Malam ini, terasa sangat santai tapi bergejolak.
Kenapa? Apa rasanya jika hari ini, adik saya mendapatkan
rapor ulangan tengah semester nya dan 4 mata pelajaran termaksud fisika belum mencapai KKM.
Dia berkata,
“ Gurunya susah, nerangin ngga jelas. Ngga ngerti. Apalagi hitungan.
Teteh sibuk terus mau nanyain tapi teteh terus sibuk sama kuliahnya.”
Saya cukup tersentak dan berfikir apa yang dikatakan adik
saya adalah benar adanya.
Lalu ayah saya menimpali,
“ Iya jelas tetehmu sibuk, pulang kerumah makan dan tidur
selebihnya jiwanya di luar rumah.”
Saya semakin terdiam dan berfikir, memang benar.
Lalu apa gunanya saya belajar IPA hampir 12 tahun, dari SD
SMP SMA dan sekarang tak terpakai karena kuliah saya di jurusan IPS.. lalu apa
gunanya ilmu yang saya serap selama ini jika adik saya sendiri masih awam
dengan fisika? Dia kelas 1 SMP.
Dimana sisi tanggung jawab saya, ketika saya mengurusi
hal-hal lain. Hal yang menurut orang lain penting, tapi adik saya sendiri masih
saya abaikan.
Saya melihat ke wajah adik saya dan saya tersenyum,
“ mana coba liat buku fisikanya?”
Dia loncat dari kursinya dan berlari menuju kamarnya..
Sebegitu ia semangat dan bahagia ketika akhirnya saya
berinisiatif sendiri untuk bergerak mengajarinya..
Setelah sebelumnya memang dia sering meminta saya
mengajarkan tapi saya tolak karena saya terlalu lelah.
Lalu apa gunanya kelelahan saya apabila adik saya sendiri
masih awam dengan Fisika, ilmu yang saya serap kurang lebih 6 tahun.
Saya ajarkan dia mengenai pengukuran suhu dan jangka sorong
juga mikrometersekrup.
30 menit dia sudah mengerti, ternyata hanya 30 menit dari 24
jam saja ..
Kemana 30 menit dalam hari-hari sebelumnya?
Mengapa saya baru sadar ketika adik saya menyerah dengan keadaan
dalam ketidak mengertian.
Lalu melihat keadaan ini, adik saya yang satu lagi
menyalakan kompuer dan menarik tangan saya untuk meminta tolong bagaimana
membuat grafik poligon..
Ternyata adik saya jauh lebih membutuhkan saya..
Ternyata secara kasar saya menelantarkan mereka dalam
masalah ilmu,
Lalu untuk apa ijasah yang tertimbun di lemari jika mereka
saja masih haus akan kepahaman?
Ternyata saya salah besar.
Saya sadar dan teramat sadar sekarang.
Saya bertekad untuk meluangkan 30 menit dalam hari-hari saya
esok dan seterusnya..
Saya akan menanamkan ilmu yang telah saya serap kepada
mereka,
Karena masa depan saya ada di tangan mereka, lalu mengapa
saya lebih senang untuk mengurusi hal-hal lain?
Buat apa rasa bangga mereka ketika melihat saya berhasil
lulus UN dan masuk Universitas Negri apabila saya sendiri tidak memperhatikan
akademis mereka..
Ternyata mereka sangat butuh belajar dalam konteks lain,
Belajar dengan gurunya, guru terdekat mereka. Siapa lagi
selain saya? karena orang tua saya tidak bergelut sama sekali di bidang rumus. Saya
lah satu-satunya yang mereka andalkan dalam keluarga kalau sudah berbicara
rumus, lalu kemana saja saya selama ini?
Mungkin tulisan ini, bukan saya saja yang mengalami.
Maka saya mencoba berbagi, dan mengajak anda para kakak yang
mempuyai adik.
Liriklah mereka dan mulailah memperhatikan akademis mereka,
karena ketika mereka tumbuh dan menjadi pintar, kitalah yang akan menangis
bangga akan mereka.
Kalau bukan kita siapa lagi :”
Mereka tidak hanya butuh status kaka beradik, mereka
membutuhkan sosok kakak yang bisa mengerti akan kebutuhan mereka, kitalah tempat
kedua terpenting untuk dimintai tolong setelah orang tua..
Ajarilah mereka apa yang bisa kita ajarkan sebelum mereka
memohon..
Perhatikan mereka sebelum mereka terlanjur menyerah..
Karena darah kami adalah sama, esensinya ilmu dan jiwa yang
kita milikki juga adalah hak mereka. Berikanlah hak mereka..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar