Sabtu, 07 September 2013

Jarak Kampus yang Jauh adalah Kendala?

Mungkin tidak hanya saya yang mengalami dilema seperti ini, sebagai mahasiswa baru yang baru saja hijrah dari dunia SMA dan mendapati kenyataan bahwa letak kampus terletak tidak terlalu jauh dan tidak pula terlalu dekat dari rumah. Hal ini sangat membingungkan bagi saya, mengapa harus bingung? seyogianya tekad saya sangat kuat untuk PP (pulang-pergi) saja dari kampus karena orang tua sudah memfasilitasi sepeda motor sebagai alat transportasi. Tapi hati kecil terbersit rasa takut dan letih jikalau setiap hari harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda motor. Waktu yang diperuntukan untuk pergi dan pulang saya hitung sekitar 1 jam, itupun jika jalanan tidak macet dan jika macet, perjalanan akan lebih panjang menjadi 2 jam. Belum lagi risiko kriminal atau kecelakaan di jalanan yang akhir-akhir ini makin marak saja semakin membuat saya resah dan bertanya apakah saya sanggup menjalani ini selama 4 tahun lamanya?
Saya sempat berambisi untuk meminta disewakan kost di daerah yang sangat dekat dengan kampus sehingga saya tidak perlu lagi bersusah payah untuk menuju kampus, namun nurani saya tidak tega untuk meminta lagi lagi dan lagi uang kepada orang tua. Saya berfikir sudah berapa rupiah yang mereka perjuangkan untuk saya, saya tidak ingin lagi membebani mereka dengan biaya sewa kostsan. Dilema saya ini secara perlahan terkubur oleh formulasi semangat juang yang timbul pada kuliah pertama saya. Ternyata apa yang dibayangkan tidak serumit apa yang dijalankan. Mengendarai motor sekitar 30 kilometer saya lakukan dengan lancar. Saya percaya bahwa tidak akan terjadi apa-apa apabila kita selalu berdo’a meminta perlindungan-Nya dan selalu sopan dalam lalu lintas dalam arti tidak melanggar aturan tata cara atau perlengkapan berkendara. Untuk apa orang-orang begitu sangat hebat menciptakan korelasi peraturan lalu lintas dari mulai menciptaan lampu merah, petunjuk jalan, rambu-rambu, garis dan sebagainya? adalah untuk keselamatan jiwa kita sendiri maka tidak ada alasan dan pilihan lagi untuk melanggar.
Saya ingin berasumsi untuk para mahasiswa yang senasib dengan saya, kita tidak perlu merasa goyah lagi dan mengeluh mengenai jarak yang jauh. Selalu pertanyakan untuk apa kita melakukan perjalanan yang jauh ini?. Justru perjalanan yang panjang ini menjadi motivasi yang sangat kuat untuk kita, bahwasannya apakah kita masih sempat dan sudi untuk menyia-nyiakan jarak yang jauh ini? tidak akan pernah ada celah untuk membuang itu secara cuma-cuma. Keringat ini akan membakar habis semua rasa malas dan dibayar oleh sebuah ilmu dan sosialisasi yang terurai dari para dosen, organisasi dan dunia kampus. Menuju gerbang kampus atas perjuangan yang panjang, menerjang angin dingin dan panas, menjemput asap knalpot bus, merayap dalam kemacetan adalah kepuasan dan kebanggaan yang akan tertoreh setiap harinya. Maka sebelum kita pulang kembali ke rumah, sewajibnya kita sudah membawa dan mendapatkan sesuatu yang berharga untuk mencharger semangat kita esok dan esoknya lagi. Percayalah usaha kita hanya setitik dari usaha orang tua kita, merekalah sebaik-baiknya sebuah perjuangan yang hakiki. Lakukanlah dengan tujuan yang mengakar pada semua hal. Semua ini akan terasa cepat dan menuju puncak pohon kesuksesan yang telah kita tanam sebelumnya. Yakinkan jarak yang jauh akan tereduksi oleh bayangan masa depan gemilang. Hidup Mahasiswa!

( dimuat di mimbar akademik koran Pikiran Rakyat, edisi Kamis, 3 Oktober 2013 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar