Rabu, 04 November 2015
3/11/15
Dalam nada datar, ada jeritan aku menyerah.
Dalam kenyataan, ada keinginan untuk semakin tidak ingin tahu.
Dalam lupa, ada ingatan yang mengerak.
Aku sudah melebihi dari semua aktor, untuk menipumu dibalik ketidak pedulian.
Aku serupa lampu taman, yang terang ketika kau mematikan cahaya.
Jika aku murid SD, akulah anak yang ranking terakhir dari satu penjuru sekolah, karena bodoh bertahan dalam kekosongan.
Jika kamu jenis obat, kamulah alkohol untuk luka basahku.
Ketika kamu tidak mengizinkan pupil matamu untuk sekadar melihat aku, aku adalah pendonor organ vital yang paling mulia untukmu mungkin.
Pedih ini kau buat menjadi obat bius.
Hampa ini kau buat jadi listrik yang tidak bisa padam.
Aku adalah bintang hilang yang tidak pernah kau cari.
Jatuh entah dimana, tetapi masih ingin berkerlip sekedar memberikan tanda untukmu.
Aku adalah benda yang rusak dan tidak pernah kau perbaiki.
Tidak menarik lagi tapi sesungguhnya masih bisa berfungsi untukmu.
Suatu hari, aku gantungkan arah mata angin disekitarmu, agar ketika kamu sudah sadar, kamu bisa pulang.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar