Redaksi Pikiran Rakyat, edisi Kamis 31 Oktober 2013 rubrik Mimbar Akademik..
Sumpah
(kami masih) Pemuda
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Memperingati
momentum bersejarah yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, dimana pada
saat itu tercipta sebuah ikrar atau sumpah sebagai kristalisasi semangat pemuda
atas cita-cita berdirinya Indonesia. Masih adakah pemuda Indonesia yang
memiliki kesadaran nasionalisme dan jiwa patriotisme, yang melekat erat dan
sudah bercampur dalam jiwa dan darah, layaknya pemuda bangsa Indonesia tempo
dulu? Kami bersikeras menjawab “ ya! ada!
“ meskipun fakta dilapangan menyatakan bahwa nasionalisme dan patriotisme
perlahan luntur dari para pemuda Indonesia yang kini sedang anteng terbius oleh virus hedonisme akan
perkembangan tekhnologi.
Masuknya
culture negara lain, seringkali
membuat pemuda lupa bahkan berpura-pura lupa dengan kebudayaan tanah
kelahirannya. Bukti kecil namun konkretnya adalah ketika playlist musik di handphone kami
berisikan lagu pop barat ketimbang lagu pop Indonesia. Lalu apa kabar dengan
lagu nasional Indonesia? Apakah kami para pemuda hafal atau setidaknya mengenal
lagu ini,
Bangun pemudi-pemuda
Indonesia, lengan bajumu singsingkan untuk negara.
Masa yang akan datang
kewajibanmu lah.
Menjadi tanggunganmu
terhadap nusa, menjadi tanggunganmu terhadap nusa.
Lagu
yang ciptaan oleh A.Simanjuntak yang berjudul “Bangun Pemuda-Pemudi” ini sangat
tepat dengan momentum sumpah pemuda, dilihat dari liriknya yang penuh dengan
makna, merupakan wejangan yang diperuntukkan bagi kami pemuda-pemudi Indonesia.
Lirik akhir yang diulang dua kali seolah-olah peringatan keras kepada kami,
menekankan kami bahwa kami adalah generasi penerus. Karena setelah generasi tua
akan pergi, dan pada saat itulah kami menggantikannya.
Lalu mau dibawa kemana negara ini jika
generasi muda tidak memiliki kesiapan? Adakah rasa tanggung jawab atau rasa
beban karena kami akan menanggung tanggungan yang sangat luar biasa itu? justru
hal yang paling utama adalah kami harus merasa sadar akan kewajiban kami dengan
negara ini. Tanpa kesadaran akan tanggungan itu, kami tidak akan berfikir untuk
berbuat sesuatu. Maka, berhenti untuk mengkritisi dan mencaci akan kepemimpinan
negara ini dengan cara yang tidak memberikan solusi apapun. Mulailah kami untuk
membenahi karakter agar dimasa depan kami siap dan tangguh.
Jadikan
momentum sumpah pemuda ini sebagai cambukan keras, yang bukan diperingati hanya
sekedar meng-update “Selamat Hari
Sumpah Pemuda blablabla” di berbagai media sosial, tanpa menciptakan kesadaran
dan melakukan perubahan. Mulai bahkan teruskanlah untuk menanam karakter yang
baik, menghargai keberagaman, integritas dan sosial. Sejarah, kami memang belum
mencerna betul akan nilai sejarah, akan nilai pancasila yang cenderung kami
abaikan.
Maka, kini kami harus mengobati diri sendiri
dengan memahami dan menjiwai pentingnya nilai tersebut yang akan menopang kami
kelak. Menginternalisasikan ikrar dalam sumpah pemuda. Dengan pancasila kami
akan sembuh dan bangkit dari penyakit hedonisme yang merajalela. Dengan
kesadaran akan keberadaan sang saka merah putih, kami harus bersatu dan
berhenti berpecah-belah karena berjuang dalam suatu kelompok saja dan
mengabaikan persatuan. Karena apa wahai pemuda Indonesia? Karena kami masih dan
tetap menjadi pemuda Indonesia yang akan mengubah wajah negara ini dengan
tangan kami sendiri.
Aida Nur Hidayah
Ilmu Komunikasi UPI 2013
Aida Nur Hidayah
Ilmu Komunikasi UPI 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar