikir joke lo itu lucu? apa gue harus salto ngedenger candaan lo yang garing itu?” jawab Indri membela Neva.
“Busyeet dah ni anak belagu bener, eh seriuan si Neva kenapa bisa kaya gitu sih?” tanya Steven.
“Wuu kepo banget lu! ini bukan urusan lo” jawab Neva.
“Ini cewek bener-bener kaya anjing galak, pada lagi PMS lo pada ya?” ujar Steven usil yang kemudian kabur ke luar kelas karena Indri sudah siap melempar penghapus papan tulis kepadanya.
Akhirnya Indri bergegas membeli es batu di kantin buat ngompres pipi Neva, perlahan tapi pasti ditempelkannya plastik berisi es batu itu ke pipi Neva,
“Aww sakit Ndri lo mau nyiksa atau ngobatin gue ya?” Neva meringgis.
“Idih tahan dulu ini biar pipi lo ngga bengkak dan sembuh!”
“Iya deh, lo baik bener. Kalo ngga ada lo gue udah nangis dari tadi, lo alesan gue bisa tegar kaya gini, makasih Ndri” Neva pun tersenyum.
“Telinga gue udah bosen daritadi lo bilang makasih terus, nyantai aja kali ini tuh buat gue emang suatu keharusan, dimana lo lagi susah ya gue harus bantu lo, makin lama makin kaya sinetron aja kejadian pagi ini” Indri tertawa cekikikan.
“Iya bener, tapi yang penting kita mah bukan sandiwara kan?”
“Iya beneran, ini bukan scenario ini tentang kisah kita yang emang nyata.”
Bel berdering nyaring, akhirnya dengan keadaan pipi yang sudah mulai membaik Indri pun bergegas ke kelasnya. Pelajaran pertama adalah kesenian yang di gurui oleh Pak Nugraha, kali ini mereka mempelajari definisi seni.
“Baik siapa yang ingin mengeluarkan pendapat kalian mengenai apa itu seni menurut kalian? silahkan acungkan tangan!” ujar Pak Nugraha.
Dengan semangat juang yang tinggi meskipun Neva masih sedikit merasakan sakit di pipinya, Neva acungkan tangannya.
“Ya! silahkan Neva.”
Dengan satu tarikan nafas panjang Neva mulai menjawab,
“Menurut saya pak seni itu seperti sahabat, kita tidak bisa melihat bentuk perasaanya tapi kita bisa merasakan ketulusan dan kehangatannya, seni juga demikian.. kita tidak bisa melihat wujudnya tapi kita bisa rasakan keindahannya pak. Seperti sahabat yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, begitupun seni yang seakan menjadi kebutuhan primer dan mendarah daging untuk setiap insan. Sahabat alasan saya untuk hidup dan semangat sama seperti seni sebagai inspirasi utama setiap manusia untuk mengapresiasikan segalanya dan menurut novel yang pernah saya baca pak, D’Arcy Hayman menyebutkan bahwa seni itu ekspresi, menarik dan menyenangkan, sebuah perekaman, sesuatu yang integral, interpretasi kehidupan, sebuah intensifikasi, komunikasi, reformasi, keteraturan, dan sebuah penemuan. Dan saya sangat setuju dengan argument tersebut pak. Tanpa seni hidup itu tabu, karena senilah yang memberi warna dan bumbu kehidupan dan hanya sejatinya waktu yang bisa memisahkan ketergantungan seni dengan kehidupan pak” seketika suasana kelas begitu hening dan langsung terdengar tepuk tangan meriah dari seisi ruangan kelas.
“Bagus sekali Neva, tingkatkan itu” ujar Pak Nugraha sembari mengangkat satu jempolnya untuk Neva. begitulah Neva, aktiv di kelas jika memang ia bisa dan mampu  karena ia bertekad bahwa meskipun dirinya adalah jurusan IPS semua itu tidak mengubah apapun, ia harus membuktikan kepada semuanya bahwa anak IPS itu sama saja, bahkan bisa menyetarakan anak IPA yang dijuluki jurusan paling bergengsi. IPA maupun IPS adalah sama karena di dalamnya kita sama-sama mempelajari ilmu pengetahuan, jadi salah besar jika jurusan IPS itu disepelekan karena semua sama saja tinggal bagaimana diri kita menempatkan dan mengambil keputusan untuk menjadi murid pintar atau murid bodoh dan sayangnya pilihan kedua itu sering diminati para murid bandel yang kebetulan secara paksa dimasukkan ke jurusan IPS. Neva dan Indri adalah bukti nyata dari semuanya, meskipun mereka berbeda jurusan namun mereka unggul dalam bidangnya masing-masing terkadang mereka saling berbagi dan melengkapi apa saja yang mereka pelajari. Terbukti keduanya adalah juara umum bertahan di masing-masing jurusan, sepasang sahabat yang memang terpandang istimewa di mata semuanya karena hampir tidak ada batas sedikitpun di antara mereka. Saling terbuka, selalu bersama, dan saling mengerti maka itulah yang membuat persahabatan mereka abadi tak tergoyahkan.
Pulang sekolah, Indri langsung menghampiri Neva di kelasnya,
“Ayo pulang, lo bawa motor kan? gue nebeng yah sampe rumah lo aja” ujar Indri.
“Loh? tidak bareng Renaldi nih?”
“Ngga, gue pengennya sama lo sekarang.”
“Asikk oke deh, tapi mampir ke tempat counter HP dulu ya?” ajak Neva.
“Boleh boleh, lo kan supir gue yang bisa bawa gue sesuka hati lo” Indri tertawa kecil.
“Lo kata gue tukang ojeg!”
“Iya memang, ojeg yang selalu mengantarkan hatiku ke hatinya Renaldi” Indri tertawa keras.
“Gombal banget sih lo, gila ya sekarang lo udah bisa gombal nih!”
“Hehehe hayu ah langsung caw!”
Mereka pun bergegas meunuju tempat pusat jual beli HP karena Neva ingin langsung mengganti HP nya yang mirip rongsokan itu dengan yang baru. Dan sesampainya di sebuah mall besar yang terdapat tempat khusus untuk membeli HP,
“Lo mau langsung beli HP Nev?” tanya Indri.
“Iya, gue bawa kartu kredit ko. Duit tabungan gue Ndri.”
“Lo ngga bilang sama nyokap dulu?”
“Ngga usah, lagian emang gue lagi nabung untuk HP dan kebetulan hari ini memang  saat yang tepat. Lo mau gue beliin juga Ndri?” tanya Neva serius.
“Oh dasar orang kaya lo, ha? ngga perlu! HP gue masih bagus ko, ya asal jangan sampe gue ketemu si mak lampir aja sih, gue rasa HP gue aman hahaha” mereka pun tertawa. Lalu setelah cukup lama mereka mengelilingi dari satu counter ke counter. Akhirnya mereka berhenti di satu counter,
“Nev lo beli BB aja, lagi trend dan biar sama kaya Renaldi jadi gue bisa mantau dari HP lo gituu” ujar Indri meyakinkan.
“Iya sih, tapi gue takut ketergantungan Ndri.”
“Ngga bakalan, gue percaya lo bukan tipe cewek yang kaya gitu.”
Dan setelah lama berfikir, akhirnya Neva setuju dengan Indri, ia pun memilih satu tipe BB yang paling mahal. Bukan bermaksud untuk boros, tapi Neva ingin puas sehingga ia akan mengendalikan keinginannya untuk ganti HP lagi dan lagi. Lagi pula 3 bulan terakhir Neva sangat menjalankan hidup hemat, jadi wajar saja bulan ini ia sedikit boros untuk keperluannya sendiri. Begitupun dimata Indri, Neva selalu merendah meskipun jelas ia sangat layak disebut kalangan berada, dan Neva tidak pernah sungkan untuk berbagi satu sama lain. Dan setelah semuanya terlaksana, mereka pun kembali pulang. Sengaja Neva mengantar Indri tepat sampai depan rumahnya, dan saat itu Ibu Indri kebetulan sedang menyiram tanaman,
“Eh Neva, ayo masuk dulu tante punya kue nih” ajak Ibu Indri.
“Maaf tante, udah sore ditunggu Bunda. Besok-besok lagi Neva pasti kesini ko.”
“Oh yasudah, makasih loh ya Nev udah nganter anak tante.”
“Iya sama-sama itu mah udah biasa, bye tante bye Indri” Neva pun melambaikan tangan dan segera melaju kerumahnya.
Malamnya, Neva sedang asik mengotak-ngatik HP barunya. Sudah ia duga bahwa kedua orang tuanya tak mempermasalahkan itu, dan untungnya mereka tidak mempertanyakan akan HPnya yang rusak, sangat gila kalau orang tuanya tau akan penyebab dari HP lamanya yang rusak itu. Semua nomor HP teman-temannya itu ia alihkan ke BBnya, da tak lama lampu LED menyala merah tanda SMS masuk,
Nev lo invite BBM si Renaldi nih gue kasih PIN nya 24BD311, lo awasin semuanya yah dan blg ke gue klo ada apa-apa, makasih haniiiiiih.
Seketika Neva terdiam, bukan karena dia tidak tau cara nge-invite di HP nya itu melainkan lebih kepada ke perasaan deg-degan untuk siap melihat apa saja yang ada di dunia Renaldi, dan siap untuk memantau atas permintaan Indri walau sebenarnya Neva juga sangat penasaran akan kehidupan cowok memukau itu. Akhirnya 15 menit terdiam, Neva pun menekan satu per satu nomor yang merupakan pin BBM Renaldi, setelah sukses tak berapa lama bahkan tidak sampai semenit tiba-tiba kontak BBM Neva terisi satu profile yang bernama RenalTraditya dan benar saja itu adalah Renaldi terlihat sangat jelas dari fotonya yang sangat tampan, sangat lama Neva memandang foto dari DP yang terpangpang mengisi kontak pertama BBM Neva dan tanpa disadari Neva tersenyum simpul benar-benar terpesona dengan keindahan dari setiap detile lekukan wajah cowok tampan itu berkali-kali ia memperbesar sebesar-besarnya sampai titik maksimal pembesaran maka tampaklah gambar dari salah satu mata Renaldi yang memang sangat indah, berbinar dan menggambarkan kelembutan dan kenyamanan tentunya siapapun wanita yang melihat ini pasti tidak dapat memungkiri bahwa Renaldi itu memang cowok tampan.
Tiba-tiba HP Neva bergetar hebat, Renaldi mengirim chat pertama kalinya untuk Neva,

RenaldiTraditya
Lo Nevaaa?
Neva Lantraria
Iya, kenapee ?
RenaldiTraditya
Ngga, gue takut salah aja. Cielaaaah BB baru nih ceritanye? (`´)-σ
Neva Lantraria
Neva tuh cuma satu kali di dunia dan akherat  \(ˇˇ)/   iya td gue belinya sama Indri lho..
RenaldiTraditya
Yang bener aja setau gue mbo-mbo jamu di komplek gue namanya Neva tuh   (), Indri bidadari gue yang dari kayangan paling indah itu?  

Neva Lantraria
Kurang asem lo ya! hahaha iya siape lagi.. dan bidadari itu kebagusan buat loe yaa semacem  kaya Cinderella sama Hulk (`´)-σ.
RenaldiTraditya
Tidak apa-apa Hulk itu jelek luarnya dalemnya yang penting tangguh dan pemberani (•`ö´•)9, btw pipi lo udah ngga apa-apa?
Neva Lantraria
Iya deh gimana tuan Hulk aja, terus kenapa lo tidak nembak Indri? apa tidak kelamaan PDKT lo sama dia? santei aja udh sembuh ko.
 RenaldiTraditya      
Hmm gue bukan cowok yang kaya begitu, gue tidak mau terlalu cepet ngambil tindakan gue takut Nev..
Neva Lantraria
Takut? gue yakin bgt dia bakal nerima cinta lo!!
            RenaldiTraditya
Bukan itu, gue takut tidak bisa ngebahagiain dia, jadi gue bakal terus ngedeketin dia sampe gue yakin gue emang sayang sm dia dan tidak akan nyakitin dia. Dan gue mau dia juga yakin kalo gue emang yg terbaik buat dia, yaa slow down aja deh sampai waktu yang menjawab..

Neva Lantraria
Oke gue doain yang terbaik aja ya, night gue ngantuk hehe..
RenaldiTraditya
Sip, gue minta lo selalu jagain Indri yah. Please..

Dan akhirnya Neva tidak tahan lagi untuk menangis,
            “Lo sempurna banget Renal, kenapa gue bener-bener cinta sama loe? karena itu salah karena Indri sangat mencintai lo, tapi rasa cinta gue ngga kalah sama Indri.. gue ngga bisa terus menerus boongin perasaan gue. Gue lelah acting ke semua orang terutama Indri, gue ngga sanggup boongin Indri kaya gini tapi gue lebih ngga sanggup kalo harus nyakitin Indri. Gue ingin dia bahagia tapi dengan bahagianya lo sama Indri itu teramat sangat ngebuat gue ancur, gue ngga bisa bayangin kalo kalian jadian. Mau dibawa kemana perasaan gue yang udah terlanjur kuat dan dalem ini?” dan Neva terus menguraikan air matanya, air mata akan kesedihan yang ia hadapi, akan perasaan yang terlanjur ia rasakan terhadap Renaldi, akan rasa sakit setiap Renal memuja Indri, akan rasa bersalahnya terhadap sahabat terbaik yang ia punya sejak lama itu.
            Dan akhirnya Neva terlelap dalam isakannya, dalam gelap dan gerimis malam yang menyempurnakan suasana gundah dan kalut untuk Neva. Esok hari, Neva pergi sekolah seperti sedia kala dan seperti biasa tanpa Indri, ia mengendarai motornya sendirian melalui jalan-jalan yang seperti biasa ia lewati dengan Indri dibelakangnya yang sangat berisik mengajak ia bercanda atau membahas segala hal yang membuat jarak ke sekolah itu sangat tak terasa lagi, namun akhir-akhir ini suasana seperti itu sangat langka yang terdengar hanya suara mesin motor dan kendaraan lain yang sangat bising di kota Bandung, namun terdengar sangat sunyi bagi Neva, perjalanan pun seakan lama dan jauh sekali. Neva terlihat konsentrasi sekali di balik helm biru mudanya itu walau sebenarnya fikiran dan perhatiannya jauh melayang di udara mengacu pada dilema yang ia hadapi sekarang.
            Saat Neva melangkah menuju kelasnya, sudah terlihat dari kejauhan Indri dan Renaldi sedang asik bercanda di sekitar bangkunya itu, menambah rasa sakit yang mulai menguat dalam batinnya.
            “Pagi semuanya” sapa Neva mencoba tersenyum lebar namun Indri bisa menangkap sesuatu yang tidak beres pada Neva.
            “Pagi, lo kenapa? mata lo ko bengkak?” tanya Indri khawatir.
“Ngga ko gue ngga apa-apa, ha? mata gue baik-baik aja Indri lo aneh banget deh” jawab Neva.
“Lo sakit? gue tau lo banget, sinih cerita yu!” Neva terdiam menunduk dan Indri memberi sinyal pada Renaldi untuk pergi ke kelas duluan dan renaldi pun mengerti sembari melangkah keluar, tangan Renaldi mengusap kepala Neva yang membuat jantung Neva bergetar,
“Hidup itu enjoy aja kali” ujar Renaldi dan ia pun menghilang dari balik pintu.
“Lo certain sekarang semua yang gue ngga tau, dari pulang sekolah kemaren sampe sekarang, cepet!” paksa Indri.
“Ngg.. nga ada yang aneh atau special Ndri, semuanya berjalan kaya biasa cuma..” omongan Neva terhenti karena ia tidak tau harus berkata apa lagi.
“Tapi apa?” Indri mendekat dengan sorot mata yang sangat khawatir, semakin membuat Neva tidak ingin sama sekali untuk berkata jujur.
“Tapi.. gue bingung aja sih sama lomba vocal bulan depan, oiya gue belum cerita ya? gue kepilih jadi perwakilan lomba nyanyi gitu pas ntar pensi, dan gue ngga PD banget lo tau sendiri gue kalo nyanyi tuh cuma iseng doang gue takut malu-maluin Ndri” akhirnya Neva bisa mencari hal lain yang tepat untuk dikatakan meskipun sayangnya Indri tau bukan itu yang membuat Neva seperti ini namun ia bertekad untuk mencari tahu sendiri ketimbang memaksa Neva.
“Wah? keren tuh, dan lo harus tau gue juga ikutan lomba tapi bidang tari sih karena kurang personil ya gue PD aja meskipun gue kan kaku banget dan lo harus kaya gue, PD aja kali gue yakin lo bisa yaa meskipun jarang banget lo nyanyi tapi gue pernah denger dan suara lo tu merdu ko meskipun pelan tinggal lo percaya diri aja semua pasti bisa ko! pengalaman tau aja lo bisa jadi diva kan hehehe” ujar Indri panjang lebar.
“Wah? asyiik nih kita bisa tampil bareng sama bisa latihan bareng yaa meskipun waktunya sebulan lagi tapi pasti ngga akan kerasa, diva? pala lu peangg” ujar Neva dengan senangnya. Indri pun kembali ke kelasnya karena bel masuk sudah berdering sejak tadi, melangkah dengan sejuta tanda tanya atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu sehingga tadi pagi kentara sekali sebuah kesedihan yang tertangkap oleh diri Indri.
Lama mereka terdiam karena mereka terhanyut dalam pemikirannya masing-masing, akhirnya bel pun berbunyi dan Indri bergegas ke kelasnya, pelajaran petama di kelas IPS 2 pun berjalan dengan sukses karena guru Matematika tidak bisa hadir saat itu dikarenakan sakit, tentunya penderitaan guru tersebut dijadikan alasan utama para murid untuk bersorak ria seperti narapidana yang berhasil kabur setelah melewati hutan belantara dan samudra lepas, alhasil semua murid langsung melakukan aktivitas bebasnya di dalam kelas.
Seperti Andi si penggila bola ia langsung melaju ke lapangan futsal dengan membawa pasukan cowok di kelas lainnya, Stevan yang emang super jail dan tengil itu pastinya sedang meluncurkan aksinya kepada para cewek-cewek mencari perhatian dan menebarkan pesona yang tak kunjung membawa hasil yang berarti karena cewek-cewek di kelas sudah terbiasa dengan aksi Stevan itu dan sayangnya Stevan sudah tercap sebagai cowok tengil yang ngga laku-laku di mata para cewek, dikarenakan tampangnya yang bisa dibilang berada di bawah titik sumbu Y yang berarti bernilai minus, tapi emang dasar si Stevan yang selalu PD dan merasa tampangnya baik-baik saja dia tidak pernah jera untuk menggoda dan menembak seketika para cewek yang ia taksir. Sialnya baik Neva pernah menjadi sasaran maut si stevan seperti waktu semester 1 lalu saat pagi hari dan sekolah pun masih sepi,
Neva dan Indri sengaja untuk datang pagi karena Neva ingin menanyakan PR matematikanya kepada Indri, dan saat mereka masuk kelas Neva, tiba-tiba di bangku tempat Neva duduk itu terdapat bunga melati yang sengaja di tebarkan diatas meja, di kolong meja, bahkan di bangkunya yang memberikan warna serba putih.
“Apaan nih? ada melati segala?” tanya Indri.
“Kaga tau Ndri, perasaan kemaren pas pulang sekolah bangku gue baik-baik aja” ujar Neva penasaran.
“Aduh serem juga nih, mana wangi banget lagi mana masih sepi lagi, gue takut Nev!” ujar Indri sedikit ketakutan.
“Yaelaah Ndri, hantu mana nongol pagi buta kaya begini.. aduh bantuin gue bersihin ini semua dong.”
Dan tiba-tiba dari balik pintu kelas muncul seonggok atau sesosok pria berperawakan hitam berambut kriting dengan potongan yang ngga jelas ditambah baju seragam yang acak-acakan dan bibir tebalnya sebagai pemanis walaupun pemanis itu tidak sama sekali memberikan rasa manis pada wajahnya. Dan dialah sang pemilik nama Stevan Aunararia, nama yang bagus namun sayangnya tidak singkron dengan wajahnya. Dia masuk dengan membawa gitar nyentriknya, lalu dia mulai menyanyikan lagu yang sepertinya ciptaan dia sendiri,
“Oh gadis yang ada dihadapanku… dengarkanlah isi hati pangeran ini, yang ingin menjadikanmu ratu di hatiku houhouhoo, oh gadis yang bernama Neva ini, terimalah semua ini akan ku lakukan apapun yang membuatmu tersenyum houhooo jadilah pacarku jadilah ratu permaisyuriku yang akan selalu menemanikuuu houhoo” Stevan pun berhenti, Neva yang dari tadi bengong terpaku seperti batu dan Indri yang sampai mangap akan hal yang ia lihat pagi itu. Pasalnya betapa sangat PDnya Stevan menyatakan cintanya secara dadakan itu dengan bernyanyi walaupun suaranya bagus tetapi ekspresinya yang memilukan seakan memudarkan suara dan permainan gitarnya yang lumayan.
“Jadi ini semua kerjaan lo?” Neva membuka pembicaraan setelah susah payah ia bangkit dari syhoknya.
“Ia Nev, semua ini bukti cinta gue sama lo” ujar Stevan yang membuat Indri dan Neva saling berpandangan lalu cekikikan.
“Hahaha melati? lo kata Neva ratu pantai selatan boo hahaha” ejek Indri.
“Melati itu lambang cinta yang paling abadi nona” jawab Stevan.
“Itu mawar Stevaaaaaaan, aduh ya lo itu aneh bin nekad deeh ih” ujar Neva.
“Yahhh Nev, gapapa kali melati juga lebih wangi kan” jawab Stevan bersikeras.
“Hahaha sekalian aja tuh, tambahin kemenyan sama balsem kan wangi” timpal Indri.
“Kurang asem lo Ndri, lukata gue kunti kena encok” kesal Neva.
“Busyet dah ni anak malah pada berantem, Nev jawab dong lo nerima cinta gue ngga?” ujar Stevan serius.
“Ngga” Neva menjawab dengan yakin.
“Haa? aduhh Nev pikir-pikir lagi coba, hmm gue tau lo minder pacaran sama gue ya? lo ngerasa gue ketinggian kan buat lo? ngga ko ngga, gue yakin lo cocok banget sama gue yang super duper ganteng ini. Atau lo belum siap jadi tenar gara-gara lo pacaran sama gue? ngga ko ngga akan, lo bakal gue lindungin dari fans cewek-cewek gue yang pastinya bakal cemburu sama lo, atau lo..” belum sempat Stevan menyelesaikan omongannya Neva angkat bicara sedangkan Indri sedang sibuk tertawa terbahak-bahak di sudut ruangan.
“Stevan, lo tuh ya PD nya tingkat dewa banget sih, gue ngga bisa nerima lo bukan karena semua yang lo sebutin tadi tapi gue ngga suka sama lo, jelas? gue n-g-g-a suka sama lo, oke gue hargain usaha lo ini dengan gue terima melati dari lo dan bakal gue simpen di kamar gue. Tapi maaf gue ngga bisa nerima lo.”
“Lo yakin atau …”
“Stop Stev stop gue yakin dan sadar ko!” kesal Neva.
“Yaudah deh, maaf yah dan gue harap lo ngga akan nyesel sampe galau pake shower segala di rumah lo ntar atau nganggep diri lo sebagai butiran debu.” Stevan pun keluar kelas dan Neva hanya bisa tepuk jidat atas apa yang ia hadapi tadi.
Itulah pengalaman Neva yang pernah ditembak Stevan, selain itu murid-murid dikelas pun kini terlihat semakin asyik dengan kegiatan masing-masing. Para cewek biasanya bergerombol untuk sekedar bergosip atau memamerkan barang baru, ada pula yang sibuk membaca novel, mendengarkan music, bahkan Via sang sekretaris yang menuliskan tugas matematika di papan tulis, tak dianggap sama sekali oleh seisi kelas, kejamnya lagi hasil tulisan indah berisikan angka-angka yang memutar otak itupun dengan kilat terhapuskan dan tergantikan oleh gambar-gambar gokil animasi atau tulisan keren para cowok yang iseng. Sedangkan Neva, lebih memilih untuk diam dan mengotak ngatik HP barunya itu.
Tak lama lampu LED pun berkedip merah tanda ada chat masuk, setelah dibuka ternyata,

RenaldiTraditya
Nev, gue sama Indri mau mancing nih pulang sekolah, ikut yu? Indri juga ngajak lo kok, yaa itung-itung hari Sabtu sih besok libur  \(ˇˇ)/    
Neva Lantraria
Hmm gue takut ganggu kalian (́_̀)
RenaldiTraditya
Nyantei aja kali Nev, mau ngga nih? ˆˆ
Neva Lantraria
Okeee dh, tungguin gue diparkiran yah!! \(´`)/ 
RenaldiTraditya
Sip nonaa (•̴͡˛ •̴͡')     
            Neva pun memutuskan untuk ikut toh hari ini akhir pekan, tak ada salahnya refreshing pergi memancing ke arah Lembang. Meskipun Neva tak terlalu suka dengan memancing tapi ia cukup lihai karena Indri dulu sering mengajarkannya, dan semoga saja hari ini menyenangkan dan menghasilkan banyak ikan untuk di masak dan dijadikan makan malam oleh bunda.
            Bel pulang berdering hebat, semua murid bergegas keluar kelas termaksud Neva. Lapangan sekolah pun penuh dengan kegiatan berbagai ekskul, meskipun Neva tidak tercatat di organisasi manapun karena dulu disaat ia kelas X dirinya sempat mengikuti ekskul basket dan berhenti saat menginjak kelas XI dengan alasan fokus belajar walaupun pada kenyataannya Neva sudah bosan dengan ekskulnya dan lebih memilih kegiatan tambahan yang lebih berbeda di luar sekolah. Berbeda dengan Indri yang sampai saat ini masih saja tercatat sebagai anggota karya ilmiah Fisika disekolahnya, semula Indri mati-matian untuk mengajak Neva ikut serta bersamanya, namun Neva menolak mentah-mentah karena fisika adalah pelajaran mematikan baginya dan racun untuk otaknya, itulah Neva yang sangat membenci fisika.
            Di parkiran sekolah sudah nampak Indri dan Renaldi sedang menunggunya,
            “Hoyy, mau langsung pergi aja nih?” sapa Neva.
            “Eh Nev, lo yakin bisa nyetir motor sendiri sampe Lembang?” tanya Indri ragu.
            “Bisa ko, lagian kita kan udah biasa pake mobil kesana ngga akan beda jauh sama motor kok!”
“Oke deh, mana jaket lo? dingin banget gila daerah sana” tanya Indri.
“Aduuh, gue ngga pake jaket Ndri” jawab Neva.
“Hmm nih pake punya gue” ujar Renaldi sembari menyodorkan jaket tebal hitamnya.
“Haa? yakin lo?” tanya Neva .
“Iya cewek gampang masuk angin tuh, Indri kan udah pake jaket” ujar Renaldi.
“Iya Nev, lagian pasti Renal kuat kok dia kan samson Jakarta hihihi” timpal Indri yang membuat Renaldi geram dan mencubit hidung Indri yang mancung itu. Neva pun hanya menundukan kepala seakan hatinya di goreskan dengan sengaja oleh benda tajam yang menimbulkan rasa sakit, dan tanpa Neva sadari rasa cemburu itu semakin nyata.
Perjalanan pun berjalan dengan tabu, dengan Neva mengikuti laju motor Renaldi dari belakang sehingga ia dapat melihat jelas orang yang ia sayangi sedang asyik bercanda sangat akrab bahkan sangat dekat dengan sahabatnya sendiri yang tak kalah ia sayangi. Dan seiring laju motor yang tak terlalu kencang, dengan angin yang berhembus dari arah yang berlawanan, langit senja yang kian meremang indah, dan kehangatan dari jaket yang dikenakannya, maka di balik helm yang terdapat wajah sendu gemilang pun meneteskan setitik air mata yang tak bisa ia tahan. Neva berfikir seharusnya ia tidak ikut acara mereka berdua ini, acara yang sengaja dirancang oleh Renaldi untuk semakin dekat dengan Indri. Karena dengan ia melihat mereka berdua seperti itu saja sudah membuatnya sakit dan bingung, entah sampai kapan Neva harus seperti ini, menahan semua dilema yang menerjangnya. Mungkin waktulah yang bisa melenyapkan semua ini.
Sesampainya di tempat pemancingan, setelah mereka memarkirkan motornya mereka pun meyewa alat pemancingan dan menentukan tempatnya,
“Dimana nih? di sebelah kanan ajayuk di bawah pohon?” ajak Neva.
“Hmm gue maunya di sebrangnya deh pasti hoki banyak ikan!” jawab Renaldi.
“Yaudah tapi gue tetep mau di tempat pilihan gue, jadi mau pilih yang mana Ndri” tanya Neva. Indri pun terdiam kebingungan entah mana yang akan mereka pilih.
“Yaudah lo sama Renal aja gih, gue mau menyendiri disana” ujar Neva.
“Ya ngga bisa gitu dong masa lo sendirian?”
“Ngga apa-apa nyantei aja!”
“Oh gue tau, ntar gue bagi 2 waktu setengah jam di tempat Renal setengah lg ke tempat lo, lagian ribet banget sih kalian make tempat aja beda-beda” jelas Indri.
“Oke deh gue mah terserah aja yang penting gue disana” jawab Neva.
“Oke kita tanding siapa yang paling banyak ngedapetin ikan dia menang dan bisa nyuruh apapun ke yang kalah semacam ngasih tantangan gitu deh, deal??” ujar Renaldi. Mereka pun sepakat dan bergegas ketempatnya masing-masing,
“Tunggu gue ya Neva” ujar Indri, Neva pun hanya mengangguk.
Tempat mereka cukup terpisah jauh memang, namun masih bisa terlihat oleh pandangan karena letak mereka sedikit bersebrangan. Dengan santainya Neva segera memasang umpan dan melemparkan kail sejauh mungkin, dibawah pohon yang rindang Neva duduk bersandar menunggu umpannya disantap oleh ikan. Ia melihat pemandangan betapa akrabnya Renaldi dan Indri yang sedang berbincang sangat dekat dan nampaknya setiap orang yang melihat mereka berdua, pasti beranggapan bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Tenggelam dalam lamunannya tiba-tiba kail Neva bergerak ke dalam tanda ikan pertama pun berhasil Neva tangkap, jenis ikan emas yang lumayan besar lalu ia memasukan ikan tersebut kedalam ember kecil, setelah kain dilempar kembali Neva kembali bersandar. Dilihatnya ikan emas itu yang bergerak bebas di dalam ember berisi air.
“Heh ikan, coba kalo gue jadi lo ya, hidup tanpa beban berenang-renang semau lo tanpa perlu dapetin masalah-masalah kehidupan apalagi dilema cinta, lo bebas milih siapapun yang lo suka dan lo bisa bahagia terkecuali jika nasib lo apes kaya sekarang yang artinya sebentar lagi lo akan bernasib di penggorengan bunda gue, tapi kalo gue jadi lo gue ngga akan sebodoh lo, gue ngga akan mau nangkep umpan manusia meskipun itu enak tapi itu berakibat fatal untuk gue. Tapi sayangnya disini gue hanya remaja yang malang, gue cinta dia tapi sayangnya cinta itu tak pernah terbalaskan. Dan gue ngga bisa merjuangin semuanya karena itu semua menyangkut kebahagiaan orang yang sangat berarti dalam hidup gue. Tapi gue ngga tau apa gue bisa bertahan, lo doain gue ya supaya perasaan ini akan hilang dengan sendirinya semoga gue tetep bisa ngendaliin semuanya tanpa nyakitin satu orangpun. Sebisa mungkin bakal gue korbanin perasaan ini karena gue ngga mau ngecewain sahabat gue, walau kebahagiaan gue sekalipun harus hilang.”
Suasana hening sejenak, yang terdengar hanyalah kecipak air dalam ember yang ditimbulkan oleh ikan mas satu-satunya yang Neva dapatkan. Tiba-tiba,
“Doooor!” Indri mengagetkan Neva, Neva syhok setengah mati dia takut Indri sudah lama berada di belakangnya dan mendengar ucapannya tadi, dilihatnya disebrang sana memang benar Renaldi sedang duduk sendirian tapi sejak kapan? saking tenggelam dalam lamunannya Neva sampai tak sadar bahwa Indri sudah menghampirinya sejak tadi.
Neva memilih untuk diam dia sangat takut sahabatnya akan tahu segalanya, tapi nampaknya Indri baik-baik saja seolah memang tak terjadi apa-apa, Neva pun menghela nafas panjang merasakan lega yang amat sangat.
“Payah lo Nev, masa dari tadi baru dapet 1?” ejek Indri sembari meliha isi ember Neva.
“Yeee baru juga berapa menit, emang lo udah dapet berapa hah?
“Gue udah 3 ya walaupun pada kecil, tapi si Renaldi udah dapet 4 dong! hebat banget ya tu anak.”
“Yaaa paling pake jampe-jampe tuh anak, wah gue kalah dong? dan gue bakal nerima tantangan dari dia gitu? aaaa tidaaak” Neva menepuk jidatnya.
“Hahaha derita lo ah, makanya jangan so soan nerima tantangan kaya tadi gitu deh.”
“Ya tenang aja deh, inikan masih lama waktunya, gue pasti bisa! ayoo para ikan makan umpan gue dong ayooo!” semangat Neva semakin menggebu. Indri hanya geleng-geleng kepala sembari cekikikan melihat aksi Neva itu.
Satu jam setengah pun berlalu dan isi ember Neva tidak berubah, tetap berisi satu ikan mas berukuran lumayan besar,
“Aduuuh gue kalah berat nih, masa daritadi gue cuma dapet satu sih!” keluh Neva.
“Hahaha udalah Nev, terima aja oke.” Tiba-tiba Renaldi menghampiri mereka dengan menenteng sekantung ikan yang banyak,
“Ndri, nih ikan lo gue tambahin 3 biji yaa soalnya gue banyak banget nih ikannya.” Ujar Renaldi.
“Idiiiih sombong banget lo!” Neva kesal.
“Hahaha emang gue dapet banyak ko ada berapa yaa hmm sepuluh lebih, oiya lo dapet berapa?” Neva langsung menyembunyikan kantung yang berisi satu ikan itu ke balik punggungnya.
“Hahaha cuma satu lo? payah banget sih cupu hahaha” tawa Renaldi meledak. Neva hanya tertunduk malu campur kesal.
“Udalah Renal, bagi-bagi tuh ke Neva daripada lo berat bawanya kan ?” ujar Indri.
“Iya deh nih gue kasih lo 4 ya, buat keluarga lo deh”
“Makasih..” Neva pun langsung tersenyum paksa.
“Eits, tapi perjanjian tetaplah perjanjian lo yang paling kalah kan disini? jadi sebagai pemenang gue layak buat ngasih tantangan ke lo okee?” ujar Renaldi dengan sombongnya.
“Huuhh iya deh iya oke sekarang tantangannya apaan?”
‘Hmm, lo liat disebelah sana apaan?” Renaldi menunjuk kearah utara.
“Pohon mangga?”
“Yaap, gue mau lo ngambilin gue satu mangga yang paling mateng!”
“Hah? aduh gimana gue ngambilnya?” tanya Neva.
“Pake kayu panjang aja Nev itu kayanya ada deh disana” saran Indri.
“Bener juga lo Ndri, elo ya Renal bisanya ngerepotin gue aja !”
Neva pun mengambil kayu panjang dan menggoyangkan dahan-dahan dengan tujuan menjatuhkan satu mangga saja, tapi ternyata itu sangat sulit sekali karena kayu tersebut terlalu kecil untuk menjatuhkan sebuah mangga, akhirnya Neva menyerah dengan kayu itu dan memutuskan untuk memanjat pohonnya langsung.
“Wooy Nev jangan gila lo, turuuuun!!” teriak Indri.
“Tenang aja gue udah biasa manjat ko” Neva perlahan tapi pasti memanjat pohon tersebut, hingga pada ketinggian yang cukup tinggi dia menemukan mangga yang ia cari.
“Aduuuh, Renal gue khawatir nih” ujar Indri yang memperhatikan Neva dari bawah.
“Tenang aja kayanya dia siluman monyet tuh, manjatnya jago banget hehe” canda Renaldi.
“Hhahh ketemu juga mangga yang deket!” Neva meraih dahan yang akan menjadi tumpuannya untuk memetik mangga itu. Setelah berhasil memetik mangga yang cukup besar dan matang Neva seketika menjerit dan menjatuhkan mangga tersebut,
“Uleeeeeeeet!!! aaaaa” dahan yang menjadi tumpuannya patah karena Neva membuat gerakan tubuh yang terlalu banyak akibat reaksi spontannya itu. Dan seketika Neva pun terjatuh dari pohon, lalu pingsan karena kepalanya membentur sebuah batu yang cukup besar.
“NEVAAAAA !” teriak Indri lalu menghampiri tubuh Neva.
Renaldi yang saat itu menjadi pucat, langsung membopong Neva yang berlumuran darah akibat kepalanya yang terbentur keras ke rumah sakit terdekat, seketika suasana menjadi sangat panik.
“Nev! bangun lo ngga apa-apa kan? Nev sadar Nev ayoo kita pulang jangan bercanda kaya gini dong! Nev. Nevaaa.”
Perjalanan ke rumah sakit sangat singkat namun mencekam. Indri yang tak hentinya menangis sangat takut akan sahabatnya itu pun tak kalah pucatnya dengan Renaldi.
Di ruangan serba putih itu, tim dokter dengan cepatnya mengatasi Neva, membersihkan seluruh darah yang mengalir sejak tadi. Neva tetap tak sadarkan diri, ia terpejam dengan denyut jantung yang labil. Dan di luar ruangan, isakan tangis pun terdengar semakin parau. Renaldi yang bersandar di tembok dengan baju penuh dengan noda darah, tertunduk lemas dengan jantung yang berdetak kencang.
“Ndri maafin gue, ini semua salah gue.” ujar Renaldi parau. Indri tidak menghiraukannya, yang ada di kepalanya saat ini hanyalah Neva, ia takut bahkan terlalu takut untuk membayangkan segala kemungkinan. Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika suatu hal terjadi pada Neva.
Dokter tak kunjung keluar dari ruang UGD dan sudah 1 jam Neva berada di ruangan itu, dari jauh terlihat kedatangan ayah dan bunda Neva yang sedikit berlari panik. Renaldi menceritakan semua yang terjadi,
“Ayo kita tunggu saja dokter dan berdoa untuk Neva, om yakin Neva anak yang kuat dia tidak akan apa-apa” ujar ayah Neva sembari mengelus bahu sang istri yang sedang menangis mengkhawatirkan Neva.
“Om tante ini semua salah saya, saya janji saya akan bertanggung jawab” ujar Renaldi.
“Ngga ko sayang, ini bukan salah siapa-siapa ini udah takdirnya Neva.” Ujar bunda Neva menenangkan.
Dokter pun keluar dengan bercucuran keringat disekitar lekuk wajahnya,
“Tidak apa-apa, bukan masalah yang terlalu serius hanya geger otak ringan dan kemungkinan dalam jangka waktu 1 minggu akan pulih asalkan ia melakukan pengobatan yang teratur.”
“Dok, apa boleh saya masuk?” tanya Renaldi.
“Silahkan tapi sebaiknya jangan semuanya, satu per satu saja dulu sebelum Neva sadar”
“Om tante, boleh saya masuk duluan? Saya ingin memastikan keadaan Neva” paksa Renaldi.
“Boleh silahkan saja” jawab ayah Neva yang diiringi dengan senyuman.
Renaldi pun masuk dan dilihatnya Neva yang terbaring lemah diraihnya tangan Neva yang tak berdaya itu,
“Nev.. saat lo sadar, lo pasti marah sama gue kan? cepet sadar dong gue gasabar pengen denger omelan lo ke gue yang pasti kaya nenek lampir hehehe. Nev maafin gue, gue ngga maksud nyelakain lo gue kira lo bakal baik-baik aja manjat tu pohon taunya lo kepeleset, ngga professional banget sih lo. Coba gue bisa nangkep tubuh lo pasti ngga akan sampe kaya gini tapi respon gue terlambat saat itu. Maafin gue ya please, gue bakal nemenin lo sampe lo pulih tenang aja. Sebagai bukti perminta maafan gue sama lo, pokoknya yang penting lo sadar dulu jangan kaya gini terus, serem juga ngeliatnya Nev. Tapi lo keliatan cantik ya kalo lagi kaya gini hehehe, ketawa dong Nev diem mulu nih gaasik. Lo pasti butuh istirahat yang banyak, gue tinggal dulu ya gue harus pulang ganti baju. Liat nih baju gue kotor sama darah lo, cuciin kek malah tidur lo tu yaa hehehe nanti gue kesini lagi. Bye Neva” Renaldi pun mengelus kepala Neva yang dibaluti perban.
Dan Indri pun masuk ke ruangan menggantikan Renaldi,
“Lo kasian banget Nev, gue jadi merasa bersalaaaah banget. Sedih gue liat lo kaya gini, coba kalo gue aja yang manjat pohon lagian lo sih so bisa tapi emang udah sifat lo pemberani ya Nev, gue salut banget sama lo. Cepet sadar dong kita sekolah lagi, bentar lagi kan pentas seni lo harus cepet masuk kita latian bener-bener ya, gue sayang banget sama lo gue udah nganggep lo kaya diri gue sendiri. Jadi meskipun gue sehat tapi tetep aja gue ikut lemah kalo lo kaya gini terus. Cepet sembuh ya, gue tinggal sebentar diluar ada bunda sama ayah tuh makanya sadar dong ya. Pokoknya ketika gue kembali kesini gue harus menemukan Neva yang sadar dan ceria lagi oke.”
Jam besuk sudah habis, Neva pun masih terbaring lemah dalam tidurnya. Esok hari kesadaran sedikit demi sedikit mulai menghampiri Neva, perlahan tapi pasti mata Neva terbuka. Sangat silau dengan ruangan yang serba putih disekitarnya, dan rasa pusing yang lumayan menyakitkan di bagian belakang kepala Neva.
“Bundaaaa, Neva dimana? aduh kepala Neva pusing banget” rintih Neva.
“Ini rumah sakit, kamu kecelakaan waktu manjat pohon” jawab Bunda dengan tenang.
“Oh iya Neva inget”
“Terus dimana Renaldi?”
“Loh kok Renaldi duluan yang ditanya? ada apanih ?” curiga bunda menggoda Neva.
“Eh iya sama Indri dimana mereka?” Neva salah tingkah, ia sendiri tak tahu mengapa seorang Renaldi cowok yang baru ia kenal beberapa bulanlah yang pertama ia tanyakan dari pada Indri sahabat sejatinya.
“Mereka sekolah dong sayang, tapi secepatnya mereka bakal kesini kok” ujar bunda sembari menyuapkan sesendok bubur pada Neva.
“Ih gamau ah bun.. nanti aja” tolak Neva.
“Yaudah deh tapi janji nanti makan ya” ujar bunda.
Neva kembali berbaring bersandarkan bantal. Bosan dan pusinglah yang ia rasakan, lalu Neva meraih handphonenya dan mencoba online. Banyak sekali mention twitter, bbm, sms dari teman-temannya mendoakan agar dirinya cepat sembuh. Pasti ulah Indri dan Renaldi sehingga semua tau Neva sakit. Tapi senang rasanya diperhatikan oleh semua temannya ternyata Neva cukup untuk berarti buat teman sekolahnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar