Sabtu, 18 Mei 2013

Fix You Detergen



Fiuhh..
Lelah akan aktivitas perempuan seperti mencuci baju.
Terlahir dikalangan keluarga yang tidak pernah percaya akan mesin cuci, penggilas baju otomastis, entah apalah itu namanya. Dihantui rasa takut, tidak bersih. Noda yang pekat tidak akan terbilas secara merata. Hanya menghambur-hamburkan listrik. Dan alasan kuno lainnya. Sehingga terpaksa, kedua tangan ini harus berinteraksi dengan detergen langsung. Alhasil, 10 menit kemudian.. telapak tangan ini akan berubah drastis.. kulit-kulitnya akan mengelupas secara cepat dan terasa panas. Resiko perempuan, apalagi anak tertua. Malu juga kalau sekedar mencuci baju saja harus ikut campur orang tua. Sudah 18 taun saatnya mandiri, meskipun saya kesal dengan detergen.. tapi tidak mungkin juga ketika mencuci saya memakai sarung tangan. Bukan Kartini sekali rasanya, padahal ini hanya segelintir pekerjaan rumah yang telah ibu saya lakukan selama puluhan tahun untuk kami selaku anak-anaknya. Wah saya menjadi lebih menghargai baju yang saya kenakan, yang asalnya saya kotori sekarang saya sangat anti debu dan melapisi pakaian saya dengan plastik ketika saya pakai. Maaf tapi itu bohong. Berlebihan juga sih. Hehehe yang pasti mencuci baju itu susah, maka jangan mengotori baju dengan mudah. Meskipun slogan berani kotor itu baik, tapi mencuci itu melelahkan.
Ini tidak seberapa, tapi masih saja saya mengeluh dengan detergen. Sungguh betapa dangkal pemikiran saya ini..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar