Bantal
bergambar beruang itu terhempas seketika dan jatuh dengan bebasnya, menyentuh
lantai kamar yang bernuansa soft colour dengan perpaduan warna merah marun dan
abu-abu. Jemari yang bekerja keras mengetik sebuah pesan di handphone pun
akhirnya menyerah, jemari itu lebih memilih untuk menyeka air mata meskipun
pada akhirnya mengalir tak tertahan. Itu Nina yang perlahan terisak, hanya
ruang kamarnya yang mengetahui mengapa Nina menangis di setiap malam selama
satu Minggu ini. Nina meraih bantalnya kembali dan menenggelamkan wajahnya,
berharap ia bisa melupakan Yoga meskipun hanya satu detik bahkan setengahnya.
Nina
memang tidak pernah sekalipun berimajinasi bahwa ia akan bertemu Yoga di satu
kampus dengan jurusan yang sama bahkan satu kelas. Nina juga tidak pernah
bermimpi untuk menjalin hubungan spesial dengan waktu pendekatan yang singkat.
Yoga berbeda, lelaki berperawakan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek
itu membuat kisah baru untuk Nina. Dalam waktu satu minggu saja Yoga bisa
membuat Nina yakin, betapa Yoga mencintai Nina. Nina dibuat percaya sepenuhnya
untuk setiap kata yang Yoga sampaikan, bahwa Yoga sudah lama melupakan mantan
kekasihnya, bahwa Yoga sangat nyaman dan sayang terhadap Nina, bahwa Yoga tidak
akan pernah main-main dalam urusan cinta. Nina sangat percaya melebihi
kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Alur
kisah-kasih itu melaju indah, mereka merangkai cerita baru yang seharusnya
sulit terjadi. Menjadi sepasang kekasih yang mengaku bahagia kepada dunia
sekitarnya. Bahkan Nina merasakan madu kalah manis dengan wajah Yoga, mata
elang kalah tajam dari mata Yoga, Yoga dan hanya Yoga. Nina akui ia memuja pria
tampan itu. Apapun Nina lakukan asal mereka bisa tetap bersama, Yoga adalah
charger semangatnya untuk kuliah. Hal yang paling dinantikan di pagi hari bukan
uraian materi dari dosen, ataupun suara lainnya dari berbagai sumber tapi
tatapan Yoga di kelas yang sudah terlebih dahulu sampai, hanya itu saja yang
Nina mau. Betapa Yoga, lelaki yang memiliki senyum melangit itu telah mendarah
daging dalam jiwa Nina. Nina mencintai Yoga lebih dari cinta seorang induk
binatang manapun terhadap anaknya.
Namun,
cerita itu harus menjadi cerita pendek. Tiba-tiba saja Nina mendapatkan sebuah
prolog dari hubungan manisnya itu. Prolog yang satu paragraf pun tidak, hanya
satu kalimat namun dapat membuat jantung Nina melemah beberapa detik,
Semuanya
udah hambar, dulu aku memang sayang sama kamu.
pesan
singkat yang dikirimkan Yoga setelah mereka bertengkar hebat. Karena Nina sudah
kehilangan kesabaran saat ia mendapati dirinya terabaikan secara perlahan oleh
Yoga. Setelah Nina tahu sebuah fakta bahwa Yoga diam-diam mencari tahu kabar
akan mantan kekasihnya, Nina sadar bahwa Yoga masih mengingat mantannya.
Sesunggguhnya
bukan pesan itu yang Nina harapkan, ia berjuta kali membaca kalimat itu
berharap minus matanya bertambah sehingga salah membaca. Namun kalimat itu
tidak pernah berubah. Apalagi yang bisa Nina lakukan selain menangis, ia tidak
pernah bisa membaca pikiran Yoga dengan baik, radar kepercayaannya sudah tumpah
sepenuhnya pada lelaki itu. Perkiraannya salah besar, Yoga tidak pernah
menerima Nina di hatinya meskipun berapa kali Yoga mengatakan sayang dan cinta
dari mulutnya langsung kepadanya. Satu kalimat itu menjelma menjadi pisau
tumpul yang menyayat hatinya perlahan tapi pasti sampai sekarang. Menjadi
tumbal atau pelampiasan atau permainan cinta Yoga selama hampir 2 bulan itu
cukup menoreh luka jangka panjang.
“Udahlah
Na, udah hampir seminggu lo putus sama dia,” ujar Dini selagi menemani Nina di
sebuah kantin dekat kampus.
“Dan
udah seminggu juga gue nangis, kalau gue putri duyung Paris bisa gue beli sama
air mata gue yang bisa jadi permata,” Nina menimpali sembari meringgis.
“Lo
manusia kan? bukan keledai yang bodoh, ngapain lo tangisin cowok yang udah
sia-siain lo, yang udah ngejatuhin lo sampai segininya, meskipun setiap detik
lo inget dia dan lo tangisin dia tapi tetep yang ada di hati dan pikirannya itu
cuma mantan terindah dia dan itu bukan lo sama sekali.”
“Iyeee
gue juga tau, dia cuma acting selama ini pacaran sama gue. Gue cuma jadi bahan
percobaan dia buat usaha dia ngelupain mantannya. Gue tau betapa keras dia
berusaha lupain mantannya, sampai harus pura-pura mencintai gue. Ternyata
percobaannya gagal, dia nggak pernah melupakan mantannya. Sayangnya gue nggak
nganggep semua ini percobaan, gue malah nanggepin dengan serius dan tulus.
Jadilah gue sesakit ini Din.” Nina menghela nafas dan kembali menyeruput
minumannya yang sejak tadi hanya diaduk-aduk saja.
“Yaudahlah
ya, gue ngerti kok apa yang lo rasain. Selama ini gue kenal banget sama lo, lo
gapernah cinta sama cowok secara serius meskipun mantan lo banyak. Mungkin
sekarang lo bisa ngerasain cinta itu, tapi sayangnya lo ngasih cinta sama orang
yang salah. Cinta masih ada, nggak akan habis kemakan mantan lo, bangkit yu!
Lupain dari sekarang. Meskipun kalian sekelas, lo pasti bisa lupa.”
“Gue
mungkin bisa lupa, tapi gue nggak tau gimana caranya melupakan. Gue juga nggak
tau kenapa harus dia orang yang bisa ngebuat hati gue seluluh ini. Dua bulan
ini kenangannya udah numpuk. Gue kurang apasih? Apa gue kalah cantik dari
mantannya ya Din? Terus kenapa dia nggak ngomong baik-baik aja sama gue sih.
Kenapa cuma dari sms aja dia mutusin gue. ” Nina lalu mencari ponselnya di
dalam tas.
“Mau
ngapain lo?” tanya Dini.
“Gue
mau nelepon dia, mau bikin janji. Gue harus ngomong sama dia kalau gue nggak
bisa kaya gini.” Nina masih mencari dan akhirnya mendapatkan ponselnya.
“Jangan!!
Siniin HP lo! Harga diri lo mau dikemanain sih? lo liat tweet-tweet dia di
twitter, jelas-jelas dia muja mantannya dan sama sekali nggak peduli sama lo.
Liat dong, betapa lo cuma dianggap boneka, dimainin terus dibuang seenaknya.
Tau diri dong lo Nina sayang. Masa iya lo masih mau sama dia yang udah jelas
menganggap lo bukan siapa-siapa lagi. Tragis. “ Dini terlihat kesal.
Nina
membenarkan apa yang dikatakan Dini, dan alhasil Nina menyadari bahwa ia bodoh.
Nina pun pamit kepada Dini, ia hanya ingin menyendiri di taman dekat gedung
kampusnya. Nina mendapati kursi kosong dekat kolam, cukup nyaman dan sepi. Ia
mulai menyalakan lagu dan mendengarkan melalui headset. Lagu lumpuhkanlah
ingatanku dari Geisha ia nyalakan berulang-ulang, dan dia mulai bergumam pelan.
“
Yoga.. Yoga, andai aja lo bisa bertahan untuk 1 hari lagi, gue bisa membuat
semua kenangan yang selama ini lo mau, lebih banyak dari kenangan lo sama
mantan lo. Andai lo bisa pahami gue satu menit lagi, gue bisa buat lo ngerti. Andai aja lo mau
mencoba satu kali lagi, gue bisa membuat lo melupakan segala yang lo bilang
nggak bisa. Andai lo mau melihat gue untuk satu tatapan lagi, gue bisa buat lo
nggak memikirkan masa lalu itu.” Air mata Nina jatuh untuk kesekian kalinya.
“Andai
lo mau bersabar sebentar lagi menghadapi gue, gue yakin cinta kita nggak lekang
sama bayangan mantan lo. Andai lo sedetik lagi memeluk gue, gue bisa tau lo
nggak akan ngelepas gue. Sayangnya, lo terlalu terburu-buru, terlalu cepat lo
mengenang dia kembali, sampai lo lupa segalanya.” Nina semakin terisak dalam
sepi.
“Segalanya
tentang kita, belum sempet gue ngasih senyuman termanis, lo udah menganggapnya
lebih manis. Belum sempet gue buat lo merasakan jauh lebih dalam, lo udah
ninggalin gue aja. Belum sempet gue teriak sampai ke hati lo bahwa gue cinta
sama lo, lo udah kembali mencintai yang menurut lo lebih indah. Sedetik aja
bahkan setengahnya, pun nggak akan ada lagi. Karena lo cuma bohongin hati lo
aja buat cinta sama gue ya.” Pipi Nina sudah lembab karena air matanya. Nina
terisak.
Sedetik
kemudian Nina terkejut ketika ada cahaya yang menyorot mukanya, sebentar dan
hilang, ada lagi lalu hilang. Ia menoleh kesamping dan Nina kaget setengah mati
ketika mendapati seorang laki-laki berambut gondrong sedang asik memotret
dirinya dari dekat. Nina menghapus air matanya.
“Eh
lo ngapain? Sejak kapan lo ada disini hah?” kesal Nina, laki-laki itupun
menurunkan kameranya dan berhenti memotret,
“Gue
lagi hunting gambar, gasengaja gue liat ada cewe lagi asik baca puisi sampe
nangis. Gue foto deh. Udah gitu aja.” Dia senyum dan sederet gigi rapih dan
bersih pun terlihat jelas membuat Nina geli.
“Lo
jurusan mana?” jawab Nina ketus.
“Seni
rupa” singkat laki-laki itu sambil melihat hasil gambarnya.
“Oh.”
Nina beranjak pergi, dan berkata,
“Berhubung
gue lagi baik, gue ijinin lo potret gue tadi. Oiya satu lagi gue bukan lagi
baca puisi.” Dan laki-laki itu tidak menggubris Nina, ia terlalu asik melihat
jepretannya.
Nina
berjalan menjauhi taman, ia tidak habis pikir mengapa ia sampai tidak menyadari
ada laki-laki itu disampingnya, entahlah apakah laki-laki itu mendengar semua
apa yang diucapkan Nina. Nina tidak peduli. Terlalu tidak peduli bukan karena
malu, tapi karena Yoga saja yang bisa membuatnya peduli sekarang.
Hari
terus berganti, tiap hari Nina hanya bisa tersenyum mendapat Yoga telah duduk
di kursinya. Meskipun tidak ada lagi senyum Yoga untuknya, ia sudah terlalu
lelah membenci laki-laki itu. Nina selalu duduk di belakang, memandang mantan
kekasihnya dari belakang setiap hari. Yoga tidak pernah menjelaskan apa-apa
lagi, mungkin menurutnya memang semua telah selesai dan jelas. Sederhana
sekali. Entah sampai kapan Nina harus begini, mata kuliah tidak bisa ia serap
dengan sempurna kalau ia hanya konsentrasi memandang Yoga. Melupakannya, butuh
kerja keras.
Nina mengutuk dirinya sendiri karena
kebodohannya yang paten, yang masih saja mengharapkan Yoga. Move on, hanya dua
kata itu yang ia pikirkan sekarang sambil melamun di loby gedung kampusnya. Ia
harus move on, dan menunjukkan pada Yoga bahwa ia masih bisa bahagia. Masih
bisa mencintai laki-laki lain. Tapi bagaimana caranya jika ia masih menganggap
Yoga paling indah. Tiba-tiba sebuah cahaya menimpa wajanya, Nina menoleh cepat
darimana cahaya itu berasal. Tapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana.
Mungkin sekedar halusinasi.
Hari
menjelang sore, Nina menutup laptopnya dan bergegas ke parkiran kampus. Memang
setiap hari ia mengendarai motor karena jarak antara rumah dan kampus tidak
terlalu jauh. Lama ia mencari motornya, tiba-tiba ia mendapati seorang anak
kecil di lahan kosong dekat parkiran, ia sangat penasaran dengan layangan yang
sedang asyik dimainkan anak tersebut. Lalu Nina menghampiri,
“Dek,
ko bisa nerbangin layangan setinggi itu?” tanya Nina.
“Bisa
soalnya anginnya lagi kenceng hehe” anak kecil itu tidak sungkan menjawab
pertanyaan Nina.
“Oh
iya yah, kenapa sendirian mainnya? Sini kakak temenin yah.” Nina tersenyum
ketika mendapati anak itu tersenyum mengiyakan pertanyaannya.
“Nih
kak, kakak coba aja sendiri. Seru pasti!” anak itu menyodorkan benang layangan
kepada Nina.
Nina
meraihnya dan melihat layangan yang jauh di atas sana, ia menggerakan benangnya
agar layangannya tetap di atas. Angin memang cukup kencang pada sore hari itu,
langit teduh dan awan berbentuk indah. Tanpa disadari Nina tersenyum
membayangkan sesuatu, ucap batinnya,
Gue pengen seperti
layangan di atas. Terbang bebas memecah langit,
bahagia, meskipun dia sendirian. Kesendirian itu tidak masalah, masih
ada alam yang ngebuat dia bahagia. Meskipun benang ini bisa putus, layangan itu
akan senantiasa terbang bebas menjauhi benang putus tadi, layangan itu tidak
akan terbang kembali mendekati bahkan mengejar-ngejar benangnya. Gue mau kaya
gitu, gue terlalu menjadi layangan yang tidak berfungsi, menyia-nyiakan
kebebasan yang gue punya. Mulai sekarang gue harus jadi layang-layang yang gue pegang ini..
terbang menjauhi benangnya..
Sekilat
cahaya mengenai wajah Nina, Nina tersadar akan lamunannya dan mencari sumber
cahaya tapi tak ada hasil.
“De
tadi ada cahaya ya? kaya flash dari kamera, darimana ya?” tanya Nina. Anak
kecil itu hanya tersenyum manis menggelengkan kepalanya sambil memegang coklat,
Nina terheran-heran sendiri sejak kapan anak kecil itu punya coklat. Mungkin ia
menaruh coklatnya disaku dan Nina terlalu asik melamun sehingga ia
berhalusinasi lagi soal cahaya. Hari semakin sore, Nina pamit pulang dan
sebelum pulang Nina memberikan permen dari tasnya untuk anak kecil tadi sebagai
tanda terimakasih. Terimakasih untuk pinjaman layangan yang membuat Nina sadar
sekarang. Sadar akan kesempatan move on ada di depan mata. Dan membuat luka ini
menjadi jangka pendek.
“Mulai
besok gue harus nemu calon pacar gue!” ucap Nina bergumam.
Esok
hari tiba, Nina sangat bersemangat untuk kuliah. Ia mengenakan rok merah marun
dan kemeja putih dengan rambut tergerai panjang. Ia tersenyum kepada cermin,
“Gue
cantik kan? gue bisa!”
Sesampainya
di kampus, Nina menaiki lift untuk masuk ke ruang kelasnya. Ruang 31. Dan
beberapa langkah sebelum masuk kelas, ia mendengar suara Yoga dan mendengar
suara Dini. Nampaknya kelas sepi, dan hanya ada mereka berdua. Nina memilih
untuk tidak masuk dan menunggu di luar sampai Dini keluar kelasnya. Karena memang
Dini tidak satu kelas dengannya. Sesaat Nina mendengar suara Yoga yang cukup
jelas,
“Emang
disini gue yang salah sama Nina, nggak tau kenapa. Dulu-dulu emang gue sering
ngedeketin cewek dan pasti mentok di PDKT. Gue tinggalin cewenya dan akhirnya
gue disebut dengan pemberi harapan palsu, nah sama Nina gue nggak tau kenapa
bisa kebablasan jadian. Mungkin gue emang sayang dulu, gue sayang tapi gue
nggak suka sama sikapnya, gimana ya ahhh susah deh. Sekarang gue cuma bisa
berdo’a supaya mantan gue putus sama pacarnya, kalaupun itu nggak terjadi gue
bakal terus cari yang lebih dari dia.” Yoga terdiam.
Nina
terdiam, lemas. Menggeleng-gelengkan kepala untuk menolak air matanya yang
semakin memaksa keluar. Dalam batin Nina,
Kebablasan... cari yang
lebih baik dari dia... Yo lo jahat banget sumpah.
Hampir
saja air mata itu keluar, sedetik kemudian seseorang datang dengan cepat dan
menarik tangan Nina yang sudah dingin entah karena apa. Nina kaget, ia melihat
laki-laki berambut gondrong itu masih menariknya.
“Eh
ngapain?” Nina kaget.
“Ikut
gue aja sekarang ke taman.” Laki-laki itu masih memegang tangan Nina dan
menarik paksa agar Nina mau. Nina tidak
menolak, ia terlalu kaget untuk menolak.
Sesampainya
di taman dekat kolam,
“Lo
cowok yang motret gue waktu itu kan? anak seni rupa itu kan? dan lo tau?
Akhir-akhir ini gue sering ngerasa ada yang motret gue, jangan-jangan lo ya?
terus kenapa bisa lo tau kelas gue hah?” serbu Nina.
“Iya
bener, lo tau? Udah 2 hari gue ngikutin lo di kampus ini. Maaf kalo gue nggak
ijin sebelumnya, tapi gue lagi ngerjain tugas gue buat ngelukis ekspresi
manusia. Gue sebelumnya bingung siapa yang gue mau jadiin objek, tapi setelah
gue liat lo kemarin-kemarin. Objek gue ketemu.” Dia mengeluarkan sesuatu dari
tasnya.
“Nggak
sopan deh! Jadi lo yang motret gue diem-diem itu hah? gue juga ngerasa ada yang
motret di loby sama parkiran, tapi gue nggak peduli. Ngapain lo ngikutin gue
segala? Orang aneh!” ketus Nina.
“Ya
gue pengen dapetin sesuatu yang natural aja, kalau gue ijin sama lo dan meminta
lo nangis atau senyum pasti hasilnya beda ketimbang gue cari ekspresi lo yang
dateng dari hati sendiri.” Laki-laki itu tersenyum manis. Nina baru sadar
laki-laki itu bisa dibilang tampan. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, halisnya
hampir menyatu, Nina yakin kalau laki-laki itu dipangkas rambutnya, ia pasti
mirip Mario Maurer bintang Thailand itu.
“Hmm
ya terus ngapain lo bawa gue kesini?”
Laki-laki
itu menunjukkan beberapa kanvas, kanvas pertama adalah lukisan close up wajah
yang sedang menangis dan ada air mata di pipinya. Nina terkesiap, lukisan itu
seperti benar-benar jiplakan dirinya. Mirip sekali. Jantung Nina berdetak lebih
cepat tanpa alasan. Kanvas kedua, masih close up dan kali ini dengan wajah yang
tersenyum lebar sekali. Lagi-lagi wajah itu memang Nina. Dan kanvas ketiga
adalah wajah Nina yang datar, yang tampak sedang melamunkan sesuatu.
“Waw,
keren banget sumpah.” Nina masih ternganga.
“Makasih.
Dan semua ini buat lo, tugas ini udah dinilai dan gue mau ngasih ke orang yang
lebih berhak dari gue. Yaitu lo. Anggap aja ini royalti karena lo udah membantu
gue dapetin nilai A.”
“Eh
tapi kan ini lo yang lukis, tapi gue mau banget sih majang ini di kamar gue
hehe” Nina masih asik melihat lukisannya.
“Iya
nggak apa-apa ko, gue lebih milih simpen yang asli.”
“Maksudnya?”
tanya Nina. Laki-laki itu mengeluarkan banyak sekali lembar foto mungkin
jumlahnya puluhan.
“Hey
itukan foto gue, ngapain lo simpen? Jangan bilang lo mau jual gue.” Nina heran.
“Hahah
ya nggak lah, mana ada gue jual barang yang gue pengen.” Nada bicaranya datar
sekali.
“Hahhh???
Barang?? Kurang asem ya lo!!” Nina menarik rambut gondrong laki-laki itu dan
mendadak tertawa.
“Kenapa
lo ketawa?” tanya laki-laki itu.
“Hahahaha
rambut lo ko mirip sapu ijuk warna kuning mirip nyokap gue ya? hahahah” Nina
masih tertawa puas. Laki-laki itu hanya memicingkan matanya.
“Iya
deh maap, bercanda kali.”
“Nggak
apa-apa kok, lanjutin gih ketawanya, 5 menit lagi aja.”
“Hah?
buat apa? gue udah nggak pengen lagi ketawa.”
“Lo
tau? Ketika gue ngelukis wajah lo. Gue lebih bernyawa saat ngelukis wajah lo
yang tersenyum lebar. Lo bukan lahir untuk menangis. Saat lo nangis atau
ngelamun, wajah lo tuh ya lebih mirip Omas hahaha nggak ini serius beneran,
maksud gue lo cantik. Dan lo harus percaya sama seniman yang bilang lo cantik.
Kecantikan lo itu disaat lo tersenyum, tapi sebenarnya lo nangis sama datar
juga gue bisa bilang lo tetep cantik. Tapi, disaat lo cantik karena tersenyum
lo bisa buat gue ngerasa jadi cowok ganteng sedunia. Disaat lo cantik karena
nangis, lo bikin gue nggak PD untuk apa yang gue punya. Makanya coba liat,
nilai A gue lebih karena lukisan senyum lo. Dan foto-foto yang gue punya lebih
banyak yang lo lagi senyum waktu lo main layangan. Jadi nggak usah lo nangis
lagi ya cantik. Ngerti?”
Nina
tak bereaksi, ia tidak ingin laki-laki itu berhenti bicara. Percayalah, apa
yang dikatakan laki-laki itu seperti obat bius yang menyembuhkan luka. Luka
hati. Nina tenggelam karena suara laki-laki itu masih terngiang jelas,
Lo cantik.. barang yang
gue pengen.. lo bukan lahir untuk menangis..
Akhirnya
Nina sadar dan kembali ke dunia nyata ketika laki-laki itu memotret dirinya dan
menimbulkan cahaya yang menyilaukan mata.
“Ihh
jail banget sih.” Ujar Nina. Laki-laki itu bersiap-siap untuk pergi,
“Nih
satu foto buat lo, gue duluan ada kelas soalnya,” dan ia pun pergi menjauh.
Nina
masih tidak bisa bergerak, ia tidak yakin bahwa kejadian tadi adalah kenyataan.
Tapi ia sama sekali tidak sedang bermimpi. Ia memandang satu foto yang
dipegangnya. Ternyata wajah Nina yang sedang tertawa lepas. Foto ini diambil
saat ia sedang main layangan kemarin. Dibelakangnya terdapat kalimat,
Teruntuk kamu, Nina
Amalia Desinta. Cewek yang lahir untuk tersenyum. Karena gue pengen ngerasa
jadi orang ganteng setiap hari, jadi besok gue tunggu lagi disini, di tempat
ini jam 4 sore. Karena lo pasti pengen tau nama gue siapa.
Nina
tersenyum geli,
Bener juga, gue bahkan
lupa nanyain nama dia selama ini. Ya ampun, dia tuh ya... penuh kejutan banget.
Niat banget. Apa ini tanda? Tanda kalau gue memang harus move on. Dia jauh
lebih baik dari Yoga, dia menghargai gue. Dia tulus. Dia ahhh kenapa jadi dia
terus. Luka ini beneran jadi jangka pendek.
Nina
menoleh ke arah sekitar memastikan tidak ada yang memotret secara diam-diam
kali ini. Akhirnya Nina pulang, berharap ada mesin waktu yang langsung kepada
waktu jam 4 sore. Hari ini sangat spesial, kesempatan untuk move on itu sangat
nyata. Jatuh cinta memang tidak mengenal waktu apalagi alasan, jatuh cinta
hanya perlu kesempatan dan ketulusan. Untuk apalagi sibuk memikirkan orang yang
hanya bisa membuatmu menangis, sedangkan masih ada seseorang di luar sana yang
bisa membuatmu tersenyum bahagia. Tinggal perlu mencari dan mengalihkan diri
dari luka, dan akhirnya,
Bye Yoga, sekarang lo
cuma temen sekelas gue.
Nama : Aida Nur Hidayah
Alamat
: Komplek Taman Kopo Indah I Blok. E 241, Rt 09 Rw 15, kecamatan margahayu,
Kabupaten Bandung Jawa Barat.
No.
Tlp : 083820626846
FB : Aida Nur Hidayah
Twitter
: @aidanurhidayah1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar