Kamis, 22 Agustus 2013

           Senja di Palabuhan Ratu, menerjemahkan arti pasir di pesisir pantai dengan kaki telanjang. Panca indra ini seutuhnya teralihkan oleh perbatasan dunia air dan darat. Telinga ini tak berhenti untuk memanggil dan memancing deburan ombak pantai ini, menyuarakan dan mewakili gemuruh hati. Mata ini tak ingin lepas dari mentari yang sebentar lagi turun ke singgasananya, menggambarkan bagaimana rasa ini harus bersikap. Ingin aku teriak menggetarkan batu karang ataupun memecahkannya. Agar dunia ini tahu aku meradang dalam pesisir. Sendirian menyusuri pantai ini cukup membuat luka ini menggema dari zonanya, kutarik nafas panjang membiarkan oksigen murni dari daerah sini menyatu dengan darahku. Berharap itu berfungsi untuk membuang racun ini dari hati. Aku terus berjalan, dan berjalan sampai panta ini menemukan ujungnya.

            “Fero !!” suara berat dan lantang itu menyeruku dalam lamunanku. Aku menoleh ke arah datangnya suara itu dan.. aku tak cukup mengenalinya.
            “Siapa?” ujarku padanya
            “Hahaha Fero untung saya masih ingat kamu, kamu berubah! Hanya cara berjalan kamu saja yang masih sama. Kau tidak ingat saya?”
            Aku menggeleng-geleng memeperhatikannya dari ujung ke ujung masih saja aku tak ingat.
           “Baiklah saya akan memberi kamu clue, ingat ini?” dia memperagakan sebuah gerakan 2 ibu jari yang mengapit hidungnya sendiri dan kontras aku langsung ingat dan tertawa.
           “Hahaha oke aku ingat hahaha, Bista? Waw kereeen sekali, bagaimana bisa kau seperti ini?”
            Itu Bista, rekan SMPku dulu, Bista itu kecil pendek hitam dan bodoh. Dan 5 tahun berlalu dia sangat berbeda, dia kini tinggi kekar,dia menjadi manager perusahaan besar di Bandung, dan dia tampan.
           “Seiring waktu berjalan, kau pun sangat berubah ya.. jadi lebih hmm lupakan, loh kamu sendirian?”
            “Lebih apa ko ngomongnya sepotong sih, iya aku sendirian hehe aku jenuh dengan Jakarta, jenuh dengan pekerjaan dan jenuh dengan.. lupakan”
            “Balas dendam nih ceritanya, main sepotong-sepotong gitu ceitanya”
            Akhirnya kami berjalan bersama, perbedaannya sangat jelas, ketika aku berjalan sendiri dan ketika ada Bista ikut melangkah. Kami membicarakan semuanya, sinopsis dari 5 tahun yang telah berlalu. Dan sunset pun terjadi, kami berdiri menantang seolah siap untuk ikut terbenam.
            “Jadi, sekarang kamu “sendirian” “ tanya Bista.
           “Iya begitulah, kamu? Sudah berapa anakmu sekarang?”
          “Saya masih menunggu..”
            “Menunggu siapa?”
            “Menunggu jodoh saya”
            “Kenapa kau hanya menunggu? Cari dong”
            “Tidak usah, buktinya dia sendiri yang mendatangi saya dan menyusul saya dan ada disini bersama saya”
             Aku terdiam..
            “ Kamu tahu? Sudah berapa lama saya menunggu moment ini, bertahun-tahun. Saya yakin hal ini akan terjadi, saya yakin kamulah yang menghampiri saya setelah saya menunggu kamu. Sejak SMP dan mengenal kamu, saya tahu kamu jodoh saya. Saya tidak membuka hati pada siapapun perempuan dalam dunia saya, saya masih menempatkan itu buat kamu. Saya tidak pelu basa-basi lagi untuk menyatakan semua ini, cinta saya terhadap kamu sudah terlalu kuat diperkokoh waktu. Bukan tanpa alasan kenapa baru sekarang saya menyatakan ini, bukan tanpa alasan kenapa saya tidak mencari kamu. Saya tidak mau terburu-buru, saya hanya menunggu waktu yang disediakan Tuhan untuk kita. Seperti sekarang, mungkin memang disini tempatnya saya bisa mengutarakan semuanya, sekarang saya berani untuk mengakui semuanya. Karena saya siap bertanggung jawab atas kamu, sekarang saya siap untuk mendampingi kamu dalam kondisi apapun nanti, sekarang saya siap untuk berdiri mmelindungi kamu. Bahkan saya sudah terlalu siap. Entah saya harus bagaimana jika kamu ternyata sudah menikah, tapi rupanya Tuhan memang tidak tidur, dia selalu membantu saya dan mewujudkan do’a saya. Kamu datang kesini sendirian, benar-benar sendirian. Fero, saya mencintai kamu diatas penantian yang panjang, betapa prinsip saya kuat untuk kamu.. apakah semuanya tidak membuatmu luluh?”
              Masih terdiam.. tenggorokanku tersumbat tiba-tiba,
              “Hm, aku kaget.”
             “ Saya sudah memikirkan semuanya, meskipun saya tidak mencarimu, saya selalu mengikuti pekembanganmu dari mana saja. Ayolah, jangan membuat ending semua ini menjadi pahit. Jangan sia-siakan peantian saya untuk kamu Fero, coba lihat saya... saya yang benar-benar menunggu kamu selama ini.”
               Dan disinilah semua berawal, diatas pasir didepan pantai dan dibawah sunset. Semua berubah, menjadi lebih bahagia.. memang ada sesuatu yang akan indah dibalik keterpurukan, memang ada orang yang sangat tulus dibalik orang yang sangat brengsek. Memang Tuhan tidak akan semudah itu memberi yang terbaik, karena kita tidak akan pernah tahu bagaimana arti kata terbaik, sebelum Tuhan mempertemukan kita pada orang yang baik, salah, dan jahat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar