Bahkan aku mengingatmu selalu mengingat semampuku.
Dan kemampuanku tak pernah habis untuk mengingatmu.
Ketika kacamataku turun,
dan ketika dirimu menaikannya (lagi) ketempat asalnya, bola mataku,
langsung melesat kearah dua titik hitam matamu, dengan bantuan cahaya aku bisa melihat semuanya,
ada sebait ungkapan tersirat dari matamu. Ada segumpal keraguan yang selalu melanda air
mukamu, yang membuatku selalu khawatir,
adakah aku bisa menepis semua keraguanmu itu. Dengan segala cara meskipun jumlahnya beribu-ribu,
aku sanggup menempuhnya asal aku bisa membinasakan keraguanmu.
Apalagi yang patut dirimu ragukan daripada aku,
sesulit itukah aku untuk dimengerti? Dipercayai?Jika ribuan diksi dari mulutku sudah lagi tidak mempan untuk membuatmu berteguh hati,
apalagi yang aku bisa lakukan, hatiku? Dirimu menginginkannya? Bukankah sudah kuberikan tanpa perlu lagi dirimu pinta,
apakah sungguh dirimu belum merasakannya?
Adakah hakku untuk mendapatkan kepercayaan dari dirimu seuutuhnya? Karena itu
yang paling aku butuhkan, untuk membangun semuanya, berikanlah,
kelak aku akan gunakan itu sebagai pondasi akan segala khayalan kita.
Berkhayal denganmu,
merupakan sebuah kebahagiaan, namun aku tidak ingin semuanya seperti angin,
tercipta datang dan pergi,
biarlah semuanya menjadi kenyataan dengan takdir Tuhan dan waktu.
Sampai kapan aku harus menatap keraguan dari balik
bola matamu, mungkinkah kita ditakdirkan sebagai dua mawar dalam satu tangkai berduri
yang tumbuh dengan pot yang sama, udara yang sama dan air yang sama.
Saling diam namun sebenarnya saling menatap, berlawanan arah namun dengan garis akhir
yang sama beserta rintangan yang sama. Mungkin, mungkin kini memang kita berada dalam satu wadah
yang sama, lantas apalagi yang pantas dirimu ragukan?
Aku didekatmu dengan segala
rasa. Aku tahu tentang kamu dan sebaliknya,
lantas mengapa keraguan itu masih ada seolah aku jauh di negeri antah berantah yang
tidak bisa dirimu jangkau?Hidup terus melaju, bagaimana jadinya bila aku atau kamu tiba-tiba pergi dan menghilang,
berbicara terhalang awan, mengingat dalam wujud yang tidak lagi saling menatap,
bagaimana jadinya jika saat itu tiba dan masih ada keraguan dari dirimu? Akankah ‘jauh’
akan menghilangkan keraguanmu jika ‘dekat’ saja masih ada. Katakan, apa yang
harus aku lakukan lagi.
Aku akan selalu menjadi aku,
dengan pendirian dan pemikiranku.
Jangan merubah apa-apa yang sudah menjadikan aku sebagai aku. Karena aku akan selalu menjadi aku,
karena aku mencintaimu ketika aku menjadi aku.
Dan jika dirimu selalu mempertanyakan, siapa sebenarnya yang menciptakan keraguan itu dan jawabannya selalu dan selalu aku, adakah itu membuatmu benar-benar tidak ingin pecaya lagi? lalu bagaimana dengan dirimu sendiri, mengapa kamu tidak menjadi aku saja percaya lagi dan percaya setelah kamu pun membuat aku ragu berulang-ulang, mencintai dengan memercayai, seseorang akan merasa dicintai apabila ia dipercayai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar