Fiuhh..
Lelah akan
aktivitas perempuan seperti mencuci baju.
Terlahir
dikalangan keluarga yang tidak pernah percaya akan mesin cuci, penggilas baju
otomastis, entah apalah itu namanya. Dihantui rasa takut, tidak bersih. Noda
yang pekat tidak akan terbilas secara merata. Hanya menghambur-hamburkan
listrik. Dan alasan kuno lainnya. Sehingga terpaksa, kedua tangan ini harus
berinteraksi dengan detergen langsung. Alhasil, 10 menit kemudian.. telapak
tangan ini akan berubah drastis.. kulit-kulitnya akan mengelupas secara cepat
dan terasa panas. Resiko perempuan, apalagi anak tertua. Malu juga kalau
sekedar mencuci baju saja harus ikut campur orang tua. Sudah 18 taun saatnya
mandiri, meskipun saya kesal dengan detergen.. tapi tidak mungkin juga ketika
mencuci saya memakai sarung tangan. Bukan Kartini sekali rasanya, padahal ini
hanya segelintir pekerjaan rumah yang telah ibu saya lakukan selama puluhan
tahun untuk kami selaku anak-anaknya. Wah saya menjadi lebih menghargai baju
yang saya kenakan, yang asalnya saya kotori sekarang saya sangat anti debu dan
melapisi pakaian saya dengan plastik ketika saya pakai. Maaf tapi itu bohong.
Berlebihan juga sih. Hehehe yang pasti mencuci baju itu susah, maka jangan
mengotori baju dengan mudah. Meskipun slogan berani kotor itu baik, tapi
mencuci itu melelahkan.
Ini tidak
seberapa, tapi masih saja saya mengeluh dengan detergen. Sungguh betapa dangkal pemikiran
saya ini..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar