Gini jadinya...
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakattuh.
Anak-anakku yang gimana yah, bangga sih pasti..
sayangi sih iya dong.. cintai? Wah itu hanya untuk suami saya saja. Hehe.denger-denger
kalian lulus 100 persen ya? Wahh tumben? Ngga ketang. Saya buanggaaa sekali
ternyata kalian kompak ya, masuk gerbang MOSB bareng keluar bawa ijasah SMA
juga bareng. Tepuk tangan 4 kaki 5 tangan buat ananda (gimana caranya).
Nilai?
Mau tau banget banget sampe menggeliat pengen tau? Emang penting ? menurut
saya itu hanya formalitas, dilihat dari proses UN nya lulus juga keajaiban kan ?
heheh saya disini membicarakan makhluk-mahkluk seperti saya muda dulu, ya malas…
ya tidak serius.. tapi sering berdo’a. untuk makhluk yang tidak diragukan lagi
kemampuan akademiknya jangan kesindir yaa. Saya tidak menyinggung kalian, tapi
memuja kepintaran kalian kok. Hehe.
Untuk
makhluk seperti saya muda dulu, jangan bangga memiliki nilai bagus. Karena itu
suatu kebetulan kan (rasisme ya). Jangan malu mempunyai nilai kecil, toh ngga
semuanya diberuntungkan oleh yang Maha Kuasa kan. Woles aja and keep loving
Yellow guys (loh ?). yang nilai gede bukan jaminan lolos SNMPTN dan sukses
jadi milyader lalu menjadi penguasa dunia ( ?) yang nilai kecil juga tidak
selamanya berada pada nasibnya yang minus keberuntungan. Guys semua bukan
karena nilai UN tapi lebih kepada proses, do’a, dan yang nyeleksi kita di PTN. Jadi
ngga ada jaminan buat sukses atau gagal, jaminan kalian satu-satunya adalah
berjuang berdo’a.
Sekarang
waktunya sedih-sedihan. Dadahhh kalian, akhirnya saya tidak akan melihat kalian
lagi disekolah saya, akhirnya sekolah saya plong untuk sementara waktu. Akhirnya
meja, bangku, papan tulis, kelas menjadi milik sekolah saya lagi. Tapi…. Sebenarnya
saya sedih loh. Dengan kalian sekolah ini masih berdiri sampai sekarang, dengan
kelakuan kalian, menuai prestasi, menyumbangkan keringat, bersedia menta’ati
peraturan selama ini, menjaga sekolah kita, membumingkan sekolah kita.. usaha
kalian akhirnya berujung disini rupanya. Berujung manis tepatnya.
Saya
tidak pernah rela untuk melepas kalian, tapi waktu dan masa depan kalian lah
yang memaksa saya untuk ini. Saya hanya bisa mendo’akan yang terbaik untuk
impian kalian, jaga almamater mu nak. Karena sekolah ini adalah saksi bisu yang
melihat perjalanan dan masa kenangan putih abu kalian semua, jangan lupakan
gedung sekolah yang apa adanya ini beserta isinya.. setiap spot-spot tempat
yang pernah kalian singgahi, lewati bahkan nikmati.
Saya
yakin sekolah ini sedikitnya telah banyak ada di memori kalian.. semoga kalian
selalu ingat pada sekolah ini. Terutama dengan tenaga pendidiknya, para guru..
saya sebagai guru juga tak henti bersyukur atas keberhasilan kalian semua,
maafkan kami atas prilaku kami yang selama ini membuat kalan tidak nyaman. Kami tersenyum puas dan bangga
melihat kalian, sekaligus menangis untuk melepas kalian pergi dari sekolah ini. Karena
kalian lah yang akan kami rindukan setiap saat. Kalian lah yang kami
khawatirkan akan melupakan kami. Kami hanya bisa melakukan ini, kami hanya bisa
menjalankan kewajiban kami kepada kalian sebagai orang tua kedua kalian..
Jaga
dirimu nak. Kelak jalan suksesmu kedepan semakin terjal, kuatkanlah akhlak dan
imanmu nak. Berjanjilah untuk terus mengingat kami disini sebagai pengasuhmu
dulu.. semoga apa yang kami ajarkan bisa berguna untukmu kelak. Amalkanlah apa
yang kamu punya selama 3 tahun ini. Sang Pencipta senantiasa akan melindungi
kalian semua..
God bless you all. Saatnya melambaikan tangan
pada kami, masa putih abu kalian..
Beranjaklah
dari sini untuk diam di tempat yang lebih baik dan berhasil dari sekarang nak..
saya selalu ada di hati kalian muaaah.“
Wahhhhh
parah ka?
1. Ngabisin tempat tu buku.. bisa 2
lembareun -,-
2. Konyol, mana wibawanya atulah ?
3. Jadis gue cocok ga jadi kepala
sekolah ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar