Jumat, 01 November 2013

Redaksi Pikiran Rakyat, edisi Kamis 31 Oktober 2013 rubrik Mimbar Akademik..

Sumpah (kami masih) Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Memperingati momentum bersejarah yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, dimana pada saat itu tercipta sebuah ikrar atau sumpah sebagai kristalisasi semangat pemuda atas cita-cita berdirinya Indonesia. Masih adakah pemuda Indonesia yang memiliki kesadaran nasionalisme dan jiwa patriotisme, yang melekat erat dan sudah bercampur dalam jiwa dan darah, layaknya pemuda bangsa Indonesia tempo dulu? Kami bersikeras menjawab “ ya! ada! “ meskipun fakta dilapangan menyatakan bahwa nasionalisme dan patriotisme perlahan luntur dari para pemuda Indonesia yang kini sedang anteng terbius oleh virus hedonisme akan perkembangan tekhnologi.

Masuknya culture negara lain, seringkali membuat pemuda lupa bahkan berpura-pura lupa dengan kebudayaan tanah kelahirannya. Bukti kecil namun konkretnya adalah ketika playlist musik di handphone kami berisikan lagu pop barat ketimbang lagu pop Indonesia. Lalu apa kabar dengan lagu nasional Indonesia? Apakah kami para pemuda hafal atau setidaknya mengenal lagu ini,

Bangun pemudi-pemuda Indonesia, lengan bajumu singsingkan untuk negara.
Masa yang akan datang kewajibanmu lah.
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa, menjadi tanggunganmu terhadap nusa.

Lagu yang ciptaan oleh A.Simanjuntak yang berjudul “Bangun Pemuda-Pemudi” ini sangat tepat dengan momentum sumpah pemuda, dilihat dari liriknya yang penuh dengan makna, merupakan wejangan yang diperuntukkan bagi kami pemuda-pemudi Indonesia. Lirik akhir yang diulang dua kali seolah-olah peringatan keras kepada kami, menekankan kami bahwa kami adalah generasi penerus. Karena setelah generasi tua akan pergi, dan pada saat itulah kami menggantikannya.

 Lalu mau dibawa kemana negara ini jika generasi muda tidak memiliki kesiapan? Adakah rasa tanggung jawab atau rasa beban karena kami akan menanggung tanggungan yang sangat luar biasa itu? justru hal yang paling utama adalah kami harus merasa sadar akan kewajiban kami dengan negara ini. Tanpa kesadaran akan tanggungan itu, kami tidak akan berfikir untuk berbuat sesuatu. Maka, berhenti untuk mengkritisi dan mencaci akan kepemimpinan negara ini dengan cara yang tidak memberikan solusi apapun. Mulailah kami untuk membenahi karakter agar dimasa depan kami siap dan tangguh.

Jadikan momentum sumpah pemuda ini sebagai cambukan keras, yang bukan diperingati hanya sekedar meng-update “Selamat Hari Sumpah Pemuda blablabla” di berbagai media sosial, tanpa menciptakan kesadaran dan melakukan perubahan. Mulai bahkan teruskanlah untuk menanam karakter yang baik, menghargai keberagaman, integritas dan sosial. Sejarah, kami memang belum mencerna betul akan nilai sejarah, akan nilai pancasila yang cenderung kami abaikan.


 Maka, kini kami harus mengobati diri sendiri dengan memahami dan menjiwai pentingnya nilai tersebut yang akan menopang kami kelak. Menginternalisasikan ikrar dalam sumpah pemuda. Dengan pancasila kami akan sembuh dan bangkit dari penyakit hedonisme yang merajalela. Dengan kesadaran akan keberadaan sang saka merah putih, kami harus bersatu dan berhenti berpecah-belah karena berjuang dalam suatu kelompok saja dan mengabaikan persatuan. Karena apa wahai pemuda Indonesia? Karena kami masih dan tetap menjadi pemuda Indonesia yang akan mengubah wajah negara ini dengan tangan kami sendiri. 

Aida Nur Hidayah 
Ilmu Komunikasi UPI 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar