Besok Hari Ibu, ketahuilah bahkan sampai saat ini, sampai
kepada aku menulis ini. Ibuku sedang ngomel kepadaku, seperti biasanya. Setiap hari,
ada saja yang salah dari sikapku, tuturku, bahkan ekspresiku kepadanya.
Entahlah, bahkan aku tidak mengerti kenapa aku selalu salah dan selalu
mendapati omelan dengan nada yang keras bahkan sampai menggebrak pintu kamarku.
Ibuku perempuan paling sensitif yang aku kenal, bahkan sederet saja kata yang
salah, menurutnya itu menyakitkan dan membuatnya uring-uringan, kesal bahkan
sangat marah.
Dan kalian tahu? Entah sudah berapa liter air mata ibuku
yang ia keluarkan karena aku, sejak aku lahir sampai sekarang. Masih saja aku
membuatnya sakit dan menangis karena tutur kataku saja. Apa itu yang aku
inginkan? Apa memang aku sengaja untuk membuat ibuku sendiri seperti itu?
tidak, aku mohon.. tidak pernah bahkan tidak mungkin aku berniat seperti itu. Aku
sendiri sering tidak mengerti dimana letak kesalahanku, kekuranganku, sifatku
yang ibuku tidak terima, bahkan aku tidak mengerti apa yang seharusnya aku
lakukan. Satu hal yang aku sangat paham, bahwa aku mencintainya, tidak pernah
aku ingin kehilangan sedikitpun segalanya darinya. Tapi mengapa, masih saja aku
bisa membuatnya kesal. Masih saja aku membuatnya mengomel sampai seharian
penuh. Aku tidak tahu... www.perempuan.com
Telinga ini, sudah sangat terbiasa dengan
pengulangan-pengulangan kalimat yang terlontar darinya. Ibuku memang seperti
itu, mengulang kalimat dan paragraf yang sama untuk satu hari. Hati ini juga
sudah kebal, ketika aku seolah-olah salah dan semakin salah. Setiap hari,
hampir setiap hari. Ada saja kesalahanku yang menjengkelkan untuknya, padahal
aku hanya menjalani hidupku seperti biasa. Tapi aku mencintainya, dan ibuku
mencintai aku juga. Ia mencintai aku, ia tetap merawatku, memasak masakannya
untuku, mendoakanku dalam shalatnya, ia sangat mencintaiku meskipun tiap hari
ia kesal terhadapku.
Sungguh aku mencintainya, nyawaku jadi taruhan dan saksinya.
Aku sering melawan, berbohong, bahkan membuatnya menangis dengan ketajaman
perkataanku terhadapnya, tapi selama 18 tahun, ia tidak pernah mengundurkan
diri sebagai ibuku. Tetap ada cinta yang besar dimatanya, tetap ada pengakuan
bangga dari mulutnya. Tetap saja ia mencucikan bajuku ketika aku sudah terlalu
sibuk, tetap saja dia menyuapi makanan ketika waktu sarapanku sudah semakin
terhimpit, tetap saja ia mengkhawatirkanku ketika aku belum pulang.
Meski pada akhirnya, ketika aku diam dirumah seperti biasa
akulah yang jadi sasaran kemarahan dan omelannya. Ujarnya aku belum dewasa, aku
belum benar dalam mengerjakan sesuatu, aku selalu teledor, aku tidak disiplin,
aku terlalu kasar, aku terlalu kaku, aku dan aku terus. Banyak usahaku agar aku
terlihat sedikit saja menjadi sempurna di depan ibuku, tapi entahlah... apapun
yang aku lakukan pasti ada setitik kesalahan yang memancing ribut di dalam
rumah. Ayahku, sudah biasa. Dia laki-laki yang paling sabar untuk menghadapi
ibuku, bahkan aku anaknya, seringkali emosi ketika ibu berbicara terus menerus
tanpa berhenti, ketika ibu masih saja membahas hal yang sama selama
berhari-hari, aku sangat sering kesal jika keadaan sudah seperti itu. Tapi
ayahku, ia masih terus menerima dan mencintai ibuku. Meskipun seringkali ayahku
juga emosi.
