"Kopoooo"
"Kops"
"Kemana?"
"Ngilang"
"Kop aku lagi BAB, sambil duduk bentar lagi mandinya"
"Lemahhh edan"
"Tau diri ih"
"Sadar diri"
"Wahana? beungeut tah wahana"
"Ya Allah aku sayang pisan sama Aida. Sendal kasihin ih"
"Lagi sibuk selingkuh?"
"Ih naha udah tidur deui wae"
"Da kamu mah kebooox pake x"
"Aida jangan selingkuh ihhh. Ga cukup sama aku? Apa ih yang ngga cukupnya? Biar aku cukupin, biar aku yang berubah tanpa kamu cari orang lain."
Itu dia, 'Him' yang ada di judul, Muhammad Alif Prayuta Akbar 1306446 namanya panjang sepanjang badannya, sepanjang sayang dan cintanya, tentunya sepanjang kumisnya.
Dia jenis manusia yang nggak bisa masuk akal nalar manusia lainnya, dia diam, dibalik diamnya ada keberisikan di segala aspek. Konyol, abstrak, dia bukan cowok yang romantis, puitis, yang tiap hari ngasih bunga, atau emot-emot kiss, hug yang biasanya banjir di sms atau medsos, bukan. Dia santai tapi kelakuannya mampu mengiyakan, membuktikan kalau dia bener sayang. Dia posesif entah level berapa, dia harus dikabarin terus, dia khawatiran, dia melindungi dari dekat maupun jauh. Dia nggak mempan dikasih kata-kata manis yang puitis, jatuhnya pasti dia ngomong "Gandeng" "Ih gangerti" -,,- tapi... dibalik itu kita pasangan yang romantis dengan versi kita.
Kita sering jalan bareng, kita pernah ke Gramedia, liat-liat buku dan liat Al-quran, terus kita ambil Al-quran dan ngaji bareng di tempat duduknya, kita pergi ke McDonald di Dago, kita duduk dan pergi lagi tanpa pesen makanan, kita botram bareng di yogurth Cisangkuy dia bawa mie bikinan mamahnya, aku bawa makanan warteg, kita pernah jajan di SD dia, masuk dan pura-pura mau jemput adek padahal kita nggak ada ade disana, kita pernah foto-foto pake tongsis di parkiran gate dua, di depan gymnasium. Kita pernah saling teriak di jalan disaat kita satu motor. Kita pernah masak ayam goreng, seblak, sayur sop bareng meskipun kerjaan dia cuma cuci piring dan protes. Kita sering sosoan belajar bareng di perpus UPI, kita pernah ke ITB, kita pernah terjebak di tempat makan yang mahal, kita pernah shalat bareng di mesjid Bandung, kita pernah saling suka, dan masih saling suka. Kita sama-sama malu-maluin dan miring kalo lagi jalan, kita gila dan sama-sama gatau malu.
Dia, dan saya sama-sama cemburuan. Dia yakin saya yang terbaik begitupun saya. Nggak ada lagi aku dan kamu, katanya yang ada itu kita. Kita punya komitmen, kita punya janji. Kita selalu berada dalam dunia yang menurut kita hanya milik kita. Kita bahagia kemarin, sekarang dan besok. Kita serius. Nggak heran mantan dia masih ngejar dia, karena dia memang baik, teramat sangat baik. Bertanggung jawab dan selalu membahagiakan. Dia bisa membuat saya tertawa disaat saya sedang sedih sesedih-sedihnya. Dia mau peduli dengan saya dan hal terkecil dari saya. Dia pernah romantis dengan gayanya.
Kita sering berbeda pendapat, kita sering saling bertolak belakang, kita sering bertengkar. Tapi kita tetep saling mencintai. Kita ya kita, bukan tentang mereka bagaimana, dan kenapa tapi kita hanya tentang kita. Dia melengkapi saya begitupun sebaliknya. Kita jalan ke depan dengan perubahan yang lebih baik. Kita penuh perencanaan tentang masa depan, karena kita bukan sedang berpetualang tapi kita sedang ada di titik yang sama untuk menciptakan garis dan bentuk hingga akhirnya sebuah gambar di masa yang akan datang.
Semoga kamu bisa percaya dengan saya, semoga kamu bisa mengurangi posesifnya kamu. Karena saya tidak mungkin menyia-nyiakan kamu.


