Sore itu ketika lembayung senja
sangat ingin memperlihatkan pesonanya, cahaya yang terpantul jelas oleh riakan
air danau membuat warna kuning kemerah-merahan tak ragu menempa wajahku yang
sendu. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain melempar kerikil ke danau itu
sejauh-jauhnya, menenggelamkan kerikil itu. Berharap kerinduan ini pun ikut
tenggelam bersama danau itu. Lamunanku memancing angin sore yang seringkali
membuat rambutku bergerak tak karuan, semakin memperlihatkan bahwa akulah gadis
yang menyedihkan di tepi danau sore itu.
Aku kemari bukan tanpa alasan,
inilah sore ke-1000 semenjak dirinya pergi sejauh-jauhnya dariku sampai hatiku.
Bodohnya aku yang masih menungu janjinya untuk kembali. Padahal dia berjanji
pada sore ke-30 pun dia akan kembali tepat di tepi danau ini. Namun, pada kenyatannya
janjinya adalah angin senja yang sirna. Aku tak tahu harus kemana lagi mencari
kabar darinya, karena Ia benar-benar menghilang tanpa jejak. Lantas mengapa dia
meninggalkan aku dengan sejuta kesan yang manis? Dengan beribu janji yang
menyejukkan hati? Jika pada akhirnya ia benar-benar seperti mati dalam
kehidupanku. Aku hanya seorang wanita yang ingin setia, aku hanya ingin
mempertahankan cinta sejatiku. Karena aku percaya cinta takkan hilang terbawa
jarak, namun semua kandas.
Prinsipku pada cinta sudah
berubah sejak saat ini, kesucian makna cinta telah ternoda habis oleh
kepergiannya. Dulu dia berjanji untuk pergi hanya sebentar, mencari sesuatu
yang sangat berguna untuk masa depan hubungan kami. Dulu dia sangat memegangiku
pada hatinya, ia sangat tidak ingin kehilangan diriku. Dulu tepat di tepi danau
ini, dia berjanji ketika ia kembali ia akan menikahiku. Namun tahun berganti
dengan tahun, pernikahan itu tak kunjung menjadi nyata. Itu hanya ilusi diatas
kebohongannya. Bodohnya aku yang tetap mencoba percaya padanya. Bodohnya aku
yang berharap air danau ini membawa keajaiban bahwa aku akan bertemu dengannya.
Sampai kapan aku harus membodohi
logika ku sendiri? kapan aku akan menerima semua kepalsuan ini? aku ingin
menutup masa lalu, dan membuka mata dengan dunia yang sebenarnya aku pijak ini.
Namun selama danau ini masih
menggenang, selama itu bayangan dia akan selalu mengerat dalam jiwaku. Perlukah
aku menguras habis air danau ini untuk menghilangkan racunnya dari tubuhku? perlukah
itu?. Nampaknya sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana dengan aku? aku tidak mau
berlarut dalam senja di tepi danau ini. Pertanyaan bertubi-tubi dalam batinku
terus menghantuiku, namun aku tak pernah mau untuk mencoba menjawabnya.
Aku mencintainya untuk 1000 tahun lamanya, dia
yang hanya bisa kusebut dengan cinta. Tapi aku mengerti, bahwa aku hanya
mencintai masa lalunya. Pada dasarnya dia kini sudah mati. Aku tidak bisa
mencintai yang mati. Karena aku masih hidup. Dan cinta yang lain pun masih
hidup.
Dengan kerikil terakhir yang ku hujamkan untuk terakhir kalinya pada
danau itu aku teguhkan pada hatiku sendiri, bahwa cintaku untuknya akan
benar-benar tenggelam seperti kerikil ini. Karena aku tidak bisa terus menerus
membodohi segalanya di senja hari.
duh..
BalasHapuswah.. terimakasih sudah membaca :))
BalasHapus