Aku ingin membahagiakan ibuku, sebelum Tuhan mengambil ibu
atau aku. Aku ingin ada dimana aku bisa membuatnya sangat bangga dan puas terhadapku,
aku ingin.. bahkan ketika aku menulis ini ibuku masih menggerutu,
“Aida udah segede gini, mamah pusing daripada aida. Coba
mamah memperhatikan kamu, pusing. Sekarang kamu kuliah terus aja ngerjain tugas
gabisa bagi waktu dengan bener, mana waktu makan mana waktu shalat. Kamu
dibilangin kaya gini udah pusing, okelah dalam pelajaran kamu bagus, tapi kalo
soal kepribadian kamu masih aja salah. Makan aja harus disuruh. Kamu udah
gede...”
dan begitulah intinya, nada bicaranya sangat melengking dan keras
dengan kecepatan yang cukup cepat. Ibuku selalu melebih-lebihkan perkataanku,
aku hanya berkata A ibuku bisa merasa sakit yang luar biasa dan
menambah-nambahkan menjadi ABCDE yang membuatnya semakin sakit.
Aku sudah berusaha menjelaskan, semakin aku berbicara
semakin ia mengomel. Aku bingung, diam. Ya itulah yang paling tepat. Kadang aku
menangis karena sudah terlalu muak, aku harus mendengarkannya dan aku harus
terus mengerjakan tugas. Sering, aku menggerutu dalam hati. Sering sekali.
Ketika aku emosi terhadapnya, ya aku hanya cemberut. Aku hanya
bisa diam dan menahan diri. Aku dan ibuku hampir setiap hari begini. Namun tahukah
kalian? Inilah yang akan selalu kurindukan kelak, ketika aku sudah bisa berdiri
sendiri. Ketika ada perpisahan diantara kami, inilah yang akan paling aku
rindukan. Nada bicaranya yang keras dan tinggi, terkadang pukulan tangannya
terhadap pintu kamarku yang mengagetkanku, inilah yang paling aku rindukan.
Kalian, yang mungkin merasakan hal yang sama denganku,
percayalah, ibumu tidak akan selamanya ada dan bersamamu, ibumu tidak akan
seterusnya memarahimu, melarangmu, membuatmu emosi, ibumu manusia.. yang bisa
menghilang dan pergi kapan saja. Percayalah, cintailah ibumu untuk segala
halnya. Nikmatilah setiap detik omelannya, karena ini yang akan kita rindukan
kelak. Siapa lagi yang akan mengomeli soal sikap pribadi kita, siapa lagi yang
akan jengkel karena kita susah makan atau bangun, siapa lagi yang akan peduli
terhadap hal terkecil dan terdetail yang kita lakukan selain beliau..
Nikmatilah, mumpung masih ada kesempatan bersamanya. Karena kita
tidak akan pernah bisa menentukan kapan ia atau kita sendiri yang pergi. Aku akan
terus berusaha, membuat ibu bangga. Membuat ibu puas dengan kedewasaanku, aku
akan terus mencintai dan lebih mencintainya lagi, meskipun ibuku tidak
merasakan kecintaaku yang sangat tidak wajar, tak apa. Suatu saat, aku pasti
bisa. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan setiap hari untuk mendengar
omelannya, amarahnya. Aku akan selalu terbuai dan merindukan segalanya. 18
tahun, ia selalu ada dan ada disetiap kondisi, ia yang memperjuangkan aku dalam
segala hal. Betapa tidak aku akan sangat merindukannya, mencintainya, dan tidak
rela kehilangannya.
Sangat ingin, aku membuat ibuku bisa merasakan hangatnya
tanah suci, atau hal sesederhananya, aku sangat ingin ibu bisa menilaiku wanita
yang dewasa sepertinya, wanita yang bertutur sopan dan semestinya. Yang selalu
menyejukan hatinya. Sangat ingin. Namun mungkin belum bisa sekarang, aku masih
terlalu kurang untuknya. Tapi aku terus mencoba, aku akan terus mengerti
omelannya yang mungkin merupakan tanda kasih sayangnya terhdapku, karena tanpa
ia memberi tahu, aku sudah mengerti bahwa ia mencintaiku dan akan terus menjadi
ibuku.
Mungkin jika ibuku kelak, melihat blog ku. Aku ingin ia
membaca ini,
“ Mamah, ketika aku melihatmu merias wajah dan jilbabmu di
kaca kamarku, karena dirimu akan pergi keundangan bersama Bapak. Aku melihat
sesuatu mah, tapi aku tidak berani mengatakannya. Mamah sudah terlihat menua,
ada garis-garis tambahan di kening mamah, ada semacam bintik-bintik hitam yang
terlihat, kulit tangan mamah pun sudah terlihat keriput. Mah pipi mamah sudah
tidak sekencang saat aku kecil. Rambut mamah masih hitam, namun sedikit
menipis, ada lingkaran di bawah mata mamah. Mah apa itu karena aku? Apa itu
suatu bukti bahwa mamah sudah terlalu lelah, bahkan menua hanya untuk
mengurusiku? Apa itu artinya, mamah akan menyerah? Mah, percayalah aku menangis
saat mengatakan ini, lihat diri mamah, sudah terlihat berbeda, sudah agak rapuh
dan sering sakit karena maag atau pegal-pegal. Apa ini karena mamah masih saja
megurusi kami semua? Apa mamah memendam kelelahan? Karena aku tidak pernah
sekalipun mendengar mamah lelah terhadap kami. Mamah, demi apapun aku
mencintaimu. Meskipun akulah anak mamah sendiri, yang sering sekali membuatmu
jengkel tiada tara, mungkin kejengkelanmu yang menyebabkan ada garis penuaan di
keningmu, mungkin itu saksi bisu bahwa aku sudah terlalu menyakitimu, tapi
mamah terus saja mencintaiku dan menjadi ibuku. Tetap saja ada binar cinta dan
kasih sayang yang ada di mata coklat mamah, binar yang sudah ada sejak aku
lahir sampai sekarang. Mamah lihat aku, aku sudah setinggimu bahkan lebih
tinggi, aku tumbuh menjadi gadis yang mirip denganmu. Tapi apa, apa yang sudah
aku berikan, bahkan aku membuatmu tersenyum saja itu jarang. Maafkan aku mah,
aku ingin memelukmu, mencium kening hidung bahkan pipimu, kakimu dan tanganmu. Mamah
tolong, maafkan aku. Jangan beranjak kemanapun sebelum aku bisa membuktikan
segalanya mah, tolong diam disitu sampai aku menjadi apa yang mamah mau. Tolong
mah, berikan aku waktu sebentar lagi untuk menjadi seorang sarjana, bekerja dan
berkarir secara sukses, menikah didepan mamah, dan memberimu cucu. Memberangkatkanmu
ke tanah suci,, membelikanmu rumah yang nyaman, dan segalanya. Merawatmu dengan
bantuan suamiku, anakku. Mamah tolong bertahan, jangan menyerah untuk
merawatku. Omeli aku saja setiap detik, aku akan mendengarkanmu asal dirimu
sudi untuk tetap ada. Mamah lihat, aku sedang berlari mengejar semuanya. Sabar mah,
tolong.. jangan lagi menangis aku mohon, air matamu adalah pisau yang mengiris
hatiku, maafkan aku mah. Aku menyayangimu, melebihi apapun. Semoga mamah tau
dan mengerti, I love you..... mamah yang bawel dan setiap hari mengomel :* “
Selamat hari Ibu... bahagiakan ibumu sedini mungkin.. semoga
tulisanku menginspirasimu selalu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar