Jumat, 25 Oktober 2013

Malam ini, terasa sangat santai tapi bergejolak.
Kenapa? Apa rasanya jika hari ini, adik saya mendapatkan rapor ulangan tengah semester nya dan 4 mata pelajaran termaksud fisika  belum mencapai KKM.
Dia berkata,

“ Gurunya susah, nerangin ngga jelas. Ngga ngerti. Apalagi hitungan. Teteh sibuk terus mau nanyain tapi teteh terus sibuk sama kuliahnya.”
Saya cukup tersentak dan berfikir apa yang dikatakan adik saya adalah benar adanya.
Lalu ayah saya menimpali,

“ Iya jelas tetehmu sibuk, pulang kerumah makan dan tidur selebihnya jiwanya di luar rumah.”

Saya semakin terdiam dan berfikir, memang benar.
Lalu apa gunanya saya belajar IPA hampir 12 tahun, dari SD SMP SMA dan sekarang tak terpakai karena kuliah saya di jurusan IPS.. lalu apa gunanya ilmu yang saya serap selama ini jika adik saya sendiri masih awam dengan fisika? Dia kelas 1 SMP.

Dimana sisi tanggung jawab saya, ketika saya mengurusi hal-hal lain. Hal yang menurut orang lain penting, tapi adik saya sendiri masih saya abaikan.
Saya melihat ke wajah adik saya dan saya tersenyum,

“ mana coba liat buku fisikanya?”

Dia loncat dari kursinya dan berlari menuju kamarnya..
Sebegitu ia semangat dan bahagia ketika akhirnya saya berinisiatif sendiri untuk bergerak mengajarinya..
Setelah sebelumnya memang dia sering meminta saya mengajarkan tapi saya tolak karena saya terlalu lelah.
Lalu apa gunanya kelelahan saya apabila adik saya sendiri masih awam dengan Fisika, ilmu yang saya serap kurang lebih 6 tahun.
Saya ajarkan dia mengenai pengukuran suhu dan jangka sorong juga mikrometersekrup.
30 menit dia sudah mengerti, ternyata hanya 30 menit dari 24 jam saja ..
Kemana 30 menit dalam hari-hari sebelumnya?
Mengapa saya baru sadar ketika adik saya menyerah dengan keadaan dalam ketidak mengertian.
Lalu melihat keadaan ini, adik saya yang satu lagi menyalakan kompuer dan menarik tangan saya untuk meminta tolong bagaimana membuat grafik poligon..
Ternyata adik saya jauh lebih membutuhkan saya..
Ternyata secara kasar saya menelantarkan mereka dalam masalah ilmu,
Lalu untuk apa ijasah yang tertimbun di lemari jika mereka saja masih haus akan kepahaman?
Ternyata saya salah besar.
Saya sadar dan teramat sadar sekarang.
Saya bertekad untuk meluangkan 30 menit dalam hari-hari saya esok dan seterusnya..
Saya akan menanamkan ilmu yang telah saya serap kepada mereka,
Karena masa depan saya ada di tangan mereka, lalu mengapa saya lebih senang untuk mengurusi hal-hal lain?
Buat apa rasa bangga mereka ketika melihat saya berhasil lulus UN dan masuk Universitas Negri apabila saya sendiri tidak memperhatikan akademis mereka..
Ternyata mereka sangat butuh belajar dalam konteks lain,
Belajar dengan gurunya, guru terdekat mereka. Siapa lagi selain saya? karena orang tua saya tidak bergelut sama sekali di bidang rumus. Saya lah satu-satunya yang mereka andalkan dalam keluarga kalau sudah berbicara rumus, lalu kemana saja saya selama ini?
Mungkin tulisan ini, bukan saya saja yang mengalami.
Maka saya mencoba berbagi, dan mengajak anda para kakak yang mempuyai adik.
Liriklah mereka dan mulailah memperhatikan akademis mereka, karena ketika mereka tumbuh dan menjadi pintar, kitalah yang akan menangis bangga akan mereka.
Kalau bukan kita siapa lagi :”
Mereka tidak hanya butuh status kaka beradik, mereka membutuhkan sosok kakak yang bisa mengerti akan kebutuhan mereka, kitalah tempat kedua terpenting untuk dimintai tolong setelah orang tua..
Ajarilah mereka apa yang bisa kita ajarkan sebelum mereka memohon..
Perhatikan mereka sebelum mereka terlanjur menyerah..

Karena darah kami adalah sama, esensinya ilmu dan jiwa yang kita milikki juga adalah hak mereka. Berikanlah hak mereka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar