Ada seekor burung, pada awalnya burung itu mempunyai dua sayap yang sempurna untuk terbang setingggi-tingginya atau serendah-rendahnya. Burung itu sudah terbiasa bebas, Terlalu bebas untuk sebuah langit. Selalu menikmati kebebasannya, sampai ia lupa bahwa ia hanya seekor burung yang tidak akan sampai menuju angkasa luar. Ia hanya mampu mengitari sebatas langit. Suatu hari, sayap itu akhirnya patah juga, tersungkur dan menepi di sebuah pohon. Tidak lama, seorang manusia mengambil dua buah sayapnya. Melindungi dengan baik di sudut hatinya, manusia itu memberikan dunia yang baru, 180 derajat dari awal mula. Burung itu belajar mengenai berjalan pelan-pelan dan berhati-hati, tidak lagi terbang seenaknya.
Manusia itu memberinya lebih dari serupa sarang, itu istana. Istana yang megah, baru dan segar. Berbeda dengan langit luas yang biasanya, itu hanya sebuah istana, tertutup tirai tebal. Burung itu tidak bisa lagi melihat semaunya, berprilaku semuanya, karena istana itu mengajarkannya bagaimana menjadi burung yang sadar bahwa dirinya hanyalah seekor burung. Burung itu bahagia, meskipun lambat laun ia berontak, ia rindu akan dunia yang lalu. Ia masih ingin terbang lagi, masih banyak langit yang belum ia susuri. Namun sang manusia tidak pernah membukakan tirai itu sedikitpun untuknya. Mau apa lagi, dalam istana itu semua yang dibutuhkan ada, kebahagiaan pun di depan mata, tapi terkadang sulit rasanya ketika naluri burung itu kembali ke asalnya. Ingin rasanya burung itu menatap sang manusia dan berkata, 'Bisakah kamu membukakan tirai yang tebal itu? hanya untuk seukuran tubuhku, aku berjanji hanya keluar barang 1 atau 2 jam saja, setelah itu aku akan selalu kembali lagi kesini, aku mohon, semua memang ada disini, aku mendapatkan semuanya walau aku tak lagi bisa terbang, tapi bisakah aku pinjam sebelah sayapku yang kamu simpan? aku berjanji hanya sebelah saja, ijinkan aku kembali pada duniaku dulu hanya sedikit dan sebentar, sungguh aku tak akan meninggalkan istanamu ini."
Namun, perlu waktu, agar sang manusia bisa mengerti.
Mungkin dianalogikan aku adalah sang burung dan Alif adalah manusianya :)
Sudah 6 bulan kami menjalin kisah dan kasih, tidak terasa.
Cinta memang membinasakan waktu.
Yang aku tahu, kita sama-sama keras kepala, sama-sama pemarah, sama-sama gila, sama-sama kekanak-kanakan. Teori yang menyebutkan bahwa persamaan sifat itu membosankan dan tidak berkembang, itu salah. Kita banyak persamaan, tapi terasa sangat beragam. Sungguh tidak ada yang membosankan.
Sedetik saling membahagiakan sedetik kemudian hubungan kita bisa sangat mengerikan. Itulah kita.
Hubungan kita seperti sehelai bulu yang rentan terbakar, jatuh dan patah. Namun kita terus tumbuh, bertahan dan kuat. Oh tidak tulisan ini nampak terlalu baku dan serius, mannnn kita itu jauh dari serius kalo lagi bareng-bareng, kita spesies memalukan yang entah dimana letak wibawanya. Kita itu capruk, ganas, dan aneh. Apa aja kita omongin dari yang bermartabat sampai kepada hal-hal yang sekecil kutu. Kita kaya simpati, nyambung terus sinyalnya kuat. Bahagia banget kalo lagi akur, tapi sangat mengerikan sekali kalau lagi berantem,
Tulisan ini lebih kepada perayaan, 6 bulan buat aku adalah lama banget. Aku yakin bisa langgeng sama Alif meskipun banyak godaannya.
Kebiasaan kita yang sering kita lakukan udah terlanjur jadi kewajiban dalam hidup aku, aku kecanduan gaya bicaranya kamu gaya bercandanya kamu, senyum kamu, dan kumis kamu.
Aku udah lebih dari kutub selatan jika kamu memang kutub utara.
Seperti judulnya, seperti setengah abad, rasanya sudah lama sekali kita sama-sama.
Mungkin memang kita tidak mengumbar bagaimana kita di publik, kita seperti tenang di permukaan namun sebenarnya bergejolak di dalamnya.
Alif, ini tulisan yang kamu minta, mungkin lebay atau alay apalah kamu sering bilang. Tapi ini mengalir langsung dari hati aku buat kamu.
Alif, setengah tahun bagi aku sangat spesial, penjajakan yang sangat mendalam. Sebuah penghargaan aku bisa jadi belahan jiwa dan otak kamu.
Kamu yang ngasih teori kalau Arcamanik-Kopo itu berjarak 1 meter, habisnya kamu nggak pernah kapok ke Kopo jemput aku, nganter aku, ngikutin aku, dateng tiba-tiba padahal jaraknya jauh banget. Dan kamu nggak ngeliatin itu, dalem bro.
Ih tulisannya masih kaku ah, alamaaaak. Alif mana respon sama tulisan ginian, nggak tau hatinya tersentuh pake apa, pake bunga? kayanya responnya biasa aja, pake lukisan? biasa, pake puisi? biasa zzzz gimana ya cara bikin kamu bilang wow ._. atau emang kamu mah gengsian orangnya ya? males kayanya muji-muji pemberian aku gitu huuu.
Pacaran kita itu bisa jadi kaya anak play group atau bisa jadi kaya yang udah nikah puluhan tahun, nggak konsisten pokoknya, sama-sama labil, sama-sama gamau salah, sama-sama jadi minyak tanah kalo lagi berantem.
Temen sekelas yang emang kalau dikelas kita kaya temen aja, nggak memperlihatkan apa yang sebenrnya, bisa jadi abang juga yang dengerin semua cerita aku dari yang penting sampai yang nggak penting, bisa jadi ade sendiri yang kadang harus diatur harus diturutin kemauannya biar diem, bisa jadi musuh yang selalu bilang aku bodoh dan yang nguras air mata, bisa jadi sahabat lama yang kemana-mana berdua nemenin jauh atau deket, bisa jadi pacar bahkan jodoh yang selalu jadiin aku lebih baik lagi, yang ngajarin aku nggak boleh sentuhan tangan sama cowok yang harus jaga diri, yang harus pake kerudung kemana-mana sekalipun kewarung, yang selalu ngingetin kalo kerudung aku nggak nutupin dada, yang marah kalau baju aku ngetat, yang selalu cemburu setiap saat kadang ada alesan kadang nggak ada, yang selalu khawati sama aku, yang selalu nelepon kalau aku marah ilang, yang selalu nyamperin kalau lagi berantem hebat, yang sayang sama aku sampai dia larang ini itu karena saking sayangnya, yang tau cara bikin aku ketawa dalam 5 detik, yang lucu gemesin ngangenin, yang nyeremin kalo emosinya keluar, yang bisa bikin aku ilang ingatan tentang baiknya dia ketika dia marah dan mulai buat peraturan yang nggak aku suka, semuanya ada.. manis paitnya, susah senangnya, dia orang yang paling nggak mau aku kepanasan, kehujanan, cape, berat, apapun.
Dia selalu meringankan beban aku semampu dia, dia selalu nolong aku, dia yang paling marah kalau aku telat makan atau apapun yang bisa membahayakan diri aku, dia yang paling sabar selalu nerima segala kecerobohan aku, dari aku yang pelupa dimana kunci motor, atau sampai aku yang ngilangin sarung tangan dia yang dia beli dengan susah payah, merk eiger dengan diskon, baru dipake seminggu dan aku ilangin, dia yang nggak pernah pergi dan nggak pernah mau ninggalin aku, dia yang selalu nanggepin segala celotehan aku, segala kemauan aku, segala kekonyolan aku, ketidakmasuk akalan aku, dia yang mau nemenin kemana aku pergi baik ke tempat yang wajar bahkan kurang ajar. Dia yang nggak pernah ngeluh cape kalau aku nyusahin dia, dia yang sangat baik melebihi apapun, dia buku diary aku yang selalu aku isi dengan cerita-cerita, dia harapan aku satu-satunya ketika aku nggak bisa ngelakuin hal.
Dia orang pertama yang aku kasih kabar gembira maupun sedih, dia yang nerima segala kebodohan aku, dia yang selalu bilang aku cantik, dia yang nggak pernah malu buat berdiri dan jalan sama aku kemanapun dia mau, dia yang selalu ngeladenin kalau aku mau foto, dia yang selalu ngasih tumpangan dengan senang hati kalau motor aku bermasalah, dia yang selalu maksa buat ngikutin aku sampai kopo, dia yang rela ngabisi energinya buat aku, dia yang rela ngebuang segalanya buat aku, dia yang nggak pernah mikirin kesehatan dia sendiri buat jagain aku, dia yang sayang sama aku melebihi sayangnya dia sama badannya sendiri, dia yang selalu ingin keliatan baik-baik aja, dia yang nggak pernah mau bilang kalau sakit, dia yang selalu bugar disaat ketawa ataupun marah, dia yang sangat mencintai aku, dia yang siaga mengejar aku ketika aku mau pergi, dia yang nggak ada bandingannya....
Dia yang selalu tau, apa yang aku butuhkan. Dia yang nggak rela kalau aku nggak pake jaket, masker atau kaos kaki, dia berani megang kaos kaki aku, dia yang nggak pernah nyesel atas keplinplanan aku, dia selalu bertahan gimanapun aku, yang selalu majang tampang konyol buat aku yang mungkin orang lain gapernah liat, dia yang takut item, dia yang seneng banget aku berpenampilan sederhana, dia yang paling risih dan jiji ketika aku pake make up, dia yang selalu ngelus kepala aku atau tangan aku ketika dia gabisa bilang 'sabar ya sayang' dia yang selalu jaga image aku. Nggak ada lagi selain minta sama Allah semoga jodoh aku adalah dia.
"Kau gila dan aku tak waras, Karena sepenuh diriku, Mencintai sepenuh dirimu, Kucinta lengkungan dan semua tepimu, Semua ketaksempurnaanmu yang sempurna, Berikanlah sepenuh dirimu padaku, Kan kuberikan sepenuh diriku padamu, Kaulah akhir dan awalku, Meski saat kalah pun aku menang, Karena kuberikan sepenuh diriku padamu, Dan kau berikan sepenuh dirimu padaku"
I Love You ... 7-9-2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar