Sabtu, 21 Desember 2013

Kau Harga Mati Terima Kasih Ibu

22 Desember 2013..

           Besok Hari Ibu, ketahuilah bahkan sampai saat ini, sampai kepada aku menulis ini. Ibuku sedang ngomel kepadaku, seperti biasanya. Setiap hari, ada saja yang salah dari sikapku, tuturku, bahkan ekspresiku kepadanya. Entahlah, bahkan aku tidak mengerti kenapa aku selalu salah dan selalu mendapati omelan dengan nada yang keras bahkan sampai menggebrak pintu kamarku. Ibuku perempuan paling sensitif yang aku kenal, bahkan sederet saja kata yang salah, menurutnya itu menyakitkan dan membuatnya uring-uringan, kesal bahkan sangat marah.

            Dan kalian tahu? Entah sudah berapa liter air mata ibuku yang ia keluarkan karena aku, sejak aku lahir sampai sekarang. Masih saja aku membuatnya sakit dan menangis karena tutur kataku saja. Apa itu yang aku inginkan? Apa memang aku sengaja untuk membuat ibuku sendiri seperti itu? tidak, aku mohon.. tidak pernah bahkan tidak mungkin aku berniat seperti itu. Aku sendiri sering tidak mengerti dimana letak kesalahanku, kekuranganku, sifatku yang ibuku tidak terima, bahkan aku tidak mengerti apa yang seharusnya aku lakukan. Satu hal yang aku sangat paham, bahwa aku mencintainya, tidak pernah aku ingin kehilangan sedikitpun segalanya darinya. Tapi mengapa, masih saja aku bisa membuatnya kesal. Masih saja aku membuatnya mengomel sampai seharian penuh. Aku tidak tahu... www.perempuan.com

             Telinga ini, sudah sangat terbiasa dengan pengulangan-pengulangan kalimat yang terlontar darinya. Ibuku memang seperti itu, mengulang kalimat dan paragraf yang sama untuk satu hari. Hati ini juga sudah kebal, ketika aku seolah-olah salah dan semakin salah. Setiap hari, hampir setiap hari. Ada saja kesalahanku yang menjengkelkan untuknya, padahal aku hanya menjalani hidupku seperti biasa. Tapi aku mencintainya, dan ibuku mencintai aku juga. Ia mencintai aku, ia tetap merawatku, memasak masakannya untuku, mendoakanku dalam shalatnya, ia sangat mencintaiku meskipun tiap hari ia kesal terhadapku.

            Sungguh aku mencintainya, nyawaku jadi taruhan dan saksinya. Aku sering melawan, berbohong, bahkan membuatnya menangis dengan ketajaman perkataanku terhadapnya, tapi selama 18 tahun, ia tidak pernah mengundurkan diri sebagai ibuku. Tetap ada cinta yang besar dimatanya, tetap ada pengakuan bangga dari mulutnya. Tetap saja ia mencucikan bajuku ketika aku sudah terlalu sibuk, tetap saja dia menyuapi makanan ketika waktu sarapanku sudah semakin terhimpit, tetap saja ia mengkhawatirkanku ketika aku belum pulang.

             Meski pada akhirnya, ketika aku diam dirumah seperti biasa akulah yang jadi sasaran kemarahan dan omelannya. Ujarnya aku belum dewasa, aku belum benar dalam mengerjakan sesuatu, aku selalu teledor, aku tidak disiplin, aku terlalu kasar, aku terlalu kaku, aku dan aku terus. Banyak usahaku agar aku terlihat sedikit saja menjadi sempurna di depan ibuku, tapi entahlah... apapun yang aku lakukan pasti ada setitik kesalahan yang memancing ribut di dalam rumah. Ayahku, sudah biasa. Dia laki-laki yang paling sabar untuk menghadapi ibuku, bahkan aku anaknya, seringkali emosi ketika ibu berbicara terus menerus tanpa berhenti, ketika ibu masih saja membahas hal yang sama selama berhari-hari, aku sangat sering kesal jika keadaan sudah seperti itu. Tapi ayahku, ia masih terus menerima dan mencintai ibuku. Meskipun seringkali ayahku juga emosi.
             Aku ingin membahagiakan ibuku, sebelum Tuhan mengambil ibu atau aku. Aku ingin ada dimana aku bisa membuatnya sangat bangga dan puas terhadapku, aku ingin.. bahkan ketika aku menulis ini ibuku masih menggerutu,

“Aida udah segede gini, mamah pusing daripada aida. Coba mamah memperhatikan kamu, pusing. Sekarang kamu kuliah terus aja ngerjain tugas gabisa bagi waktu dengan bener, mana waktu makan mana waktu shalat. Kamu dibilangin kaya gini udah pusing, okelah dalam pelajaran kamu bagus, tapi kalo soal kepribadian kamu masih aja salah. Makan aja harus disuruh. Kamu udah gede...” 
dan begitulah intinya, nada bicaranya sangat melengking dan keras dengan kecepatan yang cukup cepat. Ibuku selalu melebih-lebihkan perkataanku, aku hanya berkata A ibuku bisa merasa sakit yang luar biasa dan menambah-nambahkan menjadi ABCDE yang membuatnya semakin sakit.

             Aku sudah berusaha menjelaskan, semakin aku berbicara semakin ia mengomel. Aku bingung, diam. Ya itulah yang paling tepat. Kadang aku menangis karena sudah terlalu muak, aku harus mendengarkannya dan aku harus terus mengerjakan tugas. Sering, aku menggerutu dalam hati. Sering sekali.

             Ketika aku emosi terhadapnya, ya aku hanya cemberut. Aku hanya bisa diam dan menahan diri. Aku dan ibuku hampir setiap hari begini. Namun tahukah kalian? Inilah yang akan selalu kurindukan kelak, ketika aku sudah bisa berdiri sendiri. Ketika ada perpisahan diantara kami, inilah yang akan paling aku rindukan. Nada bicaranya yang keras dan tinggi, terkadang pukulan tangannya terhadap pintu kamarku yang mengagetkanku, inilah yang paling aku rindukan.

             Kalian, yang mungkin merasakan hal yang sama denganku, percayalah, ibumu tidak akan selamanya ada dan bersamamu, ibumu tidak akan seterusnya memarahimu, melarangmu, membuatmu emosi, ibumu manusia.. yang bisa menghilang dan pergi kapan saja. Percayalah, cintailah ibumu untuk segala halnya. Nikmatilah setiap detik omelannya, karena ini yang akan kita rindukan kelak. Siapa lagi yang akan mengomeli soal sikap pribadi kita, siapa lagi yang akan jengkel karena kita susah makan atau bangun, siapa lagi yang akan peduli terhadap hal terkecil dan terdetail yang kita lakukan selain beliau..

              Nikmatilah, mumpung masih ada kesempatan bersamanya. Karena kita tidak akan pernah bisa menentukan kapan ia atau kita sendiri yang pergi. Aku akan terus berusaha, membuat ibu bangga. Membuat ibu puas dengan kedewasaanku, aku akan terus mencintai dan lebih mencintainya lagi, meskipun ibuku tidak merasakan kecintaaku yang sangat tidak wajar, tak apa. Suatu saat, aku pasti bisa. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan setiap hari untuk mendengar omelannya, amarahnya. Aku akan selalu terbuai dan merindukan segalanya. 18 tahun, ia selalu ada dan ada disetiap kondisi, ia yang memperjuangkan aku dalam segala hal. Betapa tidak aku akan sangat merindukannya, mencintainya, dan tidak rela kehilangannya.

               Sangat ingin, aku membuat ibuku bisa merasakan hangatnya tanah suci, atau hal sesederhananya, aku sangat ingin ibu bisa menilaiku wanita yang dewasa sepertinya, wanita yang bertutur sopan dan semestinya. Yang selalu menyejukan hatinya. Sangat ingin. Namun mungkin belum bisa sekarang, aku masih terlalu kurang untuknya. Tapi aku terus mencoba, aku akan terus mengerti omelannya yang mungkin merupakan tanda kasih sayangnya terhdapku, karena tanpa ia memberi tahu, aku sudah mengerti bahwa ia mencintaiku dan akan terus menjadi ibuku.
Mungkin jika ibuku kelak, melihat blog ku. Aku ingin ia membaca ini,

“ Mamah, ketika aku melihatmu merias wajah dan jilbabmu di kaca kamarku, karena dirimu akan pergi keundangan bersama Bapak. Aku melihat sesuatu mah, tapi aku tidak berani mengatakannya. Mamah sudah terlihat menua, ada garis-garis tambahan di kening mamah, ada semacam bintik-bintik hitam yang terlihat, kulit tangan mamah pun sudah terlihat keriput. Mah pipi mamah sudah tidak sekencang saat aku kecil. Rambut mamah masih hitam, namun sedikit menipis, ada lingkaran di bawah mata mamah. Mah apa itu karena aku? Apa itu suatu bukti bahwa mamah sudah terlalu lelah, bahkan menua hanya untuk mengurusiku? Apa itu artinya, mamah akan menyerah? Mah, percayalah aku menangis saat mengatakan ini, lihat diri mamah, sudah terlihat berbeda, sudah agak rapuh dan sering sakit karena maag atau pegal-pegal. Apa ini karena mamah masih saja megurusi kami semua? Apa mamah memendam kelelahan? Karena aku tidak pernah sekalipun mendengar mamah lelah terhadap kami. Mamah, demi apapun aku mencintaimu. Meskipun akulah anak mamah sendiri, yang sering sekali membuatmu jengkel tiada tara, mungkin kejengkelanmu yang menyebabkan ada garis penuaan di keningmu, mungkin itu saksi bisu bahwa aku sudah terlalu menyakitimu, tapi mamah terus saja mencintaiku dan menjadi ibuku. Tetap saja ada binar cinta dan kasih sayang yang ada di mata coklat mamah, binar yang sudah ada sejak aku lahir sampai sekarang. Mamah lihat aku, aku sudah setinggimu bahkan lebih tinggi, aku tumbuh menjadi gadis yang mirip denganmu. Tapi apa, apa yang sudah aku berikan, bahkan aku membuatmu tersenyum saja itu jarang. Maafkan aku mah, aku ingin memelukmu, mencium kening hidung bahkan pipimu, kakimu dan tanganmu. Mamah tolong, maafkan aku. Jangan beranjak kemanapun sebelum aku bisa membuktikan segalanya mah, tolong diam disitu sampai aku menjadi apa yang mamah mau. Tolong mah, berikan aku waktu sebentar lagi untuk menjadi seorang sarjana, bekerja dan berkarir secara sukses, menikah didepan mamah, dan memberimu cucu. Memberangkatkanmu ke tanah suci,, membelikanmu rumah yang nyaman, dan segalanya. Merawatmu dengan bantuan suamiku, anakku. Mamah tolong bertahan, jangan menyerah untuk merawatku. Omeli aku saja setiap detik, aku akan mendengarkanmu asal dirimu sudi untuk tetap ada. Mamah lihat, aku sedang berlari mengejar semuanya. Sabar mah, tolong.. jangan lagi menangis aku mohon, air matamu adalah pisau yang mengiris hatiku, maafkan aku mah. Aku menyayangimu, melebihi apapun. Semoga mamah tau dan mengerti, I love you..... mamah yang bawel dan setiap hari mengomel :* “


Selamat hari Ibu... bahagiakan ibumu sedini mungkin.. semoga tulisanku menginspirasimu selalu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar