Artikel? hoaaaam pasti lo ngantuk kan bacanya? entahlah... nampaknya hobby gue yang ke 12 setelah, 1.nyanyi 2.nulis puisi 3.curhat 4.ngomong 5.foto-foto 6.ngeceng 7.makan 8.baca novel fiksi 9.presentasi 10.mencintai kamu (lahhh) 11. denger musik 12.BIKIN ARTIKEL huahahahaha.
Check this out, kalo gangerti lah gue juga gangerti (?)
Semua
Berawal dari Mimpi
Apa
yang anda ketahui tentang sebuah mimpi? Mungkin bagi sebagian orang, mimpi
hanya dianggap sebagai bunga tidur saja. Tapi mimpi juga bisa disebut sebagai persepsi
dan rekonstruksi dari pikiran bawah-sadar kita, tentang sesuatu yang menjelma
dalam tidur tanpa makna. Bisakah sebuah mimpi menjadi awal dari kenyataan?
Dalam
buku yang berjudul “Menatap Punggung Muhammad” yang ditulis oleh Fahd Djibran,
dituliskan bahwa ada tahap tidur dengan gerak mata cepat, rapid eye movement, atau yang lebih sering dikenal dengan istilah
REM. Jika kita mengalami tidur REM, semua otot-otot yang berada di tubuh kita
menjadi tenang sepenuhnya, sementara irama jantung, pernapasan, tekanan darah,
suhu otak, dan aliran darah cenderung meningkat.
Orang
yang dibangunkan dalam fase tidur REM, mereka melihat sesuatu dalam mimpinya,
gambar-gambar dan alur cerita, tokoh-tokoh yang lebih jelas dan terperinci yang
biasanya sangat berbeda dengan kejadian sehari-hari. Berbeda jika orang
dibangunkan pada tahap non-REM, orang melihat gambar-gambar tidak rinci yang
sangat mirip dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin inilah fase mimpi kita pada
umumnya. Namun, jika kita mengalami mimpi yang baik dalam tahap REM, tentunya
kita akan merasa penasaran dan bertanya mengapa kita bisa sampai memimpikan hal
yang sebaik dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Mungkinkah
rasa penasaran itu kita bawa sampai kedunia nyata, menggerakan hati, pikiran, perasaan,
bahkan kesadaran untuk mencari tahu bahkan mewujudkannya? Mungkin saja. Carl
Gustav Jung (1874-1961) seorang psikoanalis kenamaan menganggap aspek konteks
dari kedirian seseorang merupakan sesuatu yang sangat penting dan mempengaruhi
mimpi seseorang. Mungkin contohnya begini, ketika kita sedang berusaha belajar
untuk melaksanakan ujian dan menggeluti segala hal yang bersangkutan dengan
ujian, selang hari kemudian kita bermimpi bahwa kita lulus ujian. Bukankah itu
menjadi suatu motivasi besar dalam dunia nyata kita?
Banyak
tokoh dunia yang menjadikan mimpi sebagai pijakan kesuksesannya, coba ingat
lagi ketika Friedrich August Kekule von Stradonitz (1829-1896), seorang ahli
kimia yang sejak lama berupaya menentukan struktur molekul senyawa benzene, mendapatkan jawaban dari
pertanyaan panjangnya melalui mimpi. Suatu kali ia terbangun oleh mimpi seekor
ular yang menggigit ekornya, kemudian menyadari bahwa struktur benzen adalah berupa gelang. Contoh
lainnya, seorang fisiologis Jerman pemenang hadiah Nobel, Otto Loewi
(1873-1961), pernah bermimpi tentang sebuah eksperimen selama tiga malam. Dua
malam pertama, ia hanya mencatat saja tetapi tidak bisa memahami
tulisan-tulisannya. Malam ketiga, ia terbangun dan melakukan eksperimennya, dan
akhirnya menghasilkan sebuah penemuan besar.
Ini bukan berarti kita harus sepenuhnya
percaya terhadap mimpi di saat kita tertidur, atau kita hanya tidur dan
bermimpi. Tapi merujuk pada kesaksian-kesaksian para Nabi atau orang-orang suci
dalam kitab agama-agama. Bukankah tidak jarang mereka memperoleh wahyu dan
pencerahan melalui mimpi? Tidak ada salahnya menelusuri mimpi baik dan besar,
yang datang dari keinginan kita yang kuat, yang bermakna harapan dan cita-cita
kita sesungguhnya. Menelusuri dengan tekad, usaha dan do’a yang keras, berawal
hanya dari sebuah mimpi kita bisa memulai bahkan meneruskan langkah di dunia
nyata untuk mewujudkannya. Menembus atau menghancurkan labirin yang memisahkan
dunia mimpi yang tidak mungkin, menjadi mungkin dan terjadi didunia nyata. Jadi
apa mimpi kita yang sudah terwujud di 2013 dan yang akan terwujud di 2014? Jangan
pernah satu kalipun kita takut dan berhenti bermimpi.
Aida Nur Hidayah
Yellow Addicted :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar