Kamis, 25 April 2013

Kerikil Terakhir



Sore itu ketika lembayung senja sangat ingin memperlihatkan pesonanya, cahaya yang terpantul jelas oleh riakan air danau membuat warna kuning kemerah-merahan tak ragu menempa wajahku yang sendu. Tak ada yang bisa kulakukan lagi selain melempar kerikil ke danau itu sejauh-jauhnya, menenggelamkan kerikil itu. Berharap kerinduan ini pun ikut tenggelam bersama danau itu. Lamunanku memancing angin sore yang seringkali membuat rambutku bergerak tak karuan, semakin memperlihatkan bahwa akulah gadis yang menyedihkan di tepi danau sore itu. 

Aku kemari bukan tanpa alasan, inilah sore ke-1000 semenjak dirinya pergi sejauh-jauhnya dariku sampai hatiku. Bodohnya aku yang masih menungu janjinya untuk kembali. Padahal dia berjanji pada sore ke-30 pun dia akan kembali tepat di tepi danau ini. Namun, pada kenyatannya janjinya adalah angin senja yang sirna. Aku tak tahu harus kemana lagi mencari kabar darinya, karena Ia benar-benar menghilang tanpa jejak. Lantas mengapa dia meninggalkan aku dengan sejuta kesan yang manis? Dengan beribu janji yang menyejukkan hati? Jika pada akhirnya ia benar-benar seperti mati dalam kehidupanku. Aku hanya seorang wanita yang ingin setia, aku hanya ingin mempertahankan cinta sejatiku. Karena aku percaya cinta takkan hilang terbawa jarak, namun semua kandas. 

Prinsipku pada cinta sudah berubah sejak saat ini, kesucian makna cinta telah ternoda habis oleh kepergiannya. Dulu dia berjanji untuk pergi hanya sebentar, mencari sesuatu yang sangat berguna untuk masa depan hubungan kami. Dulu dia sangat memegangiku pada hatinya, ia sangat tidak ingin kehilangan diriku. Dulu tepat di tepi danau ini, dia berjanji ketika ia kembali ia akan menikahiku. Namun tahun berganti dengan tahun, pernikahan itu tak kunjung menjadi nyata. Itu hanya ilusi diatas kebohongannya. Bodohnya aku yang tetap mencoba percaya padanya. Bodohnya aku yang berharap air danau ini membawa keajaiban bahwa aku akan bertemu dengannya.

Sampai kapan aku harus membodohi logika ku sendiri? kapan aku akan menerima semua kepalsuan ini? aku ingin menutup masa lalu, dan membuka mata dengan dunia yang sebenarnya aku pijak ini. Namun selama danau ini masih menggenang, selama itu bayangan dia akan selalu mengerat dalam jiwaku. Perlukah aku menguras habis air danau ini untuk menghilangkan racunnya dari tubuhku? perlukah itu?. Nampaknya sesuatu yang mustahil. Lalu bagaimana dengan aku? aku tidak mau berlarut dalam senja di tepi danau ini. Pertanyaan bertubi-tubi dalam batinku terus menghantuiku, namun aku tak pernah mau untuk mencoba menjawabnya. 

Aku mencintainya untuk 1000 tahun lamanya, dia yang hanya bisa kusebut dengan cinta. Tapi aku mengerti, bahwa aku hanya mencintai masa lalunya. Pada dasarnya dia kini sudah mati. Aku tidak bisa mencintai yang mati. Karena aku masih hidup. Dan cinta yang lain pun masih hidup.
Dengan kerikil terakhir  yang ku hujamkan untuk terakhir kalinya pada danau itu aku teguhkan pada hatiku sendiri, bahwa cintaku untuknya akan benar-benar tenggelam seperti kerikil ini. Karena aku tidak bisa terus menerus membodohi segalanya di senja hari.

2 komentar: