Minggu, 26 Januari 2014

Cerpen 'Luka Jangka Pendek'

Sepenuhnya cerpen ini FIKSI okey, mengandalkan imajinasi jauh dari unsur SARA xixi  :) selamat membaca :)


Bantal bergambar beruang itu terhempas seketika dan jatuh dengan bebasnya, menyentuh lantai kamar yang bernuansa soft colour dengan perpaduan warna merah marun dan abu-abu. Jemari yang bekerja keras mengetik sebuah pesan di handphone pun akhirnya menyerah, jemari itu lebih memilih untuk menyeka air mata meskipun pada akhirnya mengalir tak tertahan. Itu Nina yang perlahan terisak, hanya ruang kamarnya yang mengetahui mengapa Nina menangis di setiap malam selama satu Minggu ini. Nina meraih bantalnya kembali dan menenggelamkan wajahnya, berharap ia bisa melupakan Yoga meskipun hanya satu detik bahkan setengahnya.
Nina memang tidak pernah sekalipun berimajinasi bahwa ia akan bertemu Yoga di satu kampus dengan jurusan yang sama bahkan satu kelas. Nina juga tidak pernah bermimpi untuk menjalin hubungan spesial dengan waktu pendekatan yang singkat. Yoga berbeda, lelaki berperawakan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek itu membuat kisah baru untuk Nina. Dalam waktu satu minggu saja Yoga bisa membuat Nina yakin, betapa Yoga mencintai Nina. Nina dibuat percaya sepenuhnya untuk setiap kata yang Yoga sampaikan, bahwa Yoga sudah lama melupakan mantan kekasihnya, bahwa Yoga sangat nyaman dan sayang terhadap Nina, bahwa Yoga tidak akan pernah main-main dalam urusan cinta. Nina sangat percaya melebihi kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Alur kisah-kasih itu melaju indah, mereka merangkai cerita baru yang seharusnya sulit terjadi. Menjadi sepasang kekasih yang mengaku bahagia kepada dunia sekitarnya. Bahkan Nina merasakan madu kalah manis dengan wajah Yoga, mata elang kalah tajam dari mata Yoga, Yoga dan hanya Yoga. Nina akui ia memuja pria tampan itu. Apapun Nina lakukan asal mereka bisa tetap bersama, Yoga adalah charger semangatnya untuk kuliah. Hal yang paling dinantikan di pagi hari bukan uraian materi dari dosen, ataupun suara lainnya dari berbagai sumber tapi tatapan Yoga di kelas yang sudah terlebih dahulu sampai, hanya itu saja yang Nina mau. Betapa Yoga, lelaki yang memiliki senyum melangit itu telah mendarah daging dalam jiwa Nina. Nina mencintai Yoga lebih dari cinta seorang induk binatang manapun terhadap anaknya.
Namun, cerita itu harus menjadi cerita pendek. Tiba-tiba saja Nina mendapatkan sebuah prolog dari hubungan manisnya itu. Prolog yang satu paragraf pun tidak, hanya satu kalimat namun dapat membuat jantung Nina melemah beberapa detik,
Semuanya udah hambar, dulu aku memang sayang sama kamu.
pesan singkat yang dikirimkan Yoga setelah mereka bertengkar hebat. Karena Nina sudah kehilangan kesabaran saat ia mendapati dirinya terabaikan secara perlahan oleh Yoga. Setelah Nina tahu sebuah fakta bahwa Yoga diam-diam mencari tahu kabar akan mantan kekasihnya, Nina sadar bahwa Yoga masih mengingat mantannya.
Sesunggguhnya bukan pesan itu yang Nina harapkan, ia berjuta kali membaca kalimat itu berharap minus matanya bertambah sehingga salah membaca. Namun kalimat itu tidak pernah berubah. Apalagi yang bisa Nina lakukan selain menangis, ia tidak pernah bisa membaca pikiran Yoga dengan baik, radar kepercayaannya sudah tumpah sepenuhnya pada lelaki itu. Perkiraannya salah besar, Yoga tidak pernah menerima Nina di hatinya meskipun berapa kali Yoga mengatakan sayang dan cinta dari mulutnya langsung kepadanya. Satu kalimat itu menjelma menjadi pisau tumpul yang menyayat hatinya perlahan tapi pasti sampai sekarang. Menjadi tumbal atau pelampiasan atau permainan cinta Yoga selama hampir 2 bulan itu cukup menoreh luka jangka panjang.
“Udahlah Na, udah hampir seminggu lo putus sama dia,” ujar Dini selagi menemani Nina di sebuah kantin dekat kampus.
“Dan udah seminggu juga gue nangis, kalau gue putri duyung Paris bisa gue beli sama air mata gue yang bisa jadi permata,” Nina menimpali sembari meringgis.
“Lo manusia kan? bukan keledai yang bodoh, ngapain lo tangisin cowok yang udah sia-siain lo, yang udah ngejatuhin lo sampai segininya, meskipun setiap detik lo inget dia dan lo tangisin dia tapi tetep yang ada di hati dan pikirannya itu cuma mantan terindah dia dan itu bukan lo sama sekali.”
“Iyeee gue juga tau, dia cuma acting selama ini pacaran sama gue. Gue cuma jadi bahan percobaan dia buat usaha dia ngelupain mantannya. Gue tau betapa keras dia berusaha lupain mantannya, sampai harus pura-pura mencintai gue. Ternyata percobaannya gagal, dia nggak pernah melupakan mantannya. Sayangnya gue nggak nganggep semua ini percobaan, gue malah nanggepin dengan serius dan tulus. Jadilah gue sesakit ini Din.” Nina menghela nafas dan kembali menyeruput minumannya yang sejak tadi hanya diaduk-aduk saja.
“Yaudahlah ya, gue ngerti kok apa yang lo rasain. Selama ini gue kenal banget sama lo, lo gapernah cinta sama cowok secara serius meskipun mantan lo banyak. Mungkin sekarang lo bisa ngerasain cinta itu, tapi sayangnya lo ngasih cinta sama orang yang salah. Cinta masih ada, nggak akan habis kemakan mantan lo, bangkit yu! Lupain dari sekarang. Meskipun kalian sekelas, lo pasti bisa lupa.”
“Gue mungkin bisa lupa, tapi gue nggak tau gimana caranya melupakan. Gue juga nggak tau kenapa harus dia orang yang bisa ngebuat hati gue seluluh ini. Dua bulan ini kenangannya udah numpuk. Gue kurang apasih? Apa gue kalah cantik dari mantannya ya Din? Terus kenapa dia nggak ngomong baik-baik aja sama gue sih. Kenapa cuma dari sms aja dia mutusin gue. ” Nina lalu mencari ponselnya di dalam tas.
“Mau ngapain lo?” tanya Dini.
“Gue mau nelepon dia, mau bikin janji. Gue harus ngomong sama dia kalau gue nggak bisa kaya gini.” Nina masih mencari dan akhirnya mendapatkan ponselnya.
“Jangan!! Siniin HP lo! Harga diri lo mau dikemanain sih? lo liat tweet-tweet dia di twitter, jelas-jelas dia muja mantannya dan sama sekali nggak peduli sama lo. Liat dong, betapa lo cuma dianggap boneka, dimainin terus dibuang seenaknya. Tau diri dong lo Nina sayang. Masa iya lo masih mau sama dia yang udah jelas menganggap lo bukan siapa-siapa lagi. Tragis. “ Dini terlihat kesal.
Nina membenarkan apa yang dikatakan Dini, dan alhasil Nina menyadari bahwa ia bodoh. Nina pun pamit kepada Dini, ia hanya ingin menyendiri di taman dekat gedung kampusnya. Nina mendapati kursi kosong dekat kolam, cukup nyaman dan sepi. Ia mulai menyalakan lagu dan mendengarkan melalui headset. Lagu lumpuhkanlah ingatanku dari Geisha ia nyalakan berulang-ulang, dan dia mulai bergumam pelan.
“ Yoga.. Yoga, andai aja lo bisa bertahan untuk 1 hari lagi, gue bisa membuat semua kenangan yang selama ini lo mau, lebih banyak dari kenangan lo sama mantan lo. Andai lo bisa pahami gue satu menit lagi,  gue bisa buat lo ngerti. Andai aja lo mau mencoba satu kali lagi, gue bisa membuat lo melupakan segala yang lo bilang nggak bisa. Andai lo mau melihat gue untuk satu tatapan lagi, gue bisa buat lo nggak memikirkan masa lalu itu.” Air mata Nina jatuh untuk kesekian kalinya.
“Andai lo mau bersabar sebentar lagi menghadapi gue, gue yakin cinta kita nggak lekang sama bayangan mantan lo. Andai lo sedetik lagi memeluk gue, gue bisa tau lo nggak akan ngelepas gue. Sayangnya, lo terlalu terburu-buru, terlalu cepat lo mengenang dia kembali, sampai lo lupa segalanya.” Nina semakin terisak dalam sepi.
“Segalanya tentang kita, belum sempet gue ngasih senyuman termanis, lo udah menganggapnya lebih manis. Belum sempet gue buat lo merasakan jauh lebih dalam, lo udah ninggalin gue aja. Belum sempet gue teriak sampai ke hati lo bahwa gue cinta sama lo, lo udah kembali mencintai yang menurut lo lebih indah. Sedetik aja bahkan setengahnya, pun nggak akan ada lagi. Karena lo cuma bohongin hati lo aja buat cinta sama gue ya.” Pipi Nina sudah lembab karena air matanya. Nina terisak.
Sedetik kemudian Nina terkejut ketika ada cahaya yang menyorot mukanya, sebentar dan hilang, ada lagi lalu hilang. Ia menoleh kesamping dan Nina kaget setengah mati ketika mendapati seorang laki-laki berambut gondrong sedang asik memotret dirinya dari dekat. Nina menghapus air matanya.
“Eh lo ngapain? Sejak kapan lo ada disini hah?” kesal Nina, laki-laki itupun menurunkan kameranya dan berhenti memotret,
“Gue lagi hunting gambar, gasengaja gue liat ada cewe lagi asik baca puisi sampe nangis. Gue foto deh. Udah gitu aja.” Dia senyum dan sederet gigi rapih dan bersih pun terlihat jelas membuat Nina geli.
“Lo jurusan mana?” jawab Nina ketus.
“Seni rupa” singkat laki-laki itu sambil melihat hasil gambarnya.
“Oh.” Nina beranjak pergi, dan berkata,
“Berhubung gue lagi baik, gue ijinin lo potret gue tadi. Oiya satu lagi gue bukan lagi baca puisi.” Dan laki-laki itu tidak menggubris Nina, ia terlalu asik melihat jepretannya.
Nina berjalan menjauhi taman, ia tidak habis pikir mengapa ia sampai tidak menyadari ada laki-laki itu disampingnya, entahlah apakah laki-laki itu mendengar semua apa yang diucapkan Nina. Nina tidak peduli. Terlalu tidak peduli bukan karena malu, tapi karena Yoga saja yang bisa membuatnya peduli sekarang.
Hari terus berganti, tiap hari Nina hanya bisa tersenyum mendapat Yoga telah duduk di kursinya. Meskipun tidak ada lagi senyum Yoga untuknya, ia sudah terlalu lelah membenci laki-laki itu. Nina selalu duduk di belakang, memandang mantan kekasihnya dari belakang setiap hari. Yoga tidak pernah menjelaskan apa-apa lagi, mungkin menurutnya memang semua telah selesai dan jelas. Sederhana sekali. Entah sampai kapan Nina harus begini, mata kuliah tidak bisa ia serap dengan sempurna kalau ia hanya konsentrasi memandang Yoga. Melupakannya, butuh kerja keras.
 Nina mengutuk dirinya sendiri karena kebodohannya yang paten, yang masih saja mengharapkan Yoga. Move on, hanya dua kata itu yang ia pikirkan sekarang sambil melamun di loby gedung kampusnya. Ia harus move on, dan menunjukkan pada Yoga bahwa ia masih bisa bahagia. Masih bisa mencintai laki-laki lain. Tapi bagaimana caranya jika ia masih menganggap Yoga paling indah. Tiba-tiba sebuah cahaya menimpa wajanya, Nina menoleh cepat darimana cahaya itu berasal. Tapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana. Mungkin sekedar halusinasi.
Hari menjelang sore, Nina menutup laptopnya dan bergegas ke parkiran kampus. Memang setiap hari ia mengendarai motor karena jarak antara rumah dan kampus tidak terlalu jauh. Lama ia mencari motornya, tiba-tiba ia mendapati seorang anak kecil di lahan kosong dekat parkiran, ia sangat penasaran dengan layangan yang sedang asyik dimainkan anak tersebut. Lalu Nina menghampiri,
“Dek, ko bisa nerbangin layangan setinggi itu?” tanya Nina.
“Bisa soalnya anginnya lagi kenceng hehe” anak kecil itu tidak sungkan menjawab pertanyaan Nina.
“Oh iya yah, kenapa sendirian mainnya? Sini kakak temenin yah.” Nina tersenyum ketika mendapati anak itu tersenyum mengiyakan pertanyaannya.
“Nih kak, kakak coba aja sendiri. Seru pasti!” anak itu menyodorkan benang layangan kepada Nina.
Nina meraihnya dan melihat layangan yang jauh di atas sana, ia menggerakan benangnya agar layangannya tetap di atas. Angin memang cukup kencang pada sore hari itu, langit teduh dan awan berbentuk indah. Tanpa disadari Nina tersenyum membayangkan sesuatu, ucap batinnya,
Gue pengen seperti layangan di atas. Terbang bebas memecah langit,  bahagia, meskipun dia sendirian. Kesendirian itu tidak masalah, masih ada alam yang ngebuat dia bahagia. Meskipun benang ini bisa putus, layangan itu akan senantiasa terbang bebas menjauhi benang putus tadi, layangan itu tidak akan terbang kembali mendekati bahkan mengejar-ngejar benangnya. Gue mau kaya gitu, gue terlalu menjadi layangan yang tidak berfungsi, menyia-nyiakan kebebasan yang gue punya. Mulai sekarang gue harus  jadi layang-layang yang gue pegang ini.. terbang menjauhi benangnya..
Sekilat cahaya mengenai wajah Nina, Nina tersadar akan lamunannya dan mencari sumber cahaya tapi tak ada hasil.
“De tadi ada cahaya ya? kaya flash dari kamera, darimana ya?” tanya Nina. Anak kecil itu hanya tersenyum manis menggelengkan kepalanya sambil memegang coklat, Nina terheran-heran sendiri sejak kapan anak kecil itu punya coklat. Mungkin ia menaruh coklatnya disaku dan Nina terlalu asik melamun sehingga ia berhalusinasi lagi soal cahaya. Hari semakin sore, Nina pamit pulang dan sebelum pulang Nina memberikan permen dari tasnya untuk anak kecil tadi sebagai tanda terimakasih. Terimakasih untuk pinjaman layangan yang membuat Nina sadar sekarang. Sadar akan kesempatan move on ada di depan mata. Dan membuat luka ini menjadi jangka pendek.
“Mulai besok gue harus nemu calon pacar gue!” ucap Nina bergumam.
Esok hari tiba, Nina sangat bersemangat untuk kuliah. Ia mengenakan rok merah marun dan kemeja putih dengan rambut tergerai panjang. Ia tersenyum kepada cermin,
“Gue cantik kan? gue bisa!”
Sesampainya di kampus, Nina menaiki lift untuk masuk ke ruang kelasnya. Ruang 31. Dan beberapa langkah sebelum masuk kelas, ia mendengar suara Yoga dan mendengar suara Dini. Nampaknya kelas sepi, dan hanya ada mereka berdua. Nina memilih untuk tidak masuk dan menunggu di luar sampai Dini keluar kelasnya. Karena memang Dini tidak satu kelas dengannya. Sesaat Nina mendengar suara Yoga yang cukup jelas,
“Emang disini gue yang salah sama Nina, nggak tau kenapa. Dulu-dulu emang gue sering ngedeketin cewek dan pasti mentok di PDKT. Gue tinggalin cewenya dan akhirnya gue disebut dengan pemberi harapan palsu, nah sama Nina gue nggak tau kenapa bisa kebablasan jadian. Mungkin gue emang sayang dulu, gue sayang tapi gue nggak suka sama sikapnya, gimana ya ahhh susah deh. Sekarang gue cuma bisa berdo’a supaya mantan gue putus sama pacarnya, kalaupun itu nggak terjadi gue bakal terus cari yang lebih dari dia.” Yoga terdiam.
Nina terdiam, lemas. Menggeleng-gelengkan kepala untuk menolak air matanya yang semakin memaksa keluar. Dalam batin Nina,
Kebablasan... cari yang lebih baik dari dia... Yo lo jahat banget sumpah.
Hampir saja air mata itu keluar, sedetik kemudian seseorang datang dengan cepat dan menarik tangan Nina yang sudah dingin entah karena apa. Nina kaget, ia melihat laki-laki berambut gondrong itu masih menariknya.
“Eh ngapain?” Nina kaget.
“Ikut gue aja sekarang ke taman.” Laki-laki itu masih memegang tangan Nina dan menarik paksa agar Nina mau.  Nina tidak menolak, ia terlalu kaget untuk menolak.
Sesampainya di taman dekat kolam,
“Lo cowok yang motret gue waktu itu kan? anak seni rupa itu kan? dan lo tau? Akhir-akhir ini gue sering ngerasa ada yang motret gue, jangan-jangan lo ya? terus kenapa bisa lo tau kelas gue hah?” serbu Nina.
“Iya bener, lo tau? Udah 2 hari gue ngikutin lo di kampus ini. Maaf kalo gue nggak ijin sebelumnya, tapi gue lagi ngerjain tugas gue buat ngelukis ekspresi manusia. Gue sebelumnya bingung siapa yang gue mau jadiin objek, tapi setelah gue liat lo kemarin-kemarin. Objek gue ketemu.” Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Nggak sopan deh! Jadi lo yang motret gue diem-diem itu hah? gue juga ngerasa ada yang motret di loby sama parkiran, tapi gue nggak peduli. Ngapain lo ngikutin gue segala? Orang aneh!” ketus Nina.
“Ya gue pengen dapetin sesuatu yang natural aja, kalau gue ijin sama lo dan meminta lo nangis atau senyum pasti hasilnya beda ketimbang gue cari ekspresi lo yang dateng dari hati sendiri.” Laki-laki itu tersenyum manis. Nina baru sadar laki-laki itu bisa dibilang tampan. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, halisnya hampir menyatu, Nina yakin kalau laki-laki itu dipangkas rambutnya, ia pasti mirip Mario Maurer bintang Thailand itu.
“Hmm ya terus ngapain lo bawa gue kesini?”
Laki-laki itu menunjukkan beberapa kanvas, kanvas pertama adalah lukisan close up wajah yang sedang menangis dan ada air mata di pipinya. Nina terkesiap, lukisan itu seperti benar-benar jiplakan dirinya. Mirip sekali. Jantung Nina berdetak lebih cepat tanpa alasan. Kanvas kedua, masih close up dan kali ini dengan wajah yang tersenyum lebar sekali. Lagi-lagi wajah itu memang Nina. Dan kanvas ketiga adalah wajah Nina yang datar, yang tampak sedang melamunkan sesuatu.
“Waw, keren banget sumpah.” Nina masih ternganga.
“Makasih. Dan semua ini buat lo, tugas ini udah dinilai dan gue mau ngasih ke orang yang lebih berhak dari gue. Yaitu lo. Anggap aja ini royalti karena lo udah membantu gue dapetin nilai A.”
“Eh tapi kan ini lo yang lukis, tapi gue mau banget sih majang ini di kamar gue hehe” Nina masih asik melihat lukisannya.
“Iya nggak apa-apa ko, gue lebih milih simpen yang asli.”
“Maksudnya?” tanya Nina. Laki-laki itu mengeluarkan banyak sekali lembar foto mungkin jumlahnya puluhan.
“Hey itukan foto gue, ngapain lo simpen? Jangan bilang lo mau jual gue.” Nina heran.
“Hahah ya nggak lah, mana ada gue jual barang yang gue pengen.” Nada bicaranya datar sekali.
“Hahhh??? Barang?? Kurang asem ya lo!!” Nina menarik rambut gondrong laki-laki itu dan mendadak tertawa.
“Kenapa lo ketawa?” tanya laki-laki itu.
“Hahahaha rambut lo ko mirip sapu ijuk warna kuning mirip nyokap gue ya? hahahah” Nina masih tertawa puas. Laki-laki itu hanya memicingkan matanya.
“Iya deh maap, bercanda kali.”
“Nggak apa-apa kok, lanjutin gih ketawanya, 5 menit lagi aja.”
“Hah? buat apa? gue udah nggak pengen lagi ketawa.”
“Lo tau? Ketika gue ngelukis wajah lo. Gue lebih bernyawa saat ngelukis wajah lo yang tersenyum lebar. Lo bukan lahir untuk menangis. Saat lo nangis atau ngelamun, wajah lo tuh ya lebih mirip Omas hahaha nggak ini serius beneran, maksud gue lo cantik. Dan lo harus percaya sama seniman yang bilang lo cantik. Kecantikan lo itu disaat lo tersenyum, tapi sebenarnya lo nangis sama datar juga gue bisa bilang lo tetep cantik. Tapi, disaat lo cantik karena tersenyum lo bisa buat gue ngerasa jadi cowok ganteng sedunia. Disaat lo cantik karena nangis, lo bikin gue nggak PD untuk apa yang gue punya. Makanya coba liat, nilai A gue lebih karena lukisan senyum lo. Dan foto-foto yang gue punya lebih banyak yang lo lagi senyum waktu lo main layangan. Jadi nggak usah lo nangis lagi ya cantik. Ngerti?”
Nina tak bereaksi, ia tidak ingin laki-laki itu berhenti bicara. Percayalah, apa yang dikatakan laki-laki itu seperti obat bius yang menyembuhkan luka. Luka hati. Nina tenggelam karena suara laki-laki itu masih terngiang jelas,
Lo cantik.. barang yang gue pengen.. lo bukan lahir untuk menangis..
Akhirnya Nina sadar dan kembali ke dunia nyata ketika laki-laki itu memotret dirinya dan menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata.
“Ihh jail banget sih.” Ujar Nina. Laki-laki itu bersiap-siap untuk pergi,
“Nih satu foto buat lo, gue duluan ada kelas soalnya,” dan ia pun pergi menjauh.
Nina masih tidak bisa bergerak, ia tidak yakin bahwa kejadian tadi adalah kenyataan. Tapi ia sama sekali tidak sedang bermimpi. Ia memandang satu foto yang dipegangnya. Ternyata wajah Nina yang sedang tertawa lepas. Foto ini diambil saat ia sedang main layangan kemarin. Dibelakangnya terdapat kalimat,
Teruntuk kamu, Nina Amalia Desinta. Cewek yang lahir untuk tersenyum. Karena gue pengen ngerasa jadi orang ganteng setiap hari, jadi besok gue tunggu lagi disini, di tempat ini jam 4 sore. Karena lo pasti pengen tau nama gue siapa.
Nina tersenyum geli,
Bener juga, gue bahkan lupa nanyain nama dia selama ini. Ya ampun, dia tuh ya... penuh kejutan banget. Niat banget. Apa ini tanda? Tanda kalau gue memang harus move on. Dia jauh lebih baik dari Yoga, dia menghargai gue. Dia tulus. Dia ahhh kenapa jadi dia terus. Luka ini beneran jadi jangka pendek.
Nina menoleh ke arah sekitar memastikan tidak ada yang memotret secara diam-diam kali ini. Akhirnya Nina pulang, berharap ada mesin waktu yang langsung kepada waktu jam 4 sore. Hari ini sangat spesial, kesempatan untuk move on itu sangat nyata. Jatuh cinta memang tidak mengenal waktu apalagi alasan, jatuh cinta hanya perlu kesempatan dan ketulusan. Untuk apalagi sibuk memikirkan orang yang hanya bisa membuatmu menangis, sedangkan masih ada seseorang di luar sana yang bisa membuatmu tersenyum bahagia. Tinggal perlu mencari dan mengalihkan diri dari luka, dan akhirnya,
Bye Yoga, sekarang lo cuma temen sekelas gue.


Nama   : Aida Nur Hidayah
Alamat : Komplek Taman Kopo Indah I Blok. E 241, Rt 09 Rw 15, kecamatan margahayu, Kabupaten Bandung Jawa Barat.
No. Tlp  : 083820626846
FB       : Aida Nur Hidayah
Twitter : @aidanurhidayah1

Big thanks for reading guys, cerpen ini akan dibukukan oleh penerbit shield publisher dalam 'kumpulan cerpen' edisi 1 bersama 19 novel terbaik lainnya, order ya buat koleksi, sebulan lagi bukunya jadi :p do'akan biar bisa nerbitin buku yang full isinya karya gue, karena hidup itu transisi atau proses kan, tanpa readers gue cuma debu  :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